Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

PDAM Kabupaten Kudus Selamatkan Rp 1,2 Miliar



Reporter:    /  @ 01:52:41  /  15 Oktober 2014

    Print       Email

KUDUS – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kudus terus melakukan upaya menekan angka kebocoran air atau non revenue water (NRW) pada jaringan distribusi ke pelanggan. Upaya itu antara lain dengan melakukan peremajaan jaringan saluran air, dan memperbaiki sistem untuk menghindari terjadinya illegal connection (sambungan liar) atau pencurian air.

Direktur PDAM Kabupaten Kudus Ahmadi Syafa mengatakan, tingginya angka kebocoran itu, akibat pipa jaringan yang usianya sudah tua. Sehingga mudah pecah ketika terjadi tekanan air yang tingga. Selain itu, pecahnya pipa juga biasa terjadi akibat terjepit akar pohon dan tekanan lain dari luar. 

”Mengingat usia pipa yang sudah tua, tekanan air kita batasi maksimal 12 bar. Sebanyak 85 persen usia pipa kita di atas 15 tahun. Saat ini kami baru bisa melakukan peremajaan sekitar 5- 7 persen. Untuk mengganti semuanya butuh waktu lama,” ujarnya.

Selain akibat bocornya pipa yang kadang tidak terdeksi, tingginya NRW dipengaruhi oleh tindakan oknum pelanggan dan warga yang melakukan pencurian menggunakan sambungan di luar alat meter. Pembersihan dan pemasangan pipa jaringan baru juga membuat banyak air terbuang atau hilang.

Pada tahun 2013, rata- rata NRW selama setahun sebesar 24 persen. Atau kerugiannya jika dinominalkan uang mencapai Rp 2,8 miliar, atau Rp 400 juta per bulan. Tahun 2014 ini, pihaknya menargetkan tingkat NRW rata- rata maksimal 23 persen. Tetapi melihat tren positif selama beberapa bulan terakhir, rata- ratanya bisa ditekan hingga angka 20- 21 persen.

”Kami berharap angka NRW bisa turun hingga hanya 20 persen. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, angka NRW dipatok maksimal 20 persen. Dengan angka NRW tersebut, potensi kerugian yang dapat kami selamatkan dibanding NRW sebelumnya selama satu tahun mencapai Rp 1,2 miliar, atau Rp 100 juta per bulan. Nilai kerugian rata- rata perbulan turun dari Rp 400 juta, menjadi Rp 300 juta,” jelasnya.

Ditambahkan, tantangan terberat PDAM Kudus ke depan yaitu harus menanggung beban biaya tagihan listrik yang setahun bisa mencapai sekitar Rp 4 miliar. Jika dihitung rata- rata per bulan antara Rp 330 juta hingga Rp 350 juta, setelah adanya kenaikan biaya energi sebesar Rp 15 persen. Sebelumnya, biaya tagihan listrik per bulan rata- rata Rp 300 juta.

Sementara proyeksi beban biaya operasional PDAM Kudus tahun 2014 mencapai Rp 18,5 miliar. Sehingga untuk mendapatkan laba, pemasukannya juga harus bisa melampaui beban biaya operasional tersebut. ”Kalau NRW turun, kami dapat menambah pemasukan dari penjualan air yang hilang. Potensi kerugian yang dapat kami selamatkan, bisa untuk menutup sebagian biaya operasional,” ungkapnya.

PDAM Kudus terus menambah jaringan dengan target tahun 2014 ini dapat menembus angka 32 ribu pelanggan. Saat ini jumlah sumur produksi yang dimiliki sebanyak 41 buah, namun  yang aktif bisa digunakkan hanya 39 buah. Dua sumur tidak berfungsi, satu terletak di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, dan satu lainnya sumur di bak penampungan (reservoar) di Gang 29, Undaan Kidul, Kecamatan Undaan.

”Sumur di Gondosari mati dan tidak keluar airnya, mungkin disebabkan adanya pergeseran lapisan tanah sehingga sumber air berpindah. Sedang di sumur di Undaan keluar air tetapi payau, sehingga tidak dapat digunakan untuk konsumsi pelanggan,” katanya. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →