Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Desa Banget Krisis Air Bersih



Reporter:    /  @ 01:44:51  /  9 Oktober 2014

    Print       Email

Sejumlah warga Desa Banget, Kecamatan Kaliwungu mengantre dropping, beberapa waktu lalu. Mereka mendapat bantuan dari perusahaan swasta di Kudus untuk memenuhi kebutuhan air bersih. (KOMA / Faisol Hadi)

KUDUS – Ribuan warga Desa Banget, Kecamatan Kaliwungu, mengalami kekurangan air bersih. Untuk mencukupi keburuhan air di desa tersebut, pemerintah desa setempat meminta bantuan dari perusahaan swasta. 

Perangkat Desa Banget Sugito mengatakan, bantuan yang diminta itu berupa dropping air bersih. Ribuan warganya kini hanya bisa mengandalkan bantuan bantuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

”Jumlah warga yang kekurangan air bersih sekitar 2.600 orang. Mereka tersebur di 10 RT dan 2 RW. Sebanyak 90 persen warga di RW dan RT tersebut mengalami krisis air,” kata Sugito kepada Koran Muria, Rabu (18/10).

Menurutnya, ribuan warga sudah mengalami krisis air bersih selama beberapa hari terakhir. Merespon kondisi yang terjadi tersebut, pemerintah desa melayangkan surat permohonan dropping air bersih ke sejumlah perusahaan swasta di Kudus.

Dia mengatakan, awalnya pihaknya meminta bantuan air selama dua kali selama sepekan. Namun  karena banyak warga yang kekurangan air bersih, pihaknya meminta perusahaan swasta untuk mengirimkan air bersih selama tiga kali dalam sepekan.

”Kalau dua kali itu masih kurang. Jadi kami meminta pengiriman air bersihnya tiga kali sepekan. Itu saja warga mengantre untuk mendapatkan jatah air yang diberikan,” ujar Sugito.

Menurut dia, hampir semua warga yang ada di Desa Banget memiliki sumur. Namun hampir semua sumur yang dimiliki kering, meski kedalaman sumur 40 meter. Hal itu terjadi karena hujan tidak kunjung turun. Sehingga warga hanya bisa mengandalkan air bantuan dari pihak lain.

Sugito menambahkan, bantuan air bersih yang didapatkan warga diminta untuk dihemat. Karena jika kemarau masih lama, keburuhan air menjadi semakin banyak. Padahal stok air semakin menipis.

”Di desa sebelah (Desa Kacu) tidak mengalami krisis air bersih. Sebab di Dukuh Kacu menggunakan jaringan Pamsimas. Meski demikian, warga mulai meresahkan minimnya pasokan air, sebab air yang mengalir tidak lancar seperti hari-hari biasa. Sedangkan di desa kami tidak ada jaringan Pamsimas, sehingga hanya bisa mengandalkan bantuan air dari pihak luar,” tuturnya.  (Faisol Hadi / Suwoko)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →