Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Dari Desa Terpencil Lahirkan Gaung Perdamaian Dunia



Reporter:    /  @ 01:33:02  /  20 Oktober 2014

    Print       Email

Gong perdamaian dunia yang telah berusia sekitar 450 tahun masih nampak gagah, karena selalu dilakukan perawatan rutin setiap hari dan perawatan khusus sepekan sekali. (KOMA / Titis Ayu)

Museum Gong Perdamaian Dunia, mungkin keberadaannya belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Karena keberadaan museum yang terletak sekitar 22 km dari pusat kota Jepara itu, hanya bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi. Memang cukup menyulitkan bagi wisatawan luar kota, untuk menempuhnya.

Museum itu berada di sebelah barat di lereng Gunung Muria di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara. Tempat itu di kenal dengan taman cagar budaya Plajan, di tempat itulah terdapat  Gong Perdamaian Dunia. 

Arifin (35) penanggung jawab museum mengatakan, di Desa Plajan pula  seorang tokoh bernama Dr. Djuyoto Suntani di lahirkan  atas perkawinan ibu Musrini dengan bapak Suntani. Djuyoto suntani sendiri adalah seorang presiden komite perdamaian dunia. Sedangkan ibu Musrini adalah pewaris gong generasi ke tujuh. 

Ibu Musrini yang sampai saat ini tinggal di desa Plajan, merupakan keturunan dari pembuat gong. Sampai berada di lereng barat Gunung Muria, gong semula dijadikan sarana dakwah dalam syiar Islam, bagi masyarakat pedalaman di kawasan pegunungan. Yang waktu itu masih primitif, kental menganut kepercayaan animisme.

”Menurut cerita dari pak Djuyoto, gong sakral tersebut sudah berusia 450 tahun. Konon gong tersebut dibuat seorang wali Allah yang berasal dari kerajaan Demak, yang digunakan sebagai sarana dakwah dalam mengajarkan agama Islam,” tuturnya.

Gong perdamaian dunia sebagai satu-satunya sarana yang mampu menyatukan umat manusia di seluruh dunia. Menurut para ahli, Gong Perdamaian dibuat oleh seorang wali pada zaman kerajan Demak. Kerajaan Demak merupakan penerus Kerajaan Majapahit. Ketika benua Amerika masih terbelakang, negara Majapahit sudah maju pesat. Memiliki pengaruh kekuasaan yang besar, membentang di seluruh kawasan Asia tenggara (ASEAN), sampai pantai Timur Afrika (Madagaskar dan Tasnzania sekarang).

Arifin menjelaskan, yang melatar belakangi Djuyoto sangat peduli akan perdamaian adalah, ia memiliki pandangan bahwa manusia hidup di bumi yang sama, minum dari air yang sama, dan menghirup udara yang sama. Namun hal itu rupanya tidak menjadi alasan, terjadinya peperangan antar umat manusia. Bahkan agama yang menjadi pedoman hidup, juga tak mampu menyatukan keturunan kaum adam dan hawa ini. 

”Dari pemikiran itulah, makanya kita butuh sesuatu yang bisa menjadi simbol perdamaian. Dan gong perdamaian dunia itu menjadi jawaban untuk persoalan itu,” katanya.

Ia menambahkan, dengan gong tersebut Djuyoto Suntani berharap bisa menjadi simbol perdamaian sesama umat, bahkan seluruh mahluk di dunia. Karena gong tersebut bukan sembarang gong. Melainkan gong tersebut memiliki filosofi yang sarat akan makna. (Titis Ayu)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →