Loading...
You are here:  Home  >  Hukum & Kriminal  >  Artikel ini

Ditemukan Dugaan Penyimpangan Anggaran



Reporter:    /  @ 01:47:06  /  17 Oktober 2014

    Print       Email

Sekretaris Dewan Pendidikan Blora Singgih Hartono (dua dari kiri), melaporkan temuan dugaan penyimpangan anggaran di SMKN 1 ke Komisi D DPRD, Kamis (16/10). Dewan Pendidikan mendesak pihak terkait, untuk segera menindaklanjutinya. (KORAN MURIA)

BLORA – Dewan Pendidikan Kabupaten Blora menemukan, dugaan adanya penyimpangan anggaran di SMKN 1 Blora. Karena, sejumlah anggaran yang dibuat salah satu sekolah favorit di Blora itu terdapat sejumlah kejanggalan. Anggaran yang janggal itu, mencuat dalam rencana kerja anggaran sekolah (RKAS). 

”Dugaan penyelewengan bisa terulang, jika tidak keburu ketahuan. Setelah ketahuan, RKAS kemudian diganti dan anggaran yang kami curigai diubah,” kata Sekretaris Dewan Pendidikan Blora Singgih Hartono Blora di hadapan Komisi D DPRD, Kamis (16/10). 

Menurut Singgih, temuannya kemudian diserahkan ke DPRD dengan harapan, anggota dewan bersama pihak yang berwenang menindaklanjuti temuan tersebut. Karena menyangkut instituti pendidikan, dirinya berharap, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) bisa melakukan tindakan. 

”Kalau sampai di internal tapi pemkab tidak memberikan kebijakan apapun, maka kasus ini akan kami bawa ke ranah hukum. Bisa dipidanakan, karena masuk kasus korupsi,” jelas ketua Laskar Ampera Blora itu.

Dia mengatakan, Dewan Pendidikan Blora menerima banyak masukan dan pengaduan dari masyarakat, terkait dengan sejumlah dugaan penyimpangan di lembaga pendidikan. Untuk di SMKN 1 Blora, Setelah ditelusuri ternyata dugaan penyimpangannya sangat kuat. Sekolah tersebut, lanjutnya, dinilai keterlaluan di dalam kelulusan siswa beberapa waktu lalu. Sekolah itu tidak mau menoleransi siswa miskin yang tidak mampu membayar, untuk mendapatkan ijazah. 

”Ada siswa yang tidak bisa membayar uang ijazah Rp 37.500, karena bapaknya sedang sakit keras. Tapi, pihak sekolah tidak mau tahu dan siswa itu tetap diminta membayar jika ingin ijazahnya keluar,” tegas Singgih. (Nur Hidayah / Aries Budi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →