Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Penentuan UMK di Kudus Molor



Reporter:    /  @ 11:46:22  /  6 Oktober 2014

    Print       Email

KUDUS – Penentuan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kudus 2015 yang seharusnya mengagendakan pertemuan tripartit antara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), dan bupati Kudus, kembali molor. Hingga kemarin, belum diketahui kapan pertemuan itu akan dilaksanakan.
Anggota Dewan Pengupahan Bin Subiyanto mengatakan, seharusnya kemarin memang ada pertemuan antara ketiga pihak tersebut. ”Hari ini (kemarin, red) tidak jadi diadakan pertemuannya. Tapi, kami dari Dewan Pengupahan, akan berupaya menemui bupati Kudus besok (hari ini, red),” terangnya kepada Koran Muria, kemarin (6/10).
Menurutnya, hari ini pihaknya akan menemui bupati Kudus untuk melobi penetapan UMK Kudus 2015 mendatang. Hanya diakui Bin, pihaknya sengaja tidak mengundang Apindo. ”Kami akan berbicara dengan bupati Kudus dulu. Sebab itu sudah menjadi kebutuhan dari kami,” katanya.

Dia mengatakan, dalam pertemuan hari ini, Dewan Pengupahan akan menjelaskan mengenai situasi dan kondisi mengenai perjalanan penentuan UMK Kudus. Termasuk juga akan dilakukan pembahasan rancangan yang sebelumnya diusulkan bupati Kudus mengenai UMK 2015.

”Pada waktu pertemuan Kamis (2/10) lalu, bupati sempat bilang kalau penetapan UMK bisa diilustrasikan naik 20 persen. Jumlah itu merupakan nilai tengah antara pihak Apindo dengan SPSI. Jadi nominal yang ditawarkan dalam kisaran angka yang diusulkan bupati adalah Rp 1.380.000 per bulan,” paparnya.
Menurut dia, pihak SPSI hingga kini belum sepakat dengan usulan dari Apindo yang nominalnya Rp 1,3 juta per bulan. Sebab SPSI masih menginginkan UMK 2015 nanti sebesar Rp 1,486 juta. Atau naik sampai dengan 25 persen. ”Namun kami akan tetap mengupayakan kesepakatan mengenai kenaikan upah tersebut,” katanya.
Di sisi lain, Bupati Kudus H Musthofa mengatakan, pihaknya mendukung adanya kenaikan dari UMK Kudus 2015 nanti. Namun yang lebih penting lagi, dengan naiknya nilai UMK, jangan sampai menghilangkan investor yang tertarik untuk datang di Kudus. Atau kenaikan itu, jangan sampai justru malah membuat investor lari.
”Saya mendukung kenaikan UMK. Namun yang jelas, jangan sampai dengan naiknya UMK akan membuat investor hilang atau tidak mau bergabung lagi. Soalnya, jika investor hilang, maka akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi,” kata Musthofa, kemarin.
Musthofa mengatakan, sebagai kepala daerah, pihaknya tentu menyesuaikan dengan besarnya nilai survei yang didasarkan pada kebutuhan hidup layak (KHL). Sebab survei tersebut dilakukan sesuai dengan proses penentuan UMK 2015. ”Selain itu, kita juga mempertimbangkan dengan adanya inflasi yang terjadi di Kudus,” paparnya.
Dia mengatakan, berbagai aspek menjadi pertimbangan dalam penentuan UMK 2015. Sebab penentuan UMK akan dijadikan patokan pemberian gaji selama setahun. Sehingga dalam melakukan penentuannya, tidak bisa dilakukan dengan gegabah.
Musthofa juga membenarkan mengenai adanya pertemuan yang dilakukan pada Kamis lalu. Saat itu, pihaknya sebagai mediator dari kedua kubu, masih belum mendapatkan kesepakatan. ”Karena itu, daripada terus berlanjut, maka saya meminta supaya semua pihak menyusun kembali UMK Kudus. Sebelum bertemu kembali dalam satu forum,” katanya.
Kedua belah pihak, menurut Musthofa, diharapkan bisa berdiskusi terlebih dahulu, sebelum nantinya bertemu kembali. Semua persoalan yang ada, diharapkan bisa diputuskan dengan sebaik-baiknya. (FAISOL HADI/MERIE)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →