Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Sidang Cerai Keliling 2014 digelar di Gubug



Reporter:    /  @ 01:45:19  /  20 Oktober 2014

    Print       Email

GROBOGAN – Pengadilan Agama Purwodadi melakukan sidang cerai keliling hingga ke pelosok desa. Program yang berlangsung sejak dua tahun terakhir itu bertujuan untuk mempermudah warga yang bermukim di daerah pelosok dalam mengurus pengajuan cerai atau talak. Sebab  Grobogan merupakan daerah terluas kedua di Jawa Tengah. 

Wakil Panitera Pengadilan Agama Purwodadi Riyanto mengatakan, sidang keliling tersebut merupakan program yang telah lama dicanangkan Pengadilan Agama setempat. Untuk tahun ini sidang keliling dilakukan setiap Jumat di Kecamatan Gubug. 

”Tahun kemarin digelar di Kecamatan Kradenan. Sedangkan tahun ini di Kecamatan Gubug yang berdekatan dengan Kecamatan Kedungjati dan Karangrayung. Kedua kecamatan itu merupakan wilayah terjauh dari  pusat pemeritahan.” katanya.

Ia menjelaskan, bagi warga yang akan mengajukan sidang harus terlebih dulu mendaftar atau biaya panjar perkara di Pengadilan Agama Purwodadi. Hal itu sesuai dengan Surat Keputusan Ketua Pengadilan Agama Purwodadi Nomor : W11-A3/2333/KU.04.2/IX/2012 tentang panjar biaya perkara. 

”Untuk biaya pendaftaran ditentukan per radius sesuai dengan jarak terdekat, sedang,  dan jauh. Jadi biayanya semakin jauh agak lebih mahal. Kami juga sudah menempelkan uraian itu di papan informasi sehingga masyarakat bisa lebih paham,” ucapnya.

Kasus perceraian di Pengadilan Agama Purwodadi selama September 2014 tercatat sebanyak 116 cerai talak. Sedangkan gugat cerai dari pihak istri mencapai 221, sedangkan dispensasi nikah sebanyak 21 perkara. Jumlah tersebut termasuk kategori tertinggi di Jateng.

”Kabupaten Grobogan menjadi salah satu daerah dengan tingkat perceraian tertinggi di Jateng, termasuk dibanding Semarang,” ujar Wakil Panitera Pengadilan Agama Purwodadi Riyanto, kemarin.

”Tingginya kasus perceraian di Grobogan antara lain faktor cemburu karena adanya pihak ketiga dalam rumah tangga, tidak harmonis, dan ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, sebagian besar istri yang mengajukan cerai karena di tinggal suami yang bekerja di perantauan dan tidak memberkan nafkah selama berbulan-bulan. Karena dianggap menelantarkan istri, maka mereka mengajukan cerai ke Pengadilan Agama.

”Saat menikah rata-rata mereka sudah berusai di atas 18 tahun dengan pendidikan mayoritas tamatan SD dan SMP,” terangnya. (Nurokhim/Sumarni)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →