Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Mahasiswa yang Berbuku



Reporter:    /  @ 01:35:47  /  18 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh : Al Mahfud

Mahasiswa STAIN Kudus bergiat di Paradigma Institute Kudus 

 

Menjadi mahasiswa sekarang tidak mudah. Niat dan materi saja belum cukup. Dibutuhkan tekad dan keseriusan untuk berhasil dalam menempuh studi di perguruan tinggi. Gaya hidup mahasiswa sekarang yang serba hedonis dan materialistis, membuat banyak mahasiswa mudah larut, dan akhirnya terpengaruh. Keteguhan hati dan niat seorang mahasiswa untuk fokus pada studi di awal masuk kuliah, akan segera mendapat tempaan keras dari lingkungan pergaulannya.

Jika kita mendengarkan kisah para guru atau dosen tentang bagaimana perjuangan atau tirakatnya semasa kuliah, kita akan menyadari; bahwa semuanya sudah jauh berubah. Sekarang, sudah jarang mahasiswa yang berjuang; mencukupi kebutuhan kuliah dan hidupnya dengan bekerja sendiri. Mahasiswa tak ubahnya anak sekolah, yang dibiayai oleh orang tua. Kebutuhan apa pun telah dicukupi orang tua, dan anak (mahasiswa) tinggal kuliah. Itu saja. 

 

Ini semakin membuat mahasiswa sekarang tidak memiliki mental yang kuat untuk bekerja keras, karena semuanya telah tercukupi. Kondisi ini akan membawa mahasiswa pada pola hidup serba instan, tanpa spirit perjuangan. Pada gilirannya, keseharian mahasiswa menjadi kering dari budaya keilmuan; membaca, berdiskusi, meneliti, menulis.

Buku

Contoh mudah adalah soal buku. Buku merupakan kebutuhan pokok bagi seorang elite akademisi, termasuk mahasiswa. Ia hampir seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal bagi manusia. Keluasan pengetahuan, ketajaman menganalisis seorang mahasiswa sangat dipengaruhi oleh sejauh mana ia telah menelusuri buku; membaca, menelaah, menganalisis, memahami, mengungkapkan.

Namun, minat baca di kalangan mahasiswa yang rendah, ditambah lingkungan yang tidak mendukung, membuat mahasiswa tak akrab dengan buku. Mahasiswa lebih memilih menghabiskan waktu senggang di sela-sela jadwal kuliah dengan nongkrong di kantin kampus dan tempat-tempat bersantai lainnya. Perpustakaan bukan menjadi tempat mengisi waktu luang. Aktivitas meminjam atau membaca buku di perpustakaan hanya dilakukan demi memenuhi tuntutan tugas-tugas kuliah. Perpustakaan menjadi tempat yang menjemukan, karena identik dengan tugas kuliah.

Selain minat baca, minat beli mahasiswa terhadap buku juga dapat menjadi gambaran. Kondisi yang terjadi adalah minat beli terhadap buku masih sangat minim. Kebutuhan mahasiswa akan buku, tidak membuat mahasiswa berinisiatif menyisihkan uangnya dan menabungnya untuk membeli buku. Austin Phelps (1820-1890), seorang pendidik asal Amerika pernah mangatakan “pakai baju lama, beli buku baru”. Ini menunjukkan, betapa pentingnya buku ketimbang sekadar membeli baju baru. Pentingnya buku bukan untuk dibandingkan dengan sekadar kebutuhan (keinginan?) memakai pakaian baru.

Namun, kenyataannya adalah sebaliknya. Kebanyakan, mahasiswa lebih tertarik membeli baju baru ketimbang membeli buku. Mahasiswa juga lebih gemar memburu smart phone keluaran terbaru ketimbang memburu buku-buku baru. Buku bukan menjadi “komoditas unggulan” yang digemari mahasiswa, melainkan baju, smart phone, motor, bahkan, mobil. Membaca buku bukan merupakan gaya hidup yang tren di kalangan anak kuliah, melainkan shopping, jalan-jalan, dan gelaran acara seremonial yang kering akan makna spirit keilmuan. 

Sebaliknya, buku adalah beban. Buku hanya dipinjam dan dibeli ketika ia merupakan buku-buku kuliah yang wajib dimiliki; itu pun karena perintah dosen, bukan atas inisiatif sendiri. Lingkungan yang tak akrab dengan buku, minat baca dan minat beli yang rendah, masih mendapat dukungan dengan kemudahan informasi (internet). Tugas-tugas kuliah dengan mudahnya diperoleh dengan browsing, tidak perlu bersusah payah mencarinya dari buku dan pusing-pusing menyusunnya. Lengkap sudah, ketiganya akan saling menguatkan, dan semakin menjauhkan mahasiswa dari buku.  

Berbagai contoh tersebut menandakan mindset mahasiswa dalam berbuku masih belum terbentuk. Buku belum menjadi kebutuhan. Buku masih sekadar benda pelengkap yang hanya berguna ketika mengerjakan tugas dan menghadapi soal-soal ujian dari dosen. Buku hanya didekati ketika ada tuntutan dari dosen. Belum banyak mahasiswa yang punya motivasi dari dalam dirinya sendiri (intrinsik) untuk membaca buku. Gairah berliterasi masih minim, dan akan semakin sulit untuk dibangun, jika tidak segera dimulai. Tentu saja dari diri sendiri.

Mahasiswa yang berbuku, bukan berarti mahasiswa yang ke mana-mana selalu membawa buku. Bukan berarti pula mahasiswa yang mengahabiskan waktu seharian dengan hanya membaca buku, tanpa melakukan kegiatan lain. Mahasiswa yang berbuku berarti mahasiswa yang melek buku. Mahasiswa yang memiliki gairah berliterasi; selalu merasa haus untuk meneguk segarnya pengetahuan dalam tiap halaman-halaman buku, yang selanjutnya menjadi pribadi yang berpengetahuan luas dan kritis dengan keadaan yang dihadapinya. 

Saat ini, mahasiswa baru sedang membanjiri berbagai perguruan tinggi di berbagai tempat. Tentu saja mereka datang dengan berbagai motif, harapan, angan dan impiannya masing-masing. Namun, jika memiliki tekat yang kuat untuk berhasil dalam manjalani studi di perguran tinggi, ini merupakan saat yang tepat untuk memulainya. Memulai berkenalan dengan buku, agar semakin akrab, dan berbuku menjadi sebuah kebutuhan. Semoga.(*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →