Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Manjadi Guru Kreatif



Reporter:    /  @ 02:05:55  /  14 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Mahfudh Fauzi

Mentor di Monash Institute untuk IAIN Walisongo dan

Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Daerah Kudus

 

Polemik Kurikulum 2013 (K-13) sepertinya tak lekang oleh waktu. Produk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) M Nuh terus menuai ‘buah bibir’. Bagi kalangan yang memang pro dan sepaham dengan rencana Kemendikbud untuk memajukan pendidikan nasional, K-13 dianggap sebagai terobosan jenius dan harus diperjuangkan. Namun, di sisi lain justru K-13 dianggap cenderung dipaksakan. Bukan hanya siswa yang menjadi ‘kelinci’ percobaan, bahkan guru pun tidak jauh berbeda.

 

Setidaknya ada perbedaan mencolok atas kebijakan K-13.  Semula proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) guru menjadi aktor utama. Membacakan materi dan menerangkan tanpa melibatkan peran siswa secara prioritas. Sedangkan untuk metode K-13 yang ditawarkan adalah sebaliknya. Siswa dijadikan sebagai aktor utama, yang dituntut memiliki banyak bacaan, mampu memahami terlebih menganalisa, kemudian dapat membina siswa menjadi akademis yang kreatif, inovatif, kritis dan proaktif.

Sejauh ini memang belum sepenuhnya K-13 terealisasi, target tahun 2015 K-13 harapannya dapat menjadi tonggak revolusi pendidikan bangsa. Sistem pendidikan baru berbasis keterlibatan penuh anggota KBM, menjadi alasan utama K-13 dapat merubah ‘kegalauan pendidikan’ bangsa. Dalam hal ini guru hanya ditekankan menjadi mediator dan motivator bagi para siswa. K-13 dapat diimplementasikan atas keberagaman siswa, mengamati dan memahami karakter siswa yang beragam, kemudian mengambil inisiatif ‘merangkul’ untuk mengikuti KBM tanpa diskriminasi atau pilih kasih.

Sejauh ini, praktik diskriminasi dalam proses KBM memang sering terjadi. Guru hanya fokus terhadap siswa yang terlihat aktif. Bagi siswa yang berkemampuan sedang bahkan yang ‘bodoh’ dianggap sebelah mata. Akhirnya, yang pintar semakin pintar dan begitupun sebaliknya. Nah, di sinilah peran guru sangat dibutuhkan. Menjadi guru kreatif adalah sebuah keniscayaan. memadukan karakter yang beragam, kemudian menciptakan ‘iklim’ belajar yang kreatif dan signifikansinya jelas. Dengan demikian, guru dianggap sukses adalah mereka yang mampu menghasilkan output cerdik dan bermoral.

Kalau guru sudah kreatif walaupun jadi ‘kelinci percobaan’, pemerintah juga harus mendukung program guru asal selaras dengan visi-misi K-13. Pelatihan K-13 dan internalisasinya harus tetap dilaksanakan, karena diakui tidak sedikit guru yang masih kebingungan mengenai filosofi K-13. Akhirnya, banyak guru yang justru asal mengajar. Mau menerima gajian namun menolak merealisasikan K-13, karena sebenarnya belum paham. Terlebih buku, jangan sampai suplai buku terkendala. 

Menyoal Profesionalitas Guru

Tidak bisa ditampik, untuk mewujudkan kedaulatan pendidikan menuju peradaban emas, guru menjadi kuncinya. Oleh sebab itu, profesionalitas guru sangat diperlukan. Sesuai dengan UU Guru Nomor 14 Tahu 2005, bahwa guru sebagai profesi pendidik. Artinya, secara tegas atas profesi pendidik, guru dituntut untuk kerja secara profesional. Sebab, menurut data Kemendikbud, guru layak mengajar di SD sekitar 27 persen, SMP 58 persen, SMA 65 persen, dan SMK 56 persen. Berangkat dari problematika tersebut, guru ditekan untuk memacu kualitas dan profesionalitas. 

Sesungguhnya, guru memang harus mengabdikan diri secara penuh terhadap dunia pendidikan. Di samping pengabdian merupakan salah satu tri dharma perguruan tinggi, namun pengabdian guru merupakan mutlak kewajiban atas ilmu yang dimiliki, agar tidak terjadi onani intelektual. Begitupun menurut Dr. Uhar Suharsaputra, bahwa kualitas guru berkaitan erat dengan mutu pendidikan yang dihasilkan. Analogika, enak atau tidaknya makanan tergantung resep dan cara masak sang koki.

Lebih jelasnya, guru menjadi alasan kenapa siswa cerdas, begitupun sebaliknya. Sebab, pepatah berkata bahwa guru kencing berdiri murid kencing berlari. Artinya jika guru bertindak amoral, maka murid akan lebih bertindak arogan. Begitupun jika menganut teori pepatah tadi, seharusnya jika guru rajin dan cerdas, maka sudah selayaknya muridnya menjadi jenius. Logika mudahnya, seharusnya lambat waktu pendidikan menjadi semakin berkualitas, bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Nah, jika pendidikan Indonesia masih ‘jalan di tempat’, maka profesionalitas gurulah yang patut dipertanyakan.

Eksistensi guru memang menempati strata paling sentral. Guru bak oasis di tengah hamparan gurun pasir, yang segala mahkluk menggantungkan hidup terhadap mata air tersebut. Memang wajar guru diagungkan, kita dapat menelisik kesuksesan Jepang sekarang. Sebab, dulu setelah Heroshima dan Nagasaki dibom, Kaisar jepang justru menanyakan jumlah guru yang tersisa. Sebab, lewat tangan sang guru akan menentukan bangkit atau tidaknyan Jepang, yaitu melalui jalur pendidikan.

Meluruskan Orientasi Guru

Ya, memiliki guru profesional yang multitalenta baik dalam hal spiritual, emosional, maupun intelektual adalah harapan bangsa. Diakui, realitanya memang berbanding terbalik. Sedikit banyak guru mengalami degradasi dan disorientasi. Mengajar diniati untuk mengisi waktu luang, atau memburu lembaran uang, atau bahkan karena unsur keterpaksaan.  Entah, apresiasi dari pemerintah yang dirasa jauh dari harapan atau memang nilai kesakralan guru mulai terkikis. Padahal menurut Imam Ghozali Guru adalah profesi paling mulia. 

Lagi-lagi pihak yang paling dirugikan adalah murid. Karena guru sudah salah niatan, jadi pengajarannya pun juga asal-asalan. Proses pengajaran tidak dilakukan dengan niatan tulus memberantas kebodohan. Akhirnya, banyak perlakuan amoral bahkan kriminalitas dipertontonkan oleh sang guru. Hal ini memang menjadi PR berat bagi Kemendikbud, seharusnya yang pertama dan utama untuk dibenahi bukanlah kurikulum. Namun kualitas dan kapabilitas seorang guru.

Jelas, hadist Nabi menegaskan, bahwa orang yang berilmu dan mengamalkan serta mengajarkan ilmunya akan diagungkan di kerajaan langit. Namun, apakah hal tersebut dapat diraih jika orientasi atau bahkan metodenya salah. Padahal ilmu merupakan cahaya penerang (al-ilmu nuurun), jika hidup tanpa ilmu maka akan tersesat. Maka betapa istimewanya orang yang berilmu dan mau mengamalkannya. Oleh karena itu, guru harus kreatif, memadukan kondisi keberagaman karakter siswa, mengerti visi-misi K-13, serta memahami kondisi bangsa. Wallahu a’lam bi al-shawwab (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →