Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Muslimin dan Rudhi Menyusul Dibui



Reporter:    /  @ 02:54:33  /  15 Oktober 2014

    Print       Email

Muslimin terlihat duduk terkulai di dalam kendaraan tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus, sebelum dibawa ke Rutan Kudus, kemarin (14/10). Dia bersama Rudhi Maryanto akhirnya menyusul tiga tersangka lain yang sudah terlebih dahulu ditahan. (KOMA / Merie)

KUDUS – Tersangka kasus dugaan korupsi pada proyek pengadaan logistik tahun 2012 di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus yang ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari), bertambah. Ini menyusul tiga orang tersangka lain yang sudah terlebih dahulu ditahan.

Keduanya adalah mantan Ketua Panitia Penerima Hasil Pekerjaan Rudhi Maryanto dan rekanan proyek tersebut Muslimin. Mereka ditahan Selasa (14/10) kemarin, sekitar pukul 14.00 WIB. Penahanan itu dilakukan, setelah keduanya mendatangi panggilan kejaksaan untuk diperiksa sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Rudhi sendiri datang kurang lebih pukul 09.00 WIB bersama dengan penasihat hukumnya. Sedangkan Muslimin, menyusul dua jam kemudian, kurang lebih pukul 11.00 WIB, juga dengan penasihat hukumnya. Mereka lantas menjalani pemeriksaan di ruang yang sudah disediakan.

Sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa keduanya akan ditahan. Kepala Kejari (Kajari) Amran Lakoni mengatakan bahwa, kemarin memang adalah jadwal dari keduanya untuk datang memenuhi panggilan pemeriksaan. ”Kita kan, sudah panggil dua kali mereka. Yang R (Rudhi, red) ini memang sudah datang terus. Kalau yang M (Muslimin, red), kita harapkan juga kooperatif datang,” terangnya.

Kepastian akan ditahannya keduanya, baru terlihat pada siang harinya. Amran sendiri yang kemudian menginformasikan bahwa memang akan ada penahanan siang itu. ”Ya, kita memang akan menahan. Itu sudah kita putuskan,” katanya.

Usai pemeriksaan kesehatan dan penandatanganan penahanan oleh kajari, keduanya kemudian keluar dari ruangan pemeriksaan, menuju ke kendaraan yang sudah disediakan kejaksaan.

Tidak ada keterangan apapun yang kemudian disampaikan kedua tersangka, saat menuju ke mobil tahanan. Bahkan, Muslimin terus menerus berlindung di belakang tubuh penasihat hukumnya, Khumaidi, untuk menghindari sorot kamera para wartawan. Sosoknya terlihat kuyu, berbeda dengan saat kedatangannya pertama. Sementara Rudhi, meski tenang, namun tidak ada sepatah katapun yang keluar. Mereka berdua kemudian dibawa ke Rumah Tahanan (Rutan) Kudus.

M Khumaidi, pengacara Muslimin, juga tidak berkomentar banyak mengenai hal ini. Dia hanya mengatakan jika pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan kliennya mengenai hal tersebut. ”Yang jelas, saya sekarang mewakili juga klien kami Bapak Muslimin. Jadi ada tiga orang yang kami wakili. Yakni Pak Sudiarso, Pak Sugiyanto, dan Pak Muslimin. Nanti sajalah kami akan memberikan keterangan,” katanya.

Sedangkan penasihat hukum Rudhi, Andreas Hariyanto yang ditunjuk oleh lembaga Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Provinsi Jawa Tengah, mengatakan jika sampai kemarin pihaknya tidak mengerti, kenapa kliennya harus diikutsertakan sebagai tersangka dalam kasus ini. ”Seluruh prosedur yang ada, sudah dijalankan oleh klien saya sebagai Panitia Penerima Hasil Pekerjaan. Secara dokumentasi, secara aturan, sudah dilakukan. Lantas, salahnya di mana,” katanya.

Andreas juga mengaku jika kejaksaan terlalu tergesa-gesa dalam melakukan proses penahanan terhadap kliennya tersebut. Bahkan, disebutnya sebagai sesuatu yang berlebihan. ”Apa yang kemudian tidak dilakukan klien kami? Dia sudah meneliti seluruhnya, dan sesuai dengan prosedur. Kenapa masih juga harus dikaitkan dengan kasus ini. Kami tidak paham betul mengenai hal ini. Tapi, soal penahanan itu kan, wewenang kejaksaan ya. Kita hargai itu,” jelasnya.

Andreas juga mengingatkan soal kerugian negara atas kasus itu, yang kemudian sampai saat ini belum diketahui, karena masih dihitung Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP). ”Kerugian negara apa coba dari kasus ini. Hitungannya juga mana. Kalau yang kita dengar kan, nilai kerugiannya Rp 193 juta, ya. Tapi apakah kemudian itu sudah benar, sudah keluar. Itu yang kita tanyakan,” paparnya.

Mengenai apa yang disampaikan penasihat hukum Rudhi tadi, Kajari Amran menegaskan jika pihaknya hanya ingin mempercepat dan mempermudah jalannya pemeriksaan. ”Biar cepat selesai saja. Kalau berkasnya rampung semua, kita limpahkan saja ke Tipikor. Dan lagi, masak tiga tersangka yang lain ditahan, yang dua ini tidak. Nanti dikira kita ada apa-apa. Semuanya samalah perlakukannya,” imbuhnya. (Merie) 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →