Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Mengurai Masalah Air di Muria, Kajian Psikologi Lingkungan



Reporter:    /  @ 20:29:22  /  6 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Said Abdul Muthalib, Mahasiswa Fakultas Psikologi di Universitas Muria Kudus, Aktif di MRC (Muria Research Center) Indonesia

Salah satu yang menarik dalam kajian psikologi lingkungan adalah  tentang  perilaku  territorial. Berkaitan  dengan  teritorial,  Altman  (dalam  Sarwono,  1995)  menggolongkan teritorial sebagai berikut : pertama, teritorial  primer,  yaitu  tempat-tempat  yang  sangat  pribadi  sifatnya  hanya  boleh  dimasuki  oleh  orang-orang  yang  sudah  sangat  akrab  hubungannya atau yang sudah mendapat ijin khusus. Misalnya, rumah  dan ruangan kantor. Kedua, teritorial  sekunder,  yaitu  tempat-tempat  yang  dimiliki  bersama  oleh  sejumlah  orang  yang  sudah  cukup  saling  mengenal.  Misal,  ruang kelas, kantin khusus dikantor.  Tiga, teritorial  publik,  yaitu  tempat-tempat  terbuka  untuk  umum,  dimana  pada  prinsipnya  setiap  orang  diperkenankan  untuk  berada  ditempat itu.  Misalnya,  pusat  perbelanjaan,  tempat  rekreasi,  dan  ruang pengadilan yang dinyatakan terbuka umtuk umum serta penggunaan air di sumber air.
Salah satu pendapat Bell,  dkk  (1996)  bahwa  teritorial  dapat  dipandang  sebagai sebuah rangkaian perilaku dan kognisi individu atau kelompok  yang  menempati  sesuai  jarak  fisik  kepemilikan.  Kepemilikan  disini mengacu  pada  arti  kepemilikan  yang  sebenarnya,  misal,  jika  kamu mempunyai rumah, kamu dapat mengontrol atau membangun sesuai keinginanmu. Teritorial  adalah  suatu  polah  tingkah  laku  yang  ada  hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau kelompok orang  atas  sebuah  tempat  atau  suatu  lokasi  geografis.  Pola  ini mencakup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan  dari luar (Holohan,  1982). Selanjutnya  Fisher  (dalam  Sarwono,1995)  menyatakan  bahwa  kepemilikan  atau  hak  dalam  teritorialitas ditentukan oleh persepsi dari orang-orang yang bersangkutan sendiri. Persepsi itu bisa aktual (memang nyatanya ia benar), tetapi juga bisa  hanya merupakan kehendak untuk menguasai atau mengontrol suatu tempat.

Air sebagai  simbol sumber daya alam dan salah satu sumber kehidupan manusia, air adalah hak asasi manusia, air  merupakan  hajat  hidup  orang  banyak.  Problem  kekurangan  air dapat  menimbulkan  bencana  masyarakat  dan  kelalaian  mengelola air  juga  berakibat  bencana.  Air  juga  merupakan  simbol  masalah lingkungan. Berbeda dengan sumber daya lainnya, air harus tetap menjadi  milik publik dan dikelola oleh masyarakat setempat. Teks-teks kuno  seperti institute of justinian menunjukkan bahwa air dan sumber daya  alam  lainya  merupakan  barang-barang  publik.  Berdasarkan  hukum  alam,  benda-benda ini adalah milik bersama umat manusia. Udara, air yang mengalir, laut, termasuk pantainya. Bahkan Amerika Serikat telah melahirkan banyak orang yang memperjuangkan air sebagai  milik  umum.  Air  merupakan  benda  yang  bergerak,  benda  yang  berpindah-pindah,  harus  tetap  menjadi  milik  umum  berdasarkan hukum alam  (Shiva,2002).
Sebagai hak asasi, hak atas air merupakan hak guna. Artinya  air  boleh  dimanfaatkan  tapi  tidak  bisa  dimiliki.  Orang  berhak  untuk  hidup  dan  berhak  atas  sumber  daya  untuk  kelangsungan hidupnya berdasarkan  hukum  adat atau kebiasaan,  hak  atas  air  telah  diterima sebagai fakta sosial.
Melihat fenomena yang sangat menggelitik di atas membuat penulis berfikir apa para eksploitator tidak memperhitungkan kemaslahatan masyarakat yang semestinya air tersebut adalah kebutuhan orang banyak, namun  mereka mengambil kesempatan dalam hal ini untuk meraup keuntungan secara ekonomi. Dari malpraktek lingkungan ini banyak sekali akibat yang ditimbulkan, contohnya debit air di pegunungan Muria menurun drastis sehingga terlihat pada musim kemarau seperti ini wisata air terjun Montel tidak menarik lagi untuk dikunjungi.
Berdasarkan teori teritorialitas, perdagangan air   merupakan  perwujudan “ego”  seseorang  karena  orang  tidak  ingin diganggu,  atau  dapat  dikatakan  sebagai  perwujudan dari privasi seseorang. Beberapa  indikator terhadap teritorialitas yang mudah  dikenali dalam lingkungan kehidupan sehari‐hari  seperti  pagar  pembatas,  papan  nama,  dan pertandaan lainnya yang mencantumkan  kepemilikan suatu lahan. (Julian Edney dalam  Ramadanta,  2004) 
Solusi yang bisa diambil untuk menjaga sumber dan tata kelola air di kawasan Muria agar bisa menjadi warisan anak cucu di kemudian hari, salah satunya adalah ‘rembug desa’ yang mana dari semua elemen-elemen yang ada di desa berkumpul menyatukan persepsi dan memberikan ‘urun rembug’ untuk menjaga sumber air sebagaimana mestinya. Dari pihak pemerintah pun sebaiknya bersikap lebih tegas terhadap kasus eksploitasi air ini dan memberikan efek jera pada para eksploitator agar tidak mengulanginya lagi. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →