Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Merica Tempur yang Belum ”Panas”



Reporter:    /  @ 01:18:14  /  9 Oktober 2014

    Print       Email

Tanaman merica yang ada di tengah-tengah areal perkebunan kopi di Desa Tempur, sejauh ini belum mendapat perhatian serius. Sehingga belum menjadi komoditas utama yang memiliki nilai pasar yang tinggi. (KOMA / Supriyadi)

KUDUS – Ada satu hal yang sangat menarik perhatian, saat menelusuri areal perkebunan kopi yang ada Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. 

Di sela-sela hektaran tanaman kopi tersebut, tersembul tanaman sulur yang melingkari pepohonan di sana. Sekilas tanaman tersebut seperti tanaman sirih yang berwarna hijau. 

Namun ketika diperhatikan, ada bulir-bulir kecil yang muncul sebagai ”buah” dari tanaman tersebut. Bulirnya kecil-kecil dan banyak. ”Itu merica, kok. Silakan saja diambil kalau mau,” jelas Muhtadi, pemilik kebun kopi yang ditemui di sana.

Keberadaan tanaman merica yang ada di sana, memang terbilang cukup membuat kaget. Pasalnya, tanaman ”mahal” ini, memang bukan menjadi komoditas utama dari masyarakat Tempur. Tanaman ini seolah menjadi tanaman perdu yang turut hidup di tengah-tengah areal perkebunan tersebut.

Muhtadi bercerita, sebelum terkenal dengan kopinya, warga memang membudidayakan tanaman merica. Hanya saja, karena harga yang kemudian dipermainkan, tanaman ini kemudiand itinggalkan. Warga berkonsentrasi penuh kepada hektaran tanaman kopi yang mereka miliki.

”Itu dulu sekali, ya. Memang merica adalah salah satu tanaman yang dulunya primadona di sini. Tapi setelah kemudian harganya tidak stabil, akhirnya menjadi ditinggalkan. Meski memang masih juga banyak dipelihara dan dijual oleh warga,” terang Muhtadi kemudian.

Penjualan tanaman merica sendiri, cukuplah dilakukan di pasar-pasar tradisional. Terlebih dahulu buah merica ini dijemur sampai kering setelah dilakukan panen. Kemudian setelah menjadi merica jadi, barulah diantar ke pasar-pasar tradisional yang letaknya tidak jauh dari Desa Tempur.

Sungguh berbeda perlakukan antara tanaman merica dan tanaman kopi. Padahal, karena merica, Indonesia bahkan pernah dijajah bangsa Eropa, dalam hal ini Belanda, hingga 450 tahun lamanya. Bangsa-bangsa Eropa itu berkeliling dunia untuk mencari tanaman yang bisa menghangatkan badan tersebut, yang memang sangat dibutuhkan oleh mereka. 

Buah merica di Tempur, memang terbilang kecil bentuknya. Tidak besar sebagaimana merica yang ada di pulau-pulau lain selain Jawa. Namun bagaimanapun, harusnya merica ini juga bisa menjadi salah satu komoditas unggulan yang bisa kembangkan lebih baik lagi. Merica Tempur seolah belum bisa ”memanaskan” pasaran merica dari daerah lainnya.

Potensi pertanian memang menjadi andalan Desa Tempur. Selain tanaman padi, saat ini warga di sana juga sedang giat-giatnya untuk memproduksi bijian-bijian dari aneka tanaman, untuk dijual ke pabrikan besar. Ini setelah ada pabrikan besar yang menggandeng warga, untuk dilatih bagaimana menghasilkan bibit-bibit aneka tanaman.

Wartoyo, salah seorang petugas yang biasa melatih warga, mengatakan jika warga di Des Tempur dilatih untuk menghasilkan bibit cabai, tomat, pare, dan aneka jenis tanaman lainnya. ”Misalnya saja cabai. Kondisi cabai asli dari Tempur itu, kecil-kecil bentuknya. Nah, kemudian kita ajari warga untuk melakukan penyilangan dengan cabai lain yang kualitasnya lebih bagus lagi. Bukan persilangan tanaman, melainkan persilangan bibit. Jadilah kemudian cabai yang dihasilkan itu besar dan merah. Sehingga akan meningkatkan nilai jual dari tanaman tersebut,” tuturnya.

Model memperkaya hasil produksi inilah yang kemudian banyak disukai warga. Beberapa di antaranya memang sudah mengikuti kegiatan ini. Dengan hasil yang kemudian sangat bagus sekali, termasuk dari segi harga beli dari pabrikan itu sendiri, membuat metode ini cepat menarik perhatian dari warga. Jika dari bibit yang biasa harganya hanya belasan ribu per kilogramnya, namun dari metode yang dikembangkan tersebut, hasilnya bisa mencapai ratusan ribu per kilogramnya. 

Biji-bijian yang dihasilkan masyarakat itu, kemudian dibeli pabrik dengan harga tinggi. Setelah itu, pabrik akan kembali menjualnya sebagai biji berkualitas bagus kepada konsumen lainnya. Ini adalah metode pemberdayaan yang dilakukan pabrik yang mengkhususkan diri dalam bidang pertanian itu.

”Bahkan, ada beberapa desa yang ada di Kabupaten Kudus, yang kemudian belajar metode ini ke Desa Tempur. Mereka sangat tertarik untuk bisa mengikuti model tersebut. Salah satunya adalah yang dikembangkan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, yang mengembangkan tanaman pare. Sekarang sudah bisa dinikmati hasilnya,” papar Wartoyo, yang juga aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMMI) tersebut.

Sungguh tidak akan habis membicarakan potensi yang ada di Desa Tempur. Namun, potensi itu harusnya bisa terus dikembangkan dengan kreativitas tinggi dari masyarakatnya, sehingga akan membuat seluruh hasil produk-produk dari desa tersebut, akan semakin dikenal.

Tempur bukan hanya desa, juga bukan hanya Candi Angin atau Bubrah. Namun Tempur adalah sebuah tempat, sebuah safara, yang memiliki seribu pesona untuk dijelajah. Selamat menikmati Tempur, hingga akan akan enggan untuk beranjak dari sana. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →