Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Perlintasan KA Liar Harus Ditutup



Reporter:    /  @ 01:42:27  /  10 Oktober 2014

    Print       Email

Pengendara motor berhenti di perlintasan KA tanpa palang pintu, saat kereta api melintas. Pemerintah didesak menutup perlintasan liar, untuk menekan terjadinya kecelakaan. (ANTARA)

KOTA SEMARANG – Pemerintah didesak untuk segera menutup perlintasan kereta api (KA) liar, yang jumlahnya mencapai ratusan titik. Hal itu untuk meminimalkan kecelakaan di perlintasan KA, seperti yang terjadi di daerah Karangawen, Demak, Rabu (8/10). Kecelakaan itu menyebabkan lima orang tewas.

Berdasarkan data PT KAI, di wilayah Daops IV Semarang, terdapat 704 perlintasan KA. Jumlah itu terdiri dari 704 perlintasan resmi, dan 198 perlintasan liar.

Pakar transportasi dari Universitas Katolik (UNIKA) Soegijopranata Semarang Djoko Setijowarno menyatakan, pemerintah daerah harus tegas. Karena yang mempunyai kewenangan menutup perlintasan liar itu adalah pemda.

”Kewenangan menutup perlintasan liar KA di pemda. Boleh kok ditutup (perlintasan liar). Pemda harus tegas,” katanya dikutip Antara, kemarin.

Menurut dia, potensi kecelakaan di perlintasan KA meningkat seiring pengoperasian double track (jalur ganda). Penyebab utamanya adalah kurang disiplinnya masyarakat dalam berlalu lintas.

”Masyarakat ternyata banyak yang belum paham rambu-rambu lalu lintas, termasuk rambu di perlintasan. Bahkan di perlintasan yang dijaga petugas pun masih ada yang nekat menerobos,” ujarnya.

Akan tetapi, kata dia, seringnya kecelakaan lalu lintas memang di perlintasan tanpa palang pintu dan perlintasan liar. Sehingga pemda bisa melakukan tindakan pencegahan dengan menutup perlintasan liar.

Sementara itu, Kepala Humas PT KAI Daops IV Semarang Suprapto membenarkan lokasi terjadinya kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan Toyota Kijang di Demak merupakan perlintasan liar.

”Sudah kami cari di data, perlintasan itu tidak ada nomornya. Saya juga minta Unit Jalan Rel untuk mengecek, memang tidak ada di data. Kalau perlintasan resmi ada kode dan nomornya PJL,” paparnya.

Meski demikian menurut dia, perlintasan di Desa Brambang, Kecamatan Karangawen, Demak, di KM 20+5/6 antara Stasiun Tegowanu-Brumbung itu, sudah dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas. (Ali Muntoha)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →