Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Revitalisasi Pendidikan Multikultural



Reporter:    /  @ 02:36:46  /  8 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh :  Abdul Wahab

(Dosen/Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara)

 

Multikultur (ragam budaya) merupakan sunnatullah, seandainya Tuhan berkehendak tentu bisa saja menjadikan umat ini menjadi satu ragam saja, tetapi tidak semacam itu sunnah-Nya berjalan, keragaman justru dipertontonkan sebagai bagaian dari keseimbangan dan kemaslahatan,  keragaman itu justru yang menjadikan sebuah bangsa menjadi besar, seimbang, dan saling menopang. Sepanjang sejarah peradaban, multikulturalisme ini berjalan, dan tentu bersamaan dengan sekian dinamika dan problematikanya, demikian pula wacana mengenai penyikapan terhadap keragaman itu mengalir deras dari berbagai pemikir yang juga multikultur dan multirasio. Sehingga terkadang kita mempertanyakan, apabila multikultural adalah sunnatullah berarti secara otomatis konsekuensi logis yang timbul akibat keragaman itu juga pasti ada dan terjadi? Jawabannya tentu saja ya, karena fenomena dengan akibatnya selalu akan berjalan seiring, tetapi setiap problematika pasti disediakan pula solusi alternatifnya. Sehingga, dalam tulisan ini tidak akan mewacanakan bagaimana menghilangkan keragaman budaya yang telah ada, karena keragaman adalah kekayaan, tetapi bagaimana sekali lagi mensikapi keragaman agar justru membawa maslahat dan keseimbangan dalam proses hidup dan kehidupan.

 

Kita tentu sudah memahami bahwa terjadinya berbagai “gesekan” di masyarakat selama ini tidak pernah terlepas dari “gara-gara” multikultur ini, boleh jadi karena faktor primordialisme, etnosentrisme, serta tidak mau mamahami apalagi menghargai yang lain yang kebetulan berbeda. Dari berbagai studi, terdapat kesimpulan bahwa ternyata, di antara penyebab terjadinya banyak kasus yang disinyalir berbau SARA adalah lemahnya pemahaman dan kesadaran akan perbedaan. Sehingga “gerakan semesta” penyadaran akan kemajemukan menjadi hal yang harus dilakukan secara berkesinambungan, dan salah satu upaya gerakan penyadaran ini adalah dengan merevitalisasi pendidikan multikultural atau memposisikan kembali pendidikan multikultural sebagai bagian paling penting dalam proses kependidikan. 

Pendidikan multikultural sering dimaknai sebagai pendidikan mengenai keragaman budaya dalam masyarakat, atau pendidikan yang menawarkan bentuk-bentuk keragaman dalam masyarakat, atau pendidikan yang menginspirasi peserta didik agar memiliki sikap apresiatif dan menghargai berbagai bentuk keragaman yang ada di masyarakat. Dan di Negara yang plural seperti Indonesia ini, pendidikan multikultural tentu menjadi hal yang tidak dapat ditawar lagi. Pendidikan multikulturalistik yang menginspirasi serta memfasilitasi semua untuk selalu memiliki sikap apresiatif, toleran, dan menghargai berbagai perbedaan etnik, ras, suku, agama, serta yang lain harus menjadi agenda sentral proses pendidikan. hal ini mengingat bahwa pendidikan merupakan “rujukan” perubahan sosial, bahkan “penuntun” dinamika kehidupan, sehingga melalui pendidikanlah berbagai agenda pemahaman, “penyadaran”, dan “perlakuan” dibentuk dan ditransinternalisasikan.  

Implementasi pendidikan multikultural ini tentunya mengharuskan adanya “keadilan” dan “keseimbangan” dalam seluruh dimensi pendidikan, baik yang berkaitan dengan muatan kurikulum, proses pembelajaran, budaya sekolah, bahkan peradaban di luara sekolah (keluarga dan masyarakat). Masing-masing harus turut serta berperan dan berkontribusi dalam “mengkampanyekan” pendidikan multikultural ini. Semua kurikulum yang ada harus memuat kompetensi sosial yang berwujud pada apresiasi dan sikap toleran semua warga belajar terhadap “orang lain” yang kebetulan berbeda, terutama kaum minoritas. Demikian pula dalam proses pembelajaran (baik formal maupun non-formal), semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran harus memposisikan diri secara professional dan proporsional, tanpa harus mendiskriminasi siapapun yang “berbeda” di hadapan mereka, masing-masing memperlakukan yang lain secara adil dan seimbang.

Budaya sekolah juga harus diformulasi sedemikian rupa supaya tidak terjadi benih-benih “pertentangan” budaya, primordialisme dan etnosentrisme tidak boleh diperagakan oleh siapapun dari warga sekolah, mulai dari penyelenggara, pengelola, sampai peserta sekolah masing-masing harus merepresentasikan diri sebagai masyarakat yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kemudian, keberhasilan pendidikan multikultural ini selanjutnya tidak hanya “dibebankan” kepada pihak sekolah saja, tetapi budaya di luar sekolah, baik lingkungan keluarga maupun masyarakat juga harus berperan kuat dan aktif dalam menopang keberhasilan pendidikan multikultural ini, kesadaran dan toleransi terhadap adanya perbedaan merupakan hal yang harus terus-menerus dipertontonkan di masyarakat. Hidup rukun dan damai antarpemeluk agama yang berbeda harus selalu dipraktikkan dalam kehidupan, berdampingan secara harmoni antarpelaku budaya yang berbeda bahkan antaretnis yang tak sama harus selalu diperlihatkan dengan penuh keikhlasan dan tanpa kepura-puraan. Menyebut, menghargai, bahkan menilai “yang lain” bukan atas dasar agama, ras, suku, warna kulit, atau keturunan siapa, tetapi memposisikan mereka secara proporsional karena mereka semua adalah saudara kita yang ibarat satu tubuh, yang mana apabila salah satu anggota tubuh tersakiti, maka yang lain akan merasakan sakit pula. Begitu pula apabila salah satu anggota tubuh mendapatkan kenikmatan, yang lain juga akan ikut merasakan senang. 

Apabila pendidikan multikultural ini berhasil kita revitalisasi dan implementasikan, maka potensi-potensi konflik yang melibatkan SARA tidak akan muncul. Kerukunan, kedamaian, persamaan perlakuan, persatuan, serta keadilan dan keseimbangan sosial pun akan terwujud, bangsa kita menjadi bangsa yang besar dengan berbagai keragamannya yang diakui dan dihargai. Dan tentu kita akan bangga menjadi Indonesia saja, tidak justru membanggakan bangsa lain, apalagi mengimitasikan diri sebagai “orang lain”. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →