Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

KIH Sulit Berharap Golkar Merapat



Reporter:    /  @ 01:27:16  /  15 Oktober 2014

    Print       Email

KOTA SEMARANG – Analis politik dari Universitas Diponegoro Semarang Susilo Utomo menilai, berat mengharapkan Partai Golkar bersedia merapat ke Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Meskipun, di kubu KIH terdapat sosok Jusuf Kalla (JK).

”Meskipun JK pernah menjadi Ketua Umum Golkar, berat bagi JK untuk merangkul kekuatan Golkar merapat ke KIH. Kelompok pendukung JK di Golkar sudah tidak banyak lagi,” kata Susilo Utomo kepada Antara, Selasa (14/10).

Karena itulah, memang sulit mengharapkan Golkar merapat. Peluang KIH untuk menambah kekuatan sekarang ini sebenarnya lebih bisa diharapkan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrat.

Menurut dia, kelompok yang dekat dengan JK kalah dibandingkan kelompok yang dekat dengan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie. Ia menyebutkan barisan yang dekat dengan JK sekarang ini hanya tinggal beberapa orang. Apalagi setelah Surya Paloh memutuskan mendirikan parpol sendiri, yakni Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

”Kalau dulu masih ada Surya Paloh yang dekat dengan JK. Tapi kan sudah tidak lagi di Golkar dan mendirikan Nasdem. Paling hanya tinggal beberapa orang, di antaranya Agung Laksono,” lanjutnya.

Menurut pengajar FISIP Undip itu, JK sebagai mantan Ketua Umum Golkar memang diharapkan berperan menarik Golkar merapat ke barisan KIH. Tetapi peta politik di Golkar sekarang sudah berbeda.

Begitu juga dengan rencana pelaksanaan musyawarah nasional (munas) Golkar. Untuk pemilihan ketua umum yang baru, bisa diprediksikan yang terpilih adalah figur dari kelompok yang pro-Ical. 

”Walaupun yang terpilih figur dari kelompok yang pro-Ical, hubungan politik Golkar dengan Koalisi Merah Putih (KMP) bisa saja berbeda. Tidak seperti ketika masih dipegang Ical,” imbuh Susilo.

Akan tetapi, ia mengatakan tetap saja sulit untuk mengharapkan Golkar sepenuhnya merapat ke KIH bersama-sama dengan PDI Perjuangan, Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hanura, dan PKPI. Ia menambahkan, seiring perkembangan situasi politik, tentu saja pemetaannya bisa berbeda. Ini seperti yang pernah terjadi dalam Munas Golkar tahun 2004 di Bali. Ketika itu, JK sukses terpilih sebagai ketua umum.

”Akbar Tandjung kan bisa dibilang pemimpin Golkar yang sukses. Tetapi ternyata kalah dari JK dalam pemilihan ketua umum ketika itu. Ya, peta politik bisa saja berubah setiap waktu,” terang dia. (Sundoyo Hardi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →