Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Selamat Datang di Desa Kahyangan



Reporter:    /  @ 01:43:21  /  6 Oktober 2014

    Print       Email

Ada satu desa di ujung tertinggi Kabupaten Jepara, yang ternyata menyimpan pesona yang begitu indah. Namanya Desa Tempur, satu desa di bawah wilayah administratif Kecamatan Keling. Desa ini begitu indah oleh pemandangan alamnya yang memesona. Desa ini seolah tersembunyi dari daerah manapun.

Barisan Pegunungan Muria yang berderet, membuat Tempur adalah seorang gadis yang terlindungi di tengah-tengah penjaganya. Baik di kanan kiri, utara selatan, timur dan barat, seluruhnya adalah pegunungan. Menyembunyikan Tempur yang memiliki nilai pesona dan sejarah yang begitu tinggi. Cerita mengenai Tempur inilah yang membuat Koran Muria, pada awal September lalu, menyambangi desa tersebut.

Sepanjang perjalanan menuju desa ini, mata seolah begitu dimanjakan dengan pesona deretan alam yang menyapa ramah, dengan udara sejuk khas pegunungan. Tempur, berjarak kurang lebih 50 kilometer dari pusat Kota Jepara. Perjalanan yang cukup panjang, hampir kurang lebih dua jam dari pusat kota, terbayarkan dengan indahnya pemandangan yang disuguhkan desa ini. 

Desa Tempur selain bisa ditempuh dari pertigaan Desa Jlegong, Kecamatan Keling, ke selatan dengan medan jalan berliku, juga bisa dicapai melalui Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati. Jalannya juga sama berlikunya, namun tetap bisa ditempuh dengan aneka kendaraan.

Menurut cerita warga setempat, desa tersebut dinamakan Tempur, terkait erat dengan pegunungan dan sungai-sungai yang ada di sana. Banyaknya gunung dan sungai itu, kemudian bertemu di satu titik yang kemudian menjelma menjadi sebuah desa. Kata ”tempur” memiliki arti ”perang” atau ”pertemuan di satu titik”. Barisan gunungan dan sungai itu, seolah bertemu di satu titik yang kemudian diberi nama Tempur. 

”Karena itulah dinamakan Tempur. Barisan sungai itu bertemu di satu titik, seolah-olah sedang bertempur atau berperang. Dan sungai-sungai itulah yang memberi penghidupan kepada masyarakat Desa Tempur. Dengan kekayaan alam ini, penduduk menggarapnya dengan baik. Sektor pertanian adalah sektor utama yang ada di desa ini,” terang Wartoyo, salah seorang warga asli Desa Tempur, yang menjadi penunjuk arah bagi Koran Muria.

Ya, hasil pertanian adalah yang utama yang ada di Desa Tempur ini. Masyarakat bisa leluasa untuk bercocok tanam, didukung oleh sumber air yang tidak pernah kering sepanjang musim. Melimpahnya sumber air ini, memang dimanfaatkan benar oleh warga Tempur. Beraneka jenis tanaman pangan, ditanam penduduk. Dari sini juga, suplai pangan ke kota-kota besar juga dilakukan.

Areal pertanian yang ditata secara terasering, juga memberikan pemandangan yang memesona kepada siapa saja yang datang ke desa ini. Deretan sawah yang hijau itu, berpadu dengan gemericik suara air sungai yang mengalirinya. Sungai di Tempur, layaknya sungai yang ada di pegunungan, juga dihiasi dengan bebatuan besar dan kecil. Bebatuan inilah yang menahan arus air kala debitnya sedang melimpah. 

Kondisi jalan ke Desa Tempur, memang belumlah terbilang bagus secara keseluruhan. Setelah melewati jalan besar yang beraspal mulus, perjalanan harus dilanjutkan dengan kondisi jalan yang biasa-biasa saja. Meski beraspal, namun tidaklah semulus jalur besar. Apalagi ketika akan memasuki Desa Tempur itu sendiri.

Jalur yang naik turun, memang harus membuat pengendara kendaraan waspada. Belum lagi arus simpangan dengan kendaraan lain. Hanya saja, sejauh ini jalur jalan ke arah desa tersebut, bisa dibilang masih layak digunakan. Wajar jika kemudian jalannya ada yang mulus, ada juga yang berlubang kanan kiri. Namun tidak akan sampai mengganggu suasana perjalanan itu sendiri. Namun yakinlah bahwa setelah menempuh perjalanan yang panjang itu, semuanya akan terbayar lunas dengan indahnya pemandangan Desa Tempur.

Keramahan penduduk Desa Tempur, juga sudah terasa saat memasuki wilayah ini. Jangan heran atau kaget ketika Anda sedang berhenti di tengah, tiba-tiba saja ada petani yang menyodorkan hasil pertaniannya kepada Anda dan memberikannya cuma-cuma. Semuanya diberikan secara ikhlas oleh mereka, sebagai bentuk bagaimana rasa syukur atas limpahan hasil pertanian yang diberikan oleh yang Maha Kuasa.

”Orang Tempur percaya bahwa semakin banyak memberi kepada orang lain dengan ikhlas, maka semakin banyak juga rejeki yang akan diberikan kembali oleh Tuhan. Karena itu jangan kaget kalau kemudian tiba-tiba saja diberi sesuatu meski baru saja kenal atau ketemu. Yakinlah bahwa semua itu diberikan dengan ikhlas,” kata Yati, salah seorang perempuan warga Tempur, yang rumahnya sempat disinggahi Koran Muria.

Demikian juga sebaliknya. Orang Tempur percaya bahwa ketika seseorang menerima pemberian itu dengan ikhlas, maka rejekinya juga akan melimpah pula. Karena itulah, pantang bagi seseorang untuk menolak pemberian yang diberikan warga Tempur tersebut. ”Kami ini hanya ingin berbagi dengan orang banyak. Biar rejekinya juga lancar. Makanya kalau Anda berkunjung dari satu rumah penduduk ke rumah yang lain, pasti ditawari sesuatu. Entah itu makan atau apalah. Dan mohon jangan ditolak, karena sama dengan menolak pemberian Yang Maha Kuasa. Nanti kalau ditolak malah bisa menutup pintu rejeki. Baik tuan rumah maupun tamunya,” tutur perempuan berputra dua tersebut.

Tradisi memberi makan orang lain yang datang berkunjung ke rumah, bisa terlihat saat diadakan acara sedekah bumi, beberapa waktu lalu. Ibu-ibu rumah tangga yang sudah sibuk memasak sejak pagi, memang khusus menyiapkan hari itu seperti hari-hari istimewa yang hanya datang setahun sekali. Makanan begitu berlimpah di rumah. Siapa saja yang datang ke rumah, pastinya disuguhi makan. ”Memang bisa-bisa perutnya jadi buncit kalau habis acara sedekah bumi. Soalnya asal mampir rumah, pasti disediakan dan diminta makan. Dan tidak boleh menolak memang,” katanya.

Sebagaimana desa-desa di Indonesia, tradisi sedekah bumi memang begitu melekat dalam kehidupan masyarakatnya. Ini dilakukan setahun sekali, biasanya setelah panen raya. Sedekah bumi adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME, atas limpahan rejeki yang sudah diberikan sepanjang tahun kepada mereka. Selain menggelar selamatan, biasanya juga diadakan hiburan yang menyesuaikan adat dan kebiasaan masyarakat desa setempat. Sebuah bentuk ketaqwaan di mana masyarakat percaya bahwa hanya Tuhan YME yang mampu memberikan seluruh rejeki yang mereka terima. Dan berharap semoga tahun berikutnya, rejeki yang diberikan juga akan semakin melimpah.

Ketenangan adalah satu kata yang juga bisa Anda dapatkan di Desa Tempur. Rasanya memang begitu damai ketika berada di desa ini. Tidak banyak aktivitas yang membuat warga harus berlalu lalang di jalanan. Kehidupan masyarakatnya memang lebih banyak dihabiskan di areal pertanian yang mereka miliki. Itu sebabnya, suasana tenang terjaga benar di desa ini.

”Memang sebagian besar masyarakat Tempur, waktunya habis di sawah. Letak sawah atau areal pertanian lain yang di atas pegunungan, memang bisa menyita waktunya seharian. Pagi-pagi mereka sudah ke sawah, nanti siangan pulang ke rumah untuk makan siang. Nah, sorenya mereka kembali ke sawah. Baru sekitar Maghrib mereka pulang, istirahat. Begitu seterusnya. Jadi, memang tidak banyak aktivitas lain yang dikerjakan warga selain mengurus areal pertanian atau perkebunan kopi yang dimiliki,” kata Wartoyo.

Sungguh, sebuah desa yang tenang namun menyimpan berjuta keindahan. Layak kalau kemudian desa ini disebut desa kahyangan, dan sangat layak untuk disinggahi jika memang ada satu kesempatan. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →