Loading...
You are here:  Home  >  Seni & Budaya  >  Artikel ini

GMM Butuh Waktu untuk Kembali Beroperasi



Reporter:    /  @ 02:28:57  /  15 Oktober 2014

    Print       Email

Pabrik gula yang dikelola PT GMM ketika giling perdana awal Juni lalu, kini sementara berhenti. Karena, salah satu boiler ada yang ngadat.

BLORA – General Manajer (GM) PT Gendhis Multi Manis (GMM) yang mengelola Pabrik Gula (PG) Blora Edy Winoto membenarkan, kalau saat ini pabrik yang dia pimpin sedang berhenti beroperasi. Hal itu disebabkan, karena ada permasalahan pada mesin, terutama mesin boiler. Untuk perbaikan, pihaknya mengerahkan sejumlah teknisi khusus, guna melakukan perbaikan. 

”Ada bagian-bagian yang harus diperbaiki, dan dilakukan pemeliharaan. Jadi, kami perlu waktu cukup lama,” kata Edy, kemarin.

Menurutnya, pabrik tetap menerima tebu milik petani, meskipun dalam jumlah yang sedikit. ”Daripada berhenti total, kami terpaksa giling meski masih sedikit,” jelasnya.

Edy menambahkan, jika tidak terjadi kendala, pabriknya bisa menerima sekitar 1.500 ton hingga 2 ribu ton tebu per harinya. Secara bertahap, bisa ke produksi puncak sampai 6 ribu ton per hari. 

”Mudah-mudahan, nanti langsung pada produksi puncak 100 sampai 200 truk per hari. Yang terpenting, kondisi mesin dalam keadaan prima,” tegasnya.

Diketahui, akibat mesin boiler milik GMM ngadat, banyak petani tebu tidak bisa memasukkan hasil panennya ke pabrik yang berlokasi di Kecamatan Todanan itu.  Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora Anton Sudibyo mengatakan, saat ini banyak lahan tebu yang belum bisa dipanen, karena menunggu pabrik bisa giling maksimal. Akibatnya, sekitar dua ribu hektare lahan tebu yang mestinya sudah ditebang sejak dua bulan lalu hanya dibiarkan saja.

”Kalau ditebang sekarang, pilihannya dijual di luar Blora dengan harga tebu yang murah. Ini jadi persoalan tersendiri bagi petani,” jelas Anton. 

Sementara itu, salah satu petani tebu asal Tunjungan, Bowo mengaku kecewa karena janji yang diberikan manajemen GMM belum terealisasi sampai sekarang. Ia mengaku punya lahan seluas lima hektare, dan sangat sulit menjual tebunya ke GMM. 

”Pabrik hanya mementingkan dan mendahulukan petani tebu, yang jadi binaannya. Kalau menunggu tebu petani binaan habis, terus giliran kami kapan,” terang Bowo. (Aries Budi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →