Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Konflik Warga di Bumi Perdamaian Dunia



Reporter:    /  @ 02:03:51  /  9 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Subchan Zuhri

Sekretaris PWI Pokja Jepara

Sudah banyak tersiar, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah merupakan pemilik lokasi pusat Gong Perdamaian Dunia (GPD) atau Word Peace Gong. Gong yang dijadikan simbol untuk menyatukan umat manusia di seluruh dunia itu berasal dari desa kecil di Jepara, yakni Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji. 

Oleh Djuyoto Suntani, putra pasangan Suntani-Mursini, pewaris GPD generasi ketujuh, gong yang umurnya sudah hampir setengah abad itu telah dijadikan sarana mendamaikan negara-negara konflik. Djuyoto juga membuat replika GPD yang kini dijadikan monumen di sejumlah negara, di antaranya di Geneva (Swiss), Shandong (China), Godollo (Hungary), dan di Indonesia juga dipajang di Bali.

 

Dari situlah, Desa Plajan, Jepara mulai tersohor di mancanegara. Dalam perkembangannya, desa di lerang Gung Muria itu dijadikan sebagai museum perdamaian dunia. Di sana ditempatkan sejumlah replika GPD, bahkan kini dibuat pula Gong Perdamaian Asia, dan Gong Perdamaian Nusantara (GPN). Ada pula kumpulan tanah dari 202 negara di dunia sebagai simbol jika Desa Plajan adalah pusat bumi.

Replika GPN juga dibuat oleh Djuyoto sebagai simbol perdamaian di Bumi Nusantara ini. Ada empat kota yang dijadikan lokasi pemasangan GPN; Ambon, Ciamis (Jawa Barat), Yogyakarta dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Namun, di sisi lain, Jepara sebagai pemilik lokasi museum pusat perdamaian dunia, ternyata belum menjamin terciptaya perdamaian di Bumi Kartini ini. Berbagai konflik antarwarga masih saja terjadi. Yang masih “hangat” konflik warga dua desa bertetangga di Kecamatan Nalumsari. Yakni Desa Ngetuk dan Muryolobo.

Konflik yang konon pernah terjadi bertahun-tahun lalu kini kembali pecah. Seolah, ada kebencian dan permusuhan yang diwariskan ke anak cucu di sana.

Atas dasar apapun, konflik tersebut tentu tidak bisa didiamkan. Jangan sampai pertikaian terus berlanjut dan kebencian serta permusuhan antarwarga menjadi warisan masyarakat desa setempat. Miris kita terus mendengar kabar aksi saling balas di antara warga yang berunjung kerusakan bahkan korban. 

Pemangku kepentingan di Jepara harus berperan untuk mendamaikan warga dua desa yang berkonflik. Jika dari Desa Plajan saja bisa menjadi titik awal untuk menyuarakan perdamaian di dunia dan di nusantara, mestinya perdamaian di seluruh wilayah Kabupaten Jepara bisa tercipta. Semangat Gong Perdamaian yang sudah digaungkan ke sejumlah negara itu, harus lebih kencang terdengar di Jepara sendiri.

Jika perlu, Pemerintah Kabupaten Jepara memberikan perhatiannya dengan membangun momunen perdamaian di seluruh desa dengan memasang replika gong perdamaian. Dimulai dari desa yang berkonfik saat ini, replika gong pedamaian ditancapkan untuk memberikan semangat perdamaian bagi warga. 

Tentu itu tidak cukup tanpa ada upaya penyadaran warga agar saling menahan diri untuk tidak melanjutkan permusuhannya. Nilai-nila luhur yang ada di dalam masyarakat perlu di-upgrade kembali melalui berbagai pranata sosial.

Desa Ngetuk dan Muryolobo yang masuk dalam kawasan lereng Gunung Muria, mestinya juga masih mewarisi keagungan gunung tersebut. Tokoh dunia peraih “Nobel Perdamaian” yang berkali-kali menjadi Perdana Menteri Israel, Shimon Perez, menyebut Gunung Muria di Jawa Tengah (Indonesia) memiliki kekuatan aura magik luar biasa. 

Yasser Arafat (Presiden Palestina), juga peraih “Nobel Perdamaian,” mengatakan: Muria merupakan gunung pilihan Allah untuk dijadikan “Gunung Perdamaian”. Kedua tokoh peraih nobel asal Timur Tengah itu berpendapat, Gunung Muria merupakan “saudara kembar,” dengan Gunung Muria di Yerusalem (Palestina). Karena memiliki struktur ukuran tinggi dan besar. Nama Muria (Moria) berasal dari bahasa Ibrani (Ibrahim), berarti “pilihan Allah”. (Sumber Wikipedia).

Semangat perdamaian tentu harus menjadi nafas bagi seluruh masyarakat yang tingal di lereng Gunung Muria, khususnya Jepara. Perbedaan agama, suku, ras, kepentingan dan lainnya tidak bisa menjadi alasan untuk saling membenci, menyakiti, bahkan membantai. 

Masyarakat dunia juga baru saja memperingati hari Perdamaian Dunia pada 21 September lalu. Momen penting ini mestinya tidak boleh lewat begitu saja tanpa memberikan efek bagi masyarakat. Hidup damai harus dirasakan oleh semua orang. Sebab, pada dasarnya tidak ada orang yang ingin hidup dalam suasana penuh konflik.

Perlu digali lebih dalam lagi, salah satu misi Pemerintah Kabupaten Jepara saat ini adalah untuk mencapai visi: Jepara yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan, di bawah naungan rahmah dan hidayah adalah “Mewujudkan masyarakat madani Kabupaten Jepara dalam sistem tatanan sosial budaya yang luhur serta berkarakter agar bermartabat”. Oleh karenanya, untuk menuju masyarakat madani (masyarakat yang beradab), tentu harus diwujudkan terlebih dulu kedamaian di dalam masyarakat.  Saya yakin, pemerintah punya berbagai perangkat untuk mewujudkan semua itu. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →