Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Rahmah El-Yunusiyah, Pejuang Perempuan di Dunia Pendidikan



Reporter:    /  @ 01:37:51  /  10 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Lina Kushidayati, Dosen STAIN Kudus

 

Semangat juang seorang putri berdarah Minang dalam mendirikan lembaga pendidikan Islam perlu dicontoh. Rahmah lahir di Bukit Surungan, Padang Panjang, putri Ibu Rafi’ah dan Bapak Muhammad Yunus bin Imanuddin (pernah belajar di Makkah, Qadli di Pandai Sikat, Padang Panjang). Rahmah belajar agama dengan Karim Amrullah (ayah HAMKA) dan belajar dengan kakaknya Zaenuddin Labay dan Mohammad Rasyid. Menempuh pendidikan formal selama 3 tahun di Diniyah School yang dirintis keluarganya, belajar dengan Tunaku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padang Panjang). 

 

Kegigihan Rahmah diawali kesadarannya melihat ketidakadilan yang menimpa perempuan Nusantara karena berada dalam kepasrahan. Upayanya sebagai modal mengubah nasib perempuan. Rahmah El-Yunusiyah ternyata terinspirasi perjuangan angkat senjata putra Minangkabau yang berjuang seperti Abdul Muis, Agus Salim, Tan Malaka, Nasir Datuk Pamuncak, Muhammad Hatta, Mr. Muhammad Yamin, Mr Asaad, dr. Adnan Kapau Gani, dan Mr Tamsil. Pembesar tersebut yang berupaya memperjuangkan kemerdekaan dalam bidangnya masing-masing. 

Kancah Politik

Pada 1933 Rahmah bersama Ratna Sari mewakili kaum ibu Sumatera Tengah pada Kongres Perempuan di Jakarta. Ide Rahmah agar busana perempuan Indonesia memakai selendang atau kerudung. Pada masa penjajah Jepang, Rahmah bergabung dalam organisasi Anggota Daerah Ibu (ADI) yang didirikan kaum ibu di Sumatera Tengah untuk menutup rumah bordir. Semasa Perang Pasifik, Rahmah menyulap gedung sekolah Diniyah Puteri menjadi rumah sakit darurat yang menerpa kurban kecelakaan kereta api yang terjadi di Bintungan Padang Panjang pada Desember 1944. Ketika mendengar kemerdekaan RI dari Engku Sjafi’i, Rahmah sepontan mengibarkan sang Merah Putih di depan Perguruan Diniyah Putri yang ia kelola. 

Pascakemerdekaan, Rahmah mengayomi barisan pejuang yang dibentuk organisasi Islam seperti Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbul Wathan. Pada 1955 Rahmah terpilih sebagai anggota Dewan Konstituante. Rahmah mendirikan Diniyah School Puteri yang semula sebuah Masjid Pasar Usang Padang Panjang beratap rumbia dan berdinding gedhek. Madrasah itu kemudian menjadi sekolah khusus perempuan siswa dan gurunya (Madrasah Diniyah lil Banat). Madrasah ini didirikan pada 1 November 1923 di Padang Panjang oleh Rahmah El-Yunusiyah (1900-1969 M/1318-1388 H) pada usia 23 tahun. Koedukasi yakni belajar yang disatukan antara perempuan dengan lelaki dalam satu kelas tidak dipraktekkan Rahmah dengan tujuan menghindari hal negatif imbas kerekatan interaksi. Angkatan pertama terdiri 71 siswi yakni para ibu muda, meski diawali dengan cemoohan masyarakatnya karena usia muda apalagi tua saat itu tidak lazim sekolah. Sistem pembelajarannya halakah yakni santri duduk bersila di lantai mengelilingi guru yang menghadap pada meja kecil.

Pada 1936 Rahmah mampu mendirikan lembaga pendidikan al-Quran, Majelis School untuk kaum ibu yang belum bisa membaca dan menulis al-Quran, Freubel School (Taman Kanak-Kanak), Junior School (setingkat HIS), Diniyah School (ibtidaiyah 4 tahun dan tsanawiyah 3 tahun), dan sekolah tenun. Pada 1937 didirikan program Kulliyatul al-Mu’allimin al-Islamiyah (jenjang 3 tahun) untuk calon guru. Pada 1967 dibuka jenjang perguruan tinggi dengan didirikannya Fakultas Tarbiyah dan Dakwah, ada yang menyebut Dirasah Islamiyah. Kesuksesan Rahmah di bidang pendidikan jenjang dasar dan tinggi direspon oleh Universitas Al-Azhar Mesir. Pada 1955 Rektor Universitas Al-Azhar Dr. Syekh Abdurrahman Taj mengunjungi perguruan Rahmah. Interaksi kedua pimpinan lembaga dilanjutkan pada 1957 Rahmah diundang Universitas Al-Azhar untuk menerima gelar kehormatan tertinggi, yakni Syeikhah atas inisiatifnya merintis pendidikan Islam. 

Kini ada lima jenjang pendidikan di Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang yakni Raudlatul Athfal/RA (setingkat TK), Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD), Madrasah Tsanawiyah Diniyah Menengah Pertama/DMP di bawah naungan Kementerian Agama dan SMP Diniyah Puteri di bawah naungan Kemendikbud. Madrasah Aliyah KMI, dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah. Semuanya boarding school (diasramakan). Terdapat pula devisi khusus yakni Diniyah Takhfidzul Quran (DTQ), Diniyah Training Centre (DTC), Diniyah Counseling Centre (DCC), Diniyah Research Centre (DRC), Diniyah Information Technology (DITC), Diniyah Arabic Centre (DAC), dan Diniyah English Centre (DEC). Misi lembaga pendidikan adalah membentuk putri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian pada Allah. 

Rahmah mengembangkan jaringannya dengan melakukan lawatan ke Universitas Al-Azhar Mesir pada 1957 sehingga alumninya diberi kesempatan mendapatkan beasiswa belajar di Al-Azhar. Pada 1958 alumni Diniyah School diberangkatkan ke Al-Azhar sejumlah 7 alumni. Pada 1965 dan 1972 seorang alumni diberangkatkan ke Al-Azhar. Tahun berikutnya beasiswa dikembangkan dengan menjalin dengan pemerintah Kuwait. Pada 2002 lembaganya kian mapan sehingga mampu menampung 2 ribu siswi dan mahasiswi. Perjalanan panjang memperjuangkan generasi perempuan terdidik telah ditorehkan Rahmah. Rahmah mengakhiri hidup (wafat) pada 1969 (Republika, 22 April 2012).

Bintang Mahaputera Adipradana

Rahmah mewariskan lembaga pendidikan yang megah, sehingga lazim ia mendapatkan penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berupa Bintang Mahaputera Adipradana (BMA). BMA merupakan penghargaan tertinggi kelas II yang diberikan oleh negara kepada warga sipil yang dinilai berkontribusi luar biasa bagi bangsa. Pada tahun 2013 Adipradana diberikan Presiden SBY kepada 11 penerima yakni Almh Hj.Rahmah El Yunusiyah, pelopor pendidikan perempuan dari Sumatera Barat dan sebagai ulama perempuan 1900-1969. Sebelumnya, penerima penghargaan pada 2005 1 orang, pada 2006 ada 6 orang, pada 2007 ada 2 orang, pada 2008 ada 3 orang, pada 2009 1 orang, pada 2010 ada 3 orang, pada 2011 ada 9 orang, dan pada 2012 ada 1 orang. 

Selain Yunusiyah, yang mendapat penghargaan antara lain Alm AR Baswedan (pejuang kemerdekaan, diplomat, Menteri Muda Penerangan Kabinet Sjahrir, jurnalis, sastrawan 1908-1986), Mahfud Mahmudin (Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-April 2013), selain itu mereka yang menjabat menteri dua kali yakni Hatta Radjasa (Menko Perekonomian), Jero Wacik (Menteri Energi Sumber Daya Mineral), Djoko Kirmanto (Menteri Pekerjaan Umum), Muhamad Nuh (Mendikbud), Marie Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Suryadharma Ali (Menag), Sudi Silalahi (Mensekneg), Purnomo Yusgiantoro (Menteri Pertahanan). Akan tetapi, realitasnya dari nama-nama tersebut yang mendapatkan penghargaan, kini dua mantan pejabat itu menjadi pesakitan karena diduga korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebagaimana Jero Wacik dan Suryadharma Ali. 

Dengan demikian, penghargaan yang telah diraihnya tidak serta merta mereka orang yang dapat dijadikan tauladan sejati oleh warga bangsa. Mengapa orang yang mendapatkan amanah sebagai pejabat yang mulia masih kurang bersyukur dibuktikan dengan melakukan korupsi? Ragam hipotesis muncul bahwa mereka korupsi karena tidak menyukuri kepercayaan yang diembannya, tidak menyadari bahwa jabatan adalah amanah, dan lupa bahwa nama baik lebih mulia dibanding hanya ambisi materi yang hanya memenuhi nafsu sesaat yang sesat dan menyesatkan diri dan keluarganya. Ingat pesan Ali Imran:140 “dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami (Allah) pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pengajaran)”. Dengan demikian, terjerembabnya mantan pejabat tatkala menjabat karena tidak mampu mengendalikan nafsu untuk kita jadikan pelajaran hidup. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →