Loading...
You are here:  Home  >  Seni & Budaya  >  Artikel ini

Industri Gamping Dikeluhkan Warga



Reporter:    /  @ 02:29:17  /  18 Oktober 2014

    Print       Email

Ketua DPRD Blora Bambang Susilo (kiri) bersama perwakilan warga meninjau industri gamping atau tobong, di Desa Gayam, Kecamatan Bogorejo, kemarin. Keberadaan tobong itu dikeluhkan warga sekitar, karena menimbulkan polusi suara dan udara. (KOMA / Wahyu KZ)

BLORA – Warga Desa Gayam RT 01, RW 02, Kecamatan Bogorejo mengeluhkan keberadaan industri gamping yang ada di daerahnya. Pabrik gamping atau yang biasa disebut tobong gamping, membuat warga merasa terganggu dengan polusi yang ditimbulkan. Yakni polusi suara dan polusi udara, yang muncul dari proses pembakaran gamping.

”Saat tengah malam, terdengar suara gemuruh. Kalau siang hari, ada polusi udara yang asapnya sangat bau,” kata salah satu warga, Purnomo (50), kemarin. 

Kepala Desa Gayam Agung Dewantara mengatakan industri gamping itu, beroperasi selama 24 setiap harinya. Sehingga, warga tidak bisa beristirahat dengan tenang.

”Industri tobong ini sudah beroperasi selama dua tahun. Awalnya masih sederhana dengan alat manual, sekarang sudah menggunakan mesin,” kata Agung, kemarin.

Menurut Agung, industri tobong tersebut milik Sunarno yang diketahui warga Surabaya, Jawa Timur. Dirinya berharap, persoalan tersebut bisa terselesaikan secara kekeluargaan. 

Sementara itu, Ketua DPRD Blora Bambang Susilo yang mendapat laporan itu langsung turun ke lapangan melakukan pengecekan. Saat peninjauan ke lokasi, politisi Partai Demokrat itu meminta para pekerja di tobong tersebut memerlihatkan cara produksinya. Sebagian pekerja memecah batu gamping, dan sebagian lainnya melakukan pembakaran gamping.

”Kami ingin melihat, proses produksi di tobong itu mengapa dikeluhkan warga. Dari lokasi yang ada, jujur saya belum bisa menilai. Nanti, kami akan memanggil pihak-pihak yang terkait untuk beraudiensi memecahkan masalah itu,” jelas Bambang.

Salah satu pekerja di tobong itu, Guarto, meminta agar pabrik tersebut tidak ditutup. Sebab, pabrik tersebut menjadi tempat mencari nafkah dirinya dan rekan-rekan yang lain.

”Saya minta, pemerintah bisa bijak dengan masalah ini. Kalau pabrik ditutup, saya dan teman-teman makan apa,” harapnya. (Nur Hidayah / Aries Budi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →