Loading...
You are here:  Home  >  Seni & Budaya  >  Artikel ini

DPRD Blora Bahas Penutupan Tobong



Reporter:    /  @ 01:54:48  /  20 Oktober 2014

    Print       Email

Tobong pembakaran batu gamping diprotes warga Desa Gayam, Kecamatan Bogorejo. DPRD akan membahas tuntutan warga, mengenai penutupan pabrik itu. (KORAN MURIA)

BLORA – DPRD Blora masih mengkaji dan membahas, terkait tuntutan warga Desa Gayam, Kecamatan Bogorejo tentang penutupan tobong atau tempat pembakaran batu gamping. Hal itu dilakukan, setelah anggota DPRD Blora meninjau langsung tempat tersebut.

Ketua DPRD Blora Bambang Susilo dan pihak terkait, masih mengkaji data yang dikumpulkan di lapangan. Data yang didapat tersebut, akan dikaji lebih lanjut.

”Kami akan bahas dulu penutupan tobong itu. Kita juga minta pemkab, untuk menelusuri bagaimana perizinan dan kelayakannya,” kata Bambang, kemarin.

Politisi Partai Demokrat itu menjelaskan, keluhan dari warga tersebut pasti ada penyebabnya. Sehingga, pihaknya tidak ingin gegabah di dalam memutuskan persoalan tersebut. ”Pihak terkait itu harus tahu kondisi di lapangan, agar tidak salah membuat kebijakan,” imbuhnya.

Dari data di lokasi menyebutkan, tobong untuk produksi batu gamping berada di RT 1, RW 02 Desa Gayam, Kecamatan Bogorejo. Tobong beroperasi penuh selama 24 jam setiap hari, dan berada tepat di permukiman warga. 

Warga mengeluhkan debu, suara dan bau yang ditimbulkan dari pembakaran batu gamping tersebut. Salah satu warga, Kasmu menyatakan, tuntutan warga hanya satu, yaitu penutupan tobong tersebut. 

”Kemarin, ada bayi usia enam bulan jatuh sakit. Setelah diperiksa ke dokter, anak itu dinyatakan sakit pernapasan. Diduga, kerap menghirup udara tidak segar dari debu pembakaran batu gamping,” terangnya.

Selama ini, warga merasa belum pernah menandatangani persetujuan sebagai syarat pengajuan izin gangguan (HO) dari beroperasinya tobong tersebut. Diketahui, tobong itu milik Sunarto, warga Surabaya, Jawa Timur. Sunarto membelinya dari Jasman, warga setempat sejak dua tahun lalu. 

”Dulu hanya berupa tobong tradisional. Namun setelah dibeli, tobong diubah menjadi lebih bagus, dan pembakaran tidak lagi menggunakan kayu bakar tapi serbuk gergajian kayu,” jelasnya. 

Di Desa Gayam terdapat delapan tobong. Namun, yang dikeluhkan warga hanya satu tobong milik Sunarto. Sedangkan tobong lainnya, rata-rata masih bersifat tradisional. (Aries Budi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →