Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Ancaman Pendidikan Nonformal



Reporter:    /  @ 01:57:21  /  16 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Thoillah Musrifah

Mahasiswa Fakultas Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri STAIN Kudus dan Alumnus Ponpes Al-Anwar Sarang Rembang

 

“Dilema”, itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan dunia pendidikan Indonesia saat ini. Sebab, problematika yang terjadi silih berganti, membuat kualitas pendidikan yang ada sering kali dipertanyakan. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa ada juga anak bangsa yang mendapatkan prestasi ketika mengikuti lomba tingkat internasional. 

Namun, itu hanya sebagian kecil dari ribuan juta anak bangsa yang dididik. Jika dikomparasikan, maka selisihnya pun sangat signifikan. Nah, inilah masalah yang kita hadapi, jika menginginkan Indonesia beralih menuju taraf masyarakat madani (masyarakat yang beradab). Sebab, Ali Sariati dan Syeh Abdul Qodir Al-Jailani menempatkan strata paling tinggi bagi cendekiawan yang tercerahkan (ilmu al-ulamak dan rousen fikr).

 

Problematika pendidikan memang sangat beragam. Dari mulai sang pendidik, pelajar yang dididik, dan bahkan kurikulum yang akan diterapkan setidaknya telah mewarnai problematika yang terjadi. Dengan kata lain, pendidikan di negeri ini sedikit banyak telah terkontaminasi oleh problematika yang ada. Dewasa ini, implementasi kurikulum 2013 menjadi pro kontra bagi sebagian kalangan. Pasalnya, kurikulum 2013 yang seharusnya telah diterapkan pada 15 Juli 2013 kemarin, justru membuat pelbagai permasalah melanda dunia pendidikan Indonesia.

 Alhasil, kurikulum 2013 yang diterapkan, setidaknya justru akan mencederai pendidikan nonformal yang ada. Sebab, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa kurikulum 2013 mewajibkan agar selama sepekan, kegiatan pembelajaran dilaksanakan selama 46 jam ditambah 2 jam. Yakni, secara keseluruhan pembelajaran bagi kurikulum ini mewajibkan semingga dalam jangka waktu 48 jam. 

Dan jika dikalkulasi, maka setiap harinya kegiatan belajar mengajar yang telah dicanangkan oleh kurikulum 2013 akan selesai pada pukul dua siang. Padahal, pada rentan waktu tersebut, biasanya kegiatan belajar mengajar no formal seperti madrasah, baik tingkat diniyah, wustho dan aliyah mulai dilaksanakan. Dan setidaknya inilah ironi yang akan membuat dunia pendidikan Indonesia berada pada taraf kecarut-marutan.

Implikasinya, tampak jelas. Bahwa, ketika kurikulum 2013 diterapkan, maka akan merugikan pendidikan nonformal. Dan bahkan, tidak menutup kemungkinan akan membubarkan pendidikan nonformal. Sebaliknya, ketika kurikulum 2013 tidak diterapkan. Maka, sekolah yang tidak menerapkan kurikulum tersebut dirasa justru akan berada pada ketertinggalan. Sebab, tidak mengikuti perkembangan yang ada. Dan sudah selayaknya, ini memang sebuah realitas yang sulit untuk dipilih. Akan tetapi, demi mewujudkan tujuan pendidikan, maka mau tidak mau bisa tidak bisa kebijakan yang akhaffu adh-dhararaini (lebih sedikit madhorotnya) harus direalisasikan.

Akhaffu Adh-Dhararaini

Menilik dari tujuan pendidikan yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, yang berbunyi  tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka, dapat disimpulkan bahwa tujuan pertama dan bahkan paling utama pendidikan Indonesia adalah menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sudah diketahui dan diakui seluruh kalangan, bahwa Indonesa adalah negara dengan skala terbesar masyarakat beragama Islam. Dan sudah menjadi sebuah kewajaran, bahwa pendidikan nonformal merupakan salah satu jalan yang harus ditempuh, guna terwujudnya tujuan utama pendidikan. Sebab, dari adanya pendidikan nonformal inilah anak didik dapat mengetahui cara berislam dan beriman dengan baik dan benar. Walaupun tidak dapat dipungkiri, bahwa didalam pengajaran sekolah formal pun ada mata pelajaran yang menerangkan terkait dengan pengetahuan diatas.

Akan tetapi, sudah selayaknya hanya jangka waktu dua jam dalam seminggu, rasanya belum cukup untuk memahamkan anak didik terkait cara berislam secara kaffah. Maka dari itu, setidaknya langkah pengurangan jam beajar mengajar pada kurikulum 2013 harus dibatasi. Sebab, ketika jiwa intelektual tidak dibarengi dengan spiritual. Maka, sudah barang tentu hanya akan menjadi fatamorgana semata. Idealitas tersebut nampak jelas, ketika kita berkaca pada zaman Arab pra Islam.

Walaupun sebelum datangnya Islam masyarakat Arab pagan telah memiliki berbagai kecerdasan dan peradaban. Baik dari kecerdasan linguistik, yang mampu membuat syair-syair yang sudah barang tentu menggetarkan hati para pendengarnya. Kemudian kecerdasan finansial, yang dapat dibuktikan dengan cakapnya masyarakat arab dalam mencari uang lewat perdagangannya. Kecerdasan intelektual, dalam memahami realitas yang terjadi dalam kabilah-kabilah. Dan masih banyak yang lainnya. Akan tetapi, karena tidak memiliki jiwa spiritual. Maka, mereka tetap saja disebut sebagai masyarakat jahiliyah (Baca: Sirah Nabawiyah).

Padahal, jika dipikir secara rasional. Maka, masyarakat yang sudah barang tentu cerdas dalam berbagai aspek tersebut tidak pantas disebut sebagai masyarakat jahiliyah. Akan tetapi, sesuai dengan konvensional yang ada, dan dilandasi dengan sejarah yang terjadi. Maka, masyarakat yang notabene berada pada taraf kesempurnaan tersebut, justru tercederai akibat tidak memiliki pengetahuan spiritual yang memadai. Oleh sebab itu, untuk menghindari adanya realitas yang sangat menyayangkan tersebut. Maka, setidaknya kebijakan yang akhoffu adz-dzararaini adalah membatasi jam kurikulum 2013. Sebab, hal ini tentunya akan membuat masyarakat Islam jauh mengenal dunia keisalamannya dengan kaffah dan benar. Wallahu a’lam bi al-sowab.(*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →