Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Makna di Balik Gerhana Bulan Total



Reporter:    /  @ 02:10:55  /  11 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: M Agus Yusrun Nafi’, SAg Msi, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kabupaten Kudus, dan Pengasuh Ponpes Sirajul Hannan Jekulo Kauman, Kudus

 

Di dunia cakrawala langit akan diramaikan dengan kejadian alam yang luar biasa dan belum tentu setiap tahun terjadi serta bisa dinikmati di permukaan bumi ini. Yakni gerhana bulan yang terjadi pada hari Selasa, 08 Oktober 2014.

Kejadian gerhana bulan seperti ini telah sering dialami oleh manusia sejak zaman dahulu kala. Tentu saja, sejalan dengan perkembangan intelektual dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, menyikapi terjadinya gerhana pun beragam. Pada zaman dahulu, karena keterbatasan intelektual dan ilmu pengetahuan dan sejalan dengan keyakinan primitif manusia yang mengkaitkan setiap gejala alam dengan kekuatan supranatural, mitos dan keyakinan khurofat seputar gerhana pun muncul, yang tentu saja dengan timbangan syariat dan keyakinan agama hal ini bertentangan dengan aqidah yang benar.

 

Di antara mitos yang muncul pada zaman dahulu, bahkan sebagian masih ada yang mempercayainya hingga sekarang ini, terjadinya gerhana itu karena adanya sesosok raksasa besar (batarakala) yang sedang berupaya menelan bulan. Nah, agar raksasa itu memuntahkan kembali bulan yang ditelannya, maka diperintahkan untuk menabuh berbagai alat, seperti kentongan, bedug, bambu atau bunyi-bunyian lainnya.

Ada juga yang meyakini bahwa bulan itu beredar seperti dibawa oleh sebuah gerobak besar. Gerhana itu terjadi karena gerobak tersebut memasuki sebuah terowongan dan kemudian keluar lagi.

Sebagian juga meyakini bahwa bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, sehingga apabila mereka berdekatan maka akan saling memadu kasih sehingga timbullah gerhana sebagai bentuk percintaan mereka.

Bahkan, masih ada hingga kini yang meyakini bahwa bagi wanita yang sedang hamil diharuskan bersembunyi di bawah tempat tidur atau bangku, agar bayi yang dilahirkannya nanti tidak cacat (wajahnya hitam sebelah).

 

Fenomena Gerhana Bulan

Dalam catatan sejarah Islam, orang-orang arab Quraisy mengaitkan peristiwa gerhana dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya kematian atau kelahiran, dan kepercayaan ini dipercaya secara turun temurun sehingga menjadi keyakinan umum masyarakat. 

Secara sederhana, gerhana dapat disebut sebagai fenomena tertutupnya sebuah benda oleh benda lainnya. Gerhana bulan terjadi karena bulan memasuki daerah bayang-bayang bumi. Berdasarkan kepekatannya, bayang-bayang bumi dikelompokkan menjadi dua, yaitu umbra dan penumbra.  Dan berdasarkan lintasannya pada bayang-bayang bumi, gerhana dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu gerhana bulan total (GBT) di mana semua piringan bulan memasuki umbra bumi, gerhana bulan sebagian (GBS) di mana hanya sebagian piringan bulan yang berada dalam umbra bumi dan gerhana bulan penumbra (GBP) di mana seluruh atau sebagian piringan Bulan berada dalam penumbra Bumi. 

Tanpa harus menafsirkan fenomena langit secara astronomi – mencari kejelasan secara ilmiah – dan astrologi yang mencoba menghubungkannya dengan kehidupan manusia, ketiga fenomena astronomi tersebut merupakan fenomena yang menarik untuk dinikmati. Syukur bisa dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan sains. 

Pada hari Selasa tanggal 08 Oktober 2014 akan terjadi Gerhana Bulan total yang bisa disaksikan dengan perhitungan astronomis, awal penumbra 15.15 WIB, awal umbra 16.14 WIB, total awal 17.25 WIB, tengah gerhana 17.54 WIB total akhir gerhana 18.24, akhir umbra 19.34 WIB, akhir penumbra 20.33 WIB

Gerhana bulan ini merupakan salah satu fenomena alam yang senantiasa terjadi sebagaimana fenomena alam lainnya. Namun demikian tetap saja menarik dan mengundang reaksi beragam. Para peneliti dan peminat astronomi tentu tidak melewatkan momen tersebut. Bahkan sampai saat inipun masih ada penduduk yang menghubungkannya dengan masalah-masalah mistik, ramal meramal dan sebagainya.

Sesungguhnya banyak hikmah pembelajaran yang dapat diambil dari peristiwa alam tersebut bagi peningkatan kualitas kehidupan kita apalagi jika dihubungkan dengan keadaan bangsa kita sekarang ini, lebih-lebih bagi umat Islam Indonesia, antara lain :

Pertama, membina aqidah atau keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebagai Muslim yang meyakini Kemaha Kuasaan Allah SWT, peristiwa GBT akan lebih mempertebal keimanan dan ketauhidan kita kepadaNya. Bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini semata-mata berdasarkan qudrat dan iradatNya yang tunduk kepada mekanisme hukum alam. Peristiwa GBT adalah fenomena alam yang menjadi salah satu tanda dari kekuasaan Allah SWT, dan media bagi orang yang beriman untuk senantiasa mengingat kebesaran Allah SWT serta memikirkan penciptaan alam semesta.

Kedua, membina ibadah. Peristiwa GBT hendaknya dijadikan momentum untuk membina ibadah dalam rangka memelihara hablun minallah sesuai dengan aqidah yang lurus. Oleh karena itu ketika gerhana terjadi kita tidak perlu melakukan perbuatan yang aneh-aneh misalnya memukul-mukul kaleng rombeng, wanita hamil masuk kolong karena takut anaknya belang, ataupun menghubungkannya dengan nasib, peruntungan atau mati hidupnya seseorang.

Maka jikalau kamu melihat gerhana bulan bersholatlah, berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, serta bersedekahlah. Karena momentum terjadinya gerhana bulan bisa digunakan untuk memelihara hablun minallah dan hablun minan naas. Hablun minallah atau hubungan dengan Allah swt berupa ; shalat, takbir, , dan  do’a. Sedang hablun minan naas atau hubungan dengan sesama manusia berupa sedekah.

Sehingga harapan penulis, dengan moment GBT ini hubungan sebagai warga negara Indonesia makin membaik demikian hubungan dengan Sang Pencipta Alam semesta ini. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →