Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Warga Ngambilan Andalkan Embung



Reporter:    /  @ 02:13:15  /  9 Oktober 2014

    Print       Email

Krisis air bersih yang melanda belasan kecamatan di Kabupaten Grobogan sejak tiga bulan terakhir, memaksa warga yang bermukim di daerah kekeringan memanfaatkan air embung dan belik yang keruh dan tidak layak konsumsi untuk kebutuhan minum, mandi, dan lainnya. Salah satunya warga Dusun Ngambilan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan.

Sejak beberapa bulan terakhir, sumur warga Dusun Ngambilan tidak lagi berair. Sehingga warga hanya mengandalkan air sebuah embung yang berlokasi di areal persawahan di ujung desa. Meski kondisi air tidak layak konsumsi karena keruh dan berbau, namun warga tidak ada pilihan lain. Sedangkan bagi warga yang mempunyai dana, mereka membeli air bersih secara patungan. 

”Air dari embung ini harus diendapkan terlebih dahulu selama satu-dua malam sebelum dimasak. Kemudian disaring pakai kain atau saringan menggunakan wadah yang diisi sabut kelapa dan bebatuan,” kata warga Ngambilan, Titin (40), kemarin.

Menurut dia, air embung yang berwarna kehijauan dan berbau tidak enak jika langsung dimasak. Sehingga harus diendapkan dan disaring terlebih dahulu. Sebagian besar warga setempat mengambil dan memanfaatkan air embung untuk berbagai keperluan sehari-hari sejak sekitar tiga bulan lalu.

Selain menggunakan air embung tidak layak konsums, kondisi kekeringan juga memaksa warga mencari sumbermata air hingga ke tengah hutan dan menggali sungai yang tidak lagi berair atau biasa disebut sumur belik.

”Sumur di rumah saya dan warga lainnya sudah kering. Sehingga kami membuat belik untuk mendapatkan air. Sebelum dimasak untuk minum, kami biasanya mengendapkannya semalam terlebih dahulu supaya airnya bening, “ ujar Sugi warga Gabus, kemarin.

Selain membuat belik, kata dia, warga juga terpaksa berjalan ratusan meter ke pinggiran hutan untuk mencari air bersih. Karena hingga kini, warga belum mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah daerah setempat. Sedangkan sejumlah sungai yang selama ini menjadi andalan warga untuk pemenuhan kebutuhan air, debitnya telah menyusut dan airnya keruh.

Beberapa sungai yang mengalami penyusutan drastis antara lain Sungai  Tuntang , Lusi, dan Serang. Akibat krisis air bersih tersebut, sebagian besar warga harus berangkat ke belik atau mata air di kawasan hutan pada pagi buta atau sesudah subuh.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan,  kekeringan  melanda sekitar 175 desa yang tersebar di 15 kecamatan. Yakni Kecamatan Gabus, Kradenan, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, Pulokulon, Purwodadi, Grobogan, Brati, Toroh, Geyer, Penawangan, Karangrayung, Tanggungharjo, dan Kedungjati.

Sedangkan empat  kecamatan yang aman dari ancaman keketingan yakni, Kecamatan Tergowanu, Klambu, Gubug, dan Godong. Kondisi  kekeringan paling parah di sejumlah desa di Kecamatan Gabus, Kradenan, Ngaringan, dan Pulokulon. 

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono mengatakan, pemkab menyediakan anggaran untuk mengatasi kekeringan sebesar Rp 200 juta. Dana tersebut digunakan untuk biaya droping air bersih kepada warga yang mengalami krisis air bersih akibat kekeringan. (Sumarni)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →