Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Petani di Sejumlah Wilayah Grobogan Andalkan Air WKO



Reporter:    /  @ 01:44:41  /  10 Oktober 2014

    Print       Email

GROBOGAN – Menjelang musim tanam pertama (MT 1) pada Oktober ini, petani di sejumlah wilayah Grobogan, hanya mengandalkan air Waduk Kedung Ombo untuk memenuhi kebutuhan peyiraman tanaman. Sebab, hingga kini hujan belum turun sedangkan sungai, embung, dan sumber-sumber mata air lain telah mengering.

”Rencananya saya akan mulai mengolah sawah dan menanam padi pada pertengahan Oktober. Namun karena belum turun hujan, maka saya mundur hingga akhir Oktober atau awal November. Untuk kebutuhan penyiraman, petani hanya mengandalkan air irigasi dari Waduk Kedung Ombo,” ujar salah seorang petani warga Rambat, Muji, kemarin.

Menurut dia, seharusnya sejak akhir September petani mulai mengolah lahan untuk penyemaian bibit padi. Namun karena areal persawahan kering kerontang dan irigasi tidak mengalir, maka kemungkinan besar MT 1 dilakukan pertengahan atau akhir Oktober, dengan mengandalkan air dari WKO.

”Kami berharap hujan segera turun, sehingga petani dapat segera mengolah lahan untuk menanam padi. Sebab jika hanya mengandalkan air WKO, kami khawatir aliran waduk tidak opimal karena debit menyusut drastis akibat kemarau panjang,” harapnya.

Kepala Pengelola WKO Purwanto mengatakan, saat ini debit air WKO mencapai 5.327.460 meter kubik dengan elevasi 88.4 meter. Pintu air waduk yang berada di Desa Rambat, Kecamatan Geyer, itu, dibuka 55 meter kubik per detik untuk persiapan pengairan lahan pertanian jelang MT 1 dan kebutuhan air minum. 

”Meski ada penurunan volume air di musim kemarau, namun masih dapat mengairi  kebutuhan MT 1 pada bulan ini. Selama ini WKO juga mengairi lahan pertaniandi Grobogan melalui Bendung Sedadi, Sidorejo, Klambu, dan Lanang ,” katanya.

Sementara itu, Balai Besar Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Serang Lusi Juana menutup Bendung Dumpil di Kecamatan Ngaringan. Penutupan sumber air bendung yang diresmikan Presiden Suharto tahun 1990, untuk menghemat air dan persiapan kebutuhan air irigasi jelang MT 1.

Petugas Operasi Bendung Dumpil BPSDA Sutarto menyebutkan, elevasi air bendung saat ini  46,20 meter. Kebijakan penutupan telah disepakati sejumlah pihak terkait, termasuk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Sehingga kebutuhan air di musim kemarau dan MT-I aman. (Sumarni)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →