Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

KP2KKN Minta Ganjar Hentikan Pencitraan



Reporter:    /  @ 01:17:49  /  16 Oktober 2014

    Print       Email

KOTA SEMARANG – Sekretaris Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah Eko Haryanto, dalam forum sama mengkritik Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Gubernur asal PDIP tersebut dinilai sering tidak mendengarkan masukan dan kritikan pihak lain. Ada kesan, dia merasa dirinya lebih pintar.

Dikutip dari Antara, dalam diskusi bertema “Membangun Komunikasi Efektif Eksekutif, Legislatif, dan Pers” di Semarang, Rabu (15/10) kemarin, ia minta orang nomor satu di Jateng itu menghentikan pencitraan dan fokus pada realisasi janji-janji yang pernah disampaikan pada saat kampanye Pilgub 2013. 

Sebelumnya wartawan senior Sunu Adhi P mempertanyakan janji Ganjar yang mau membagikan kartu petani dan nelayan Jateng namun hingga sekarang belum juga terealisasi.

Gubernur Jateng juga diundang sebagai pembicara dalam diskusi tersebut. Namun tidak bisa hadir karena dalam waktu sama menerima kunjungan anggota Komnas HAM. Kedatangan Komnas HAM ke Semarang untuk membahas rencana pembangunan PLTU Batang dan pabrik semen di Jateng.

Di tempat yang sama, politikus Partai Gerindra Jateng Sriyanto Saputro mengajak pers nasional melakukan pertobatan. Karena, selama masa kampanye Pemilu Presiden 2014 hingga menjelang pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden RI, banyak yang melakukan pelanggaran Kode Etik Jurnalistik.

”Saya melihat pers menjadi partisan. Saya juga melihat bahwa PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) tak berkutik menghadapi pers partisan. Yang kemudian muncul malah Forum Pemred (Pemimpin Redaksi) di Jakarta,” kata Sriyanto 

Menurut mantan Ketua PWI Jawa Tengah dan Pemimpin Redaksi Wawasan tersebut, organisasi profesi seharusnya ikut menjaga independensi media. Bukan malah menjadi pelaku dan membiarkan terus terjadinya praktik jurnalisme partisan.

Sriyanto yang kini menjadi anggota DPRD Jawa Tengah itu memberi contoh betapa banyak media secara terencana dan berkelanjutan memberitakan kesalahan demi kesalahan Prabowo Subianto, calon presiden yang dikalahkan oleh Jokowi. ”Apa pun yang dilakukan oleh Prabowo selalu dinilai salah. Sedangkan capres lain mendapat dukungan. Lantas di mana Kode Etik Jurnalistik,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengajak pengelola media beserta pemiliknya bertobat. Agar, tidak terjerembab kembali dalam praktik jurnalisme partisan seperti terjadi selama menjelang pilpres hingga menjelang pelantikan presiden baru.

Ketua AJI Kota Semarang Rofi Uddin, mengutip wartawan senior Goenawan Mohamad, dalam forum sama menegaskan kebenaran bisa datang dari siapa saja. ”Karena itu, wartawan harus menjaga hubungan baik dengan siapa saja,” ujarnya. (Sundoyo Hardi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →