Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Bertapa untuk Mencari Berkah



Reporter:    /  @ 02:39:04  /  8 Oktober 2014

    Print       Email

Bekas-bekas pembakaran kemenyan dan aneka kembang seperti ini, banyak ditemukan di Candi Bubrah dan Candi Angin. Diketahui bahwa memang warga yang memiliki kepentingan tertentu, sering bertapa di atas candi. Mereka berharap keinginan tersebut akan cepat terkabul, jika memanjatkannya di bagian paling atas. (KOMA / Supriyadi)

Satu hal yang cukup menarik perhatian saat berkunjung ke Candi Bubrah maupun Candi Angin di Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, adalah melihat banyaknya sisa-sisa pembakaran kemenyan atau dupa serta bunga di lokasi tersebut.

Ternyata, candi ini memang sering disambangi orang-orang yang berniat untuk bertapa guna mencari berkah. Mereka sengaja datang ke lokasi candi, kemudian semalaman bertapa di sana, dengan menyampaikan niat apa yang diinginkannya. Itu sebabnya, dalam ritual tersebut juga melibatkan kemenyan, kembang, dupa, atau sejenisnya.

”Kalau itu memang sering ada. Banyak yang sengaja datang memang untuk bertapa. Apalagi kalau malam-malam tertentu, seperti satu Suro. Biasanya mereka berangkat sore, kemudian bermalam di atas. Sambil bertapa dengan berbagai maksud dan tujuan,” terang Wartoyo, salah seorang warga Desa Tempur.

Apalagi, di Candi Angin sendiri, juga sudah tersedia sebuah bangunan seperti bedeng. Bangunan dari seng ini, digunakan untuk menampung orang-orang yang malam hari ingin tidur di atas candi. Di dalam bedeng, terlihat papan-papan kayu yang sudah tersusun rapi. Papan kayu itulah yang nantinya digunakan sebagai alas, yang membatasi dengan tanah di bawahnya. Jika mau lebih hangat, biasanya pengunjung yang bermalam, akan menambahkan sendiri alas tidur yang mereka bawa. Misalnya saja tikar.

Ukuran bedeng itu sendiri, lumayan luas. Mampu menampung kurang lebih 20-an orang. Tidak ada pembatas di dalamnya. Jika terpaksa tidur di sana, tentu saja terlebih dahulu harus izin dari juru kunci, maka cukuplah kemudian berjejer satu sama lain. Namun, perbekalan yang dibawa haruslah mencukupi. Jika tidak, maka dari bawah Anda bisa membawa hasil alam untuk kemudian digunakan di atas. Saat dikunjungi, terlihat ada sisa-sisa labu siam yang dibakar. ”Apapun bahan makanan yang ada, pastinya akan sangat enak dinikmati pas di atas gunung begini. Tidak peduli itu hanya labu siam bakar. Yang penting bisa mengganjal perut,” kata Wartoyo.

Cerita mengenai kemistisan Tempur dan segala isinya, juga diceritakan warga lain bernama Mbah Doso. Laki-laki penjual kopi ini mengatakan, bahwa sebelum lumpang batu berisi air ditemukan, sebelumnya seseorang diimpikan terlebih dahulu. ”Waktu itu, dia mimpi disuruh menggali di lokasi tersebut. Karena mimpinya berulang, maka dia penasaran. Akhirnya digali, dan ditemukan lumpang batu yang isinya air tadi,” katanya.

Ada juga cerita bagaimana seseorang yang mengambil sesuatu dari lokasi tersebut, juga bisa terkenda getahnya. Suatu hari, saat diadakan penggalian besar-besaran di lokasi lumpang batu, ada seseorang yang nekat mengambil pecahan batu di sana untuk dibawa pulang. Padahal, orang tersebut sudah diperingatkan sebelumnya, agar tidak membawa apa-apa karena bisa bahaya.

”Tapi, orang tersebut tidak peduli. Dia bawa pulang batunya. Eh, malam harinya dia dimimpikan yang sangat seram dan diminta mengembalikan batu itu ke tempatnya semula. Waktu itu, Subuh dia datang ke tempat saya, dan meminta untuk diantar ke lokasi. Akhirnya saya antarkan dan dikembalikanlah itu batu. Setelah itu aman-aman saja. Meski banyak yang tidak percaya, namun begitulah kenyataannya,” tuturnya.

Cerita-cerita seperti itulah yang banyak menghiasi kawasan Desa Tempur. Ada yang bisa diterima akal sehat, ada juga yang terkadang di luar nalar. Seperti juga cerita yang disampaikan Wartoyo bahwa jika ada seseorang yang berbuat jahat dan bersembunyi di Desa Tempur, maka orang tersebut akan cepat tertangkapnya. ”Ada banyak cerita soal itu masalahnya. Misalnya ada orang yang maling motor kemudian dibawa ke Tempur dengan niat disembunyikan. Eh, tidak lama malah tertangkap aparat. Pokoknya kalau mau berbuat yang tidak baik, jangan sampai datang ke Tempur deh,” katanya.

Kearifan lokal masyarakat Desa Tempur, termasuk dengan cerita rakyatnya, memang masih perlu untuk terus digali. Karena mereka inilah yang kemudian turut menjaga kawasan desa, agar tetap terjaga keasliannya sebagaimana sekarang ini. Karena itu, mari berkunjung ke Desa Tempur. Temukan sendiri bagaimana desa ini, akan menyapa Anda dengan begitu ramah.  (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →