Loading...
You are here:  Home  >  Seni & Budaya  >  Artikel ini

Satu Mesin Boiler Ngadat



Reporter:    /  @ 02:28:34  /  14 Oktober 2014

    Print       Email

Beberapa truk pengangkut tebu antre bongkar muatan di pabrik, karena satu mesin boiler ada yang ngadat, kemarin. Akibatnya, hasil panen tebu milik petani kembali belum bisa dibeli. (KORAN MURIA)

BLORA – Upaya Pabrik Gula (PG) Blora di dalam merealisasikan janjinya, untuk menerima hasil panen tebu milik petani selalu gagal. Sebab, pabrik gula yang dikelola PT Gendhis Multi Manis (GMM) itu selalu mengalami masalah. Sebelumnya, mesin pabrik gula itu bermasalah karena mengalami kerusakan tekni, kini satu mesin boiler ada yang ngadat. 

Akibat satu boiler mengalami masalah iti, tebu milik petani tidak semua bisa tertampung. Karena, proses giling tebu tidak bisa dilakukan dalam jumlah banyak. Rata-rata, pabrik yang terletak di Kecamatan Todanan itu hanya bisa menggiling tebu sebanyak 60 truk per hari. Padahal, pabrik itu berkapasitas sampai 200 truk per hari. 

”Lihat saja, pabrik sebesar ini hanya ada beberapa truk saja yang antre bongkar. Bagaimana bisa menerima semua hasil panen petani, kalau selalu mengalami kendala,” kata salah satu petani tebu asal Kecamatan Tunjungan, Bowo, Senin (13/10).

Tidak hanya dirinya yang kecewa, sejumlah petani tebu lain di desanya juga merasakan kekecewaan. Karena, janji pabrik yang akan menampung semua tebu petani sampai sekarang belum terbukti. Ia mengaku punya lahan lima hektare lahan tebu, dan sangat sulit dijual ke pabrik milik GMM itu. 

”Pabrik mementingkan dan mendahulukan petani tebu, yang menjadi binaan pabrik. Kalau menunggu tebu petani binaan pabrik habis, terus giliran kami kapan. Inilah yang menurut kami tidak adil,” tegasnya.

Bowo menambahkan, dia mengaku sudah mengajukan untuk menjual tebu ke pabrik GMM. Semua persyaratan sudah dia penuhi, mulai dari uji kualitas tebu dan lainnya. Bahkan, dia sudah mengikuti pelatihan di pabrik PT GMM tersebut. Namun, sampai sekarang surat perintah angkut (SPA) sebagai syarat bisa memasukkan tebu ke pabrik dari PT GMM belum diterimanya. 

”PT GMM bohong. Janjinya mau memberikan SPA, dan ternyata bohong. Terpaksa, saya jual tebu ke luar Blora. Banyak sekali petani yag bernasib seperti saya ini,” keluhnya.

Sementara itu, Sekretaris Asosisasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora Anton Sudibyo menyatakan, banyak petani tebu binaan pabrik yang rata-rata menjadi pengurus dan anggota APTRI, juga belum semua bisa diterima. Saat ini, masih banyak lahan tebu yang belum bisa dipanen, karena menunggu pabrik bisa giling maksimal. 

”Sekitar dua ribu hektare lahan tebu, yang mestinya sudah ditebang atau dipanen menjadi mangkrak. Mau tebang, di luar Blora harga tebu sangat murah. Ini menjadi persoalan tersendiri bagi petani,” jelas Anton. 

Anton sendiri mengaku punya lahan tebu seluas 40 hektare, dan belum ditebang. Secara teknis, kalau tebu sudah siap tebang namun tidak segera ditebang, maka akan menurunkan kualitas tebu. Sehingga, jika dijual, maka rendemennya akan turun. Hal itu juga akan merugikan petani. Sebab, dari rendemen tebu itu adalah keuntungan dari petani.

”Saya akan tetap menunggu pabrik gula Blora itu giling kembali. Petani dijanjikan, semua tebu di Blora akan dibeli, tapi harus sabar menunggu,” terangnya. (Aries Budi)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →