Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Gangguan Jiwa Bisa Terjadi Pada Anak-anak



Reporter:    /  @ 01:19:55  /  15 Oktober 2014

    Print       Email

Gangguan jiwa pada anak-anak merupakan hal yang banyak terjadi, yang umumnya tidak terdiagnosis dan pengobatannya kurang memenuhi syarat. Masalah kesehatan jiwa terjadi pada 15% sampai 22% anak-anak dan remaja. Namun yang mendapatkan pengobatan jumlahnya kurang dari 20%. Gangguan hiperaktivitas-defisit perhatian (ADHD/ Attention Deficit-Hyperactivity Disorder) adalah gangguan kesehatan jiwa yang paling banyak terjadi pada anak-anak, dimana insidensinya diperkirakan antara 6% sampai 9%.

Nur Halimah terapis anak dan pendiri Yayasan Cahaya Kudus mengungkapkan, untuk mendeteksi sejak dini para orang tua harus memperhatikan tahapan tumbuh kembang anak. Yaitu dengan memperhatikan perkembangan emosional sang anak sejak usia nol. 

”Ada tiga tahapan perkembangan emosional pada anak. Di antaranya pada usia nol hingga delapan minggu. Tahap ini banyak dipengaruhi oleh emosi (impulsif) dan emosi ini berkaitan dengan indrawi. Delapan minggu hingga satu tahun, ditahap ini perasaan atau afeksinya sudah berkembang,” paparnya.

Ia menjelaskan, pada usia tersebut perasaan senang tidak senang jasmaniah biasanya menjadi perasaan-perasaan marah, jengkel, terkejut, dan takut. Dan di usia satu tahun hingga tiga tahun, emosinya sudah mulai terarah pada orang, benda dan lainnya. Hal ini juga diiringi oleh perkembangan bahasa pada usia 2 tahun.

Nur menjelaskan bagaimana untuk mengenali gangguan pada anak, perhatikan jika sang anak sering menangis. Karena hal itu tentunya berkaitan dengan ketidakstabilan emosi, baik watak maupun suasana hati.

”Amati pada saat anak berada di lingkungan sosial. Apakah kesulitan menyesuaikan diri, lambat dalam pengembangan pemahaman dan penggunaan bahasa. Karena jika sang anak kurang perhatian, imbasnya aktivitas berlebihan, dan impulsif. Pola perilaku, minat, dan kegiatan terbatas pengulangan yang stereotipik. Sehingga mengalami Ketakutan, agresifitas, mencederai diri seperti menggigit atau membeturkan kepala, dan sebagainya,” terangnya.

Banyak faktor yang mempengaruhi gangguan jiwa pada anak. Nur mengutarakan ada dua faktor, yaitu intrinsik dan ekstrinsik.   Faktor intrinsik seperti riwayat genetika keluarga, pengaruh pranatal, metabolisme. Sedang faktor ekstrinsik, terjadi karena kurangnya sifat pengasuhan orang tua pada anak, komunikasi yang buruk disertai dengan model peran yang buruk dari orang tua. 

”Tentu saja reaksi orang tua akan beragam ketika mengetahui anaknya mengalami gangguan jiwa. Yaitu shock/terkejut, terjadi penolakan, sedih dan marah. Hal itu wajar terjadi, tapi orang tua juga harus segera tanggap bagaimana cara mengatasinya,” katanya.

Segera para orang tua melakukan strategi intervensi, yaitu dengan pemeriksaan status anak dari aspek klinis psikiatris dan psikolog. Kemudian menentukan rangkaian target pencapaian yang jelas bagi intervensi yang akan dilakukan. Baiknya perencanaan intervensi mencakup pemahaman orang tua, terhadap pentingnya dukungan dalam keluarga.

”Hal itu tidak lepas dari peranan orang tua dalam mendeteksi dini sang anak. Dengan mengenali anak secara menyeluruh. Waspadai apabila anak mengalami keterlambatan perkembangan atau peyimpangan pada masa perkembangannya.

Ia menyarankan, jika orang tua mendapati kejanggalan pada perkembangan sang anak, segera laporkan dan berkonsultasi dengan dokter, psikiater ataupun psikolog. Yang tak kalah penting dilakukan adalah memiliki keterbukaan dalam mempersiapkan pola dukungan untuk anak. Serta menciptakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan anak.

Sehingga tingkatan penerimaan orang tua dalam penerimaan dan pola penanganan anak dengan problematika gangguan jiwa, sangat dipengaruhi oleh tingkat stabilitas kematangan emosional orang tua. 

”Keterpaduan pola intervensi yang sesuai dengan perencanaan perkembangan anak baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang dapat menentukan program dalam intervensi menuju dunia normal,” pungkasnya. (Titis Ayu)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →