Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Siaga 1 Kebakaran



Reporter:    /  @ 03:21:58  /  8 Oktober 2014

    Print       Email

Petugas pemadam kebakaran tengah menggulung selang air yang digunakan untuk memadamkan kebakaran. Ancaman kekabaran di Pati semakin besar seiring masuknya puncak musim kemarau. (KOMA / Syamsul Falak)

PATI – Ancaman kebakaran di sejumlah daerah di Kabupaten Pati semakin besar, seiring masuknya puncak musim kemarau. Kerawanan kebakaran sudah masuk dalam kategori siaga satu, dan petugas pemadam semakin meningkatkan kewaspadaan.

Dari catatan UPT Pemadam Kebakaran Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pati, selama September lalu, terjadi 14 peristiwa kebakaran. Jumlah itu merupakan yang terbanyak selama 2014.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran Heru Suyanta menyatakan, sejak Januari hingga September terjadi tren kenaikan angka peristiwa kebakaran. Yang paling terbanyak di bulan September, dan kerawanan kebakaran masih terus berlanjut.

Menurut dia, kebakaran hampir merata di seluruh kecamatan. Daerah yang  paling sering mengalami kebakaran yakni di Kecamatan Batangan, Juwana, Jaken, Jakenan, Winong dan Puncakwangi. Sementara daerah lain juga mengalami kebakaran, namun intensitasnya lebih ringan.

”Saat ini sudah sangat rawan kebakaran. Bulan lalu tim kami kebanjiran kerjaan untuk memadamkan api. Dan itu bukan di daerah yang dekat-dekat dengan kota. Semuanya jauh-jauh. Kami harus ekstra kerja keras,” ujar Heru, kepada Koran Muria, Selasa (7/10).

Heru juga mengeluhkan, adanya pihak-pihak yang dengan sengaja membakar lahan tebu, untuk membersihkan daun pascapanen. Kondisi tersebut sering memicu kebakaran, terutama saat kondisi angin besar, sehingga membuat api cepat merembet.

Selain itu, ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang membuang puntung rokok di lahan kering, yang potensial terjadi kebakaran.

”Sering sekali pemilik lahan membakar lahannya, lalu terjadi pembesaran api. Ini salah mereka dan membuat repot kami. Meskipun ini memang tugas kami, akan tetapi mereka juga harus mengerti jika hal tersebut dapat merugikan orang lain juga. untungnya lahan-lahan tebu rata-rata jauh dari pemukiman warga,” terangya.

Ia juga memaparkan selama tahun 2014, sudah terjadi sebanyak 42 kebakaran yang terjadi di seleuruh kecamatan. Pihaknya memprediksi bulan Oktober ini juga akan sering banyak terjadi kebakaran. Karena musim kemarau masih panjang dan belum ada tanda-tanda akan turun hujan. (Wahyu Kristianto / Ali Muntoha)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →