Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Tempur, Kalingga, dan Ratu Shima



Reporter:    /  @ 01:37:46  /  6 Oktober 2014

    Print       Email

Ada satu cerita yang seolah tidak pernah lepas dari Desa Tempur. Yakni cerita rakyat yang menyebut jika Tempur dulunya adalah salah satu bagian dari Kerajaan Kalingga. Sebuah kerajaan yang dipimpin seorang ratu bernama Shima.

Ratu Shima begitu terkenalnya, karena disebut-sebut sebagai ratu yang begitu tegas dalam menjalankan aturan kerajaannya. Salah satu aturan ketat itu adalah siapa saja yang kemudian terbukti mencuri, maka hukum tidak segan-segan untuk menerapkan sanksi tegas memotong anggota badan.

”Itu juga yang banyak ditanyakan warga sini (Tempur, red), termasuk saya. Apakah benar kemudian dulunya Tempur itu adalah Kerajaan Kalingga itu atau bukan. Soalnya sampai sekarang belum terjawab,” kata Mbah Doso, warga Tempur yang sehari-harinya adalah pemilik warung kopi di salah satu ruas jalan menuju desa tersebut.

Pertanyaan Mbah Doso itu memang wajar. Pasalnya, meski banyak yang menyebut jika kemudian Tempur adalah bekas lokasi Kerajaan Kalingga, namun tidak ada satupun kemudian catatan sejarah yang mengabadikan mengenai hal itu. Belum pernah ada penelitian yang mendetail mengenai di mana tepatnya Kerajaan Kalingga berada.

Satu hal menjadi ”tetenger” dari keberadaan Desa Tempur yang sudah ada sejak dahulu kala adalah bangunan yang biasa disebut candi oleh banyak pihak. Dinamakan Candi Angin dan Candi Bubrah . Dua bangunan candi itu berada di puncak salah satu dari barisan pegunungan yang ada di Tempur. Tentang dua candi ini, akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan berikutnya.

Dua bangunan itu sendiri, juga masih misterius. Pasalnya, sampai saat ini belum ada catatan resmi terkait dengan asal mula candi tersebut. Meski disebutkan jika candi tersebut, dibangun pada abad ke-7 Masehi. Bahkan disebut-sebut lebih tua dari Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 Masehi.

”Saya percayanya bahwa candi-candi itu memang peninggalan dari masa Kerajaan Kalingga. Meski belum ada pernyataan resmi istilahnya soal itu. Tapi, masak dulu orang membangun candi tidak ada tujuannya ataupun tidak ada yang memerintah. Pasti ada. Jadi, saya percaya saja,” kata Mbah Doso kemudian.

Sama dengan Mbah Doso, warga lainnya Wartoyo juga mengaku tidak mengetahui banyak mengenai Kerajaan Kalingga maupun Ratu Shima. Termasuk juga pada abad keberapa sebenarnya candi-candi tersebut dibangun dan dengan tujuan apa.

”Kalau masalah itu memang tidak banyak yang tahu. Bahkan, memang belum tahu sepenuhnya. Sejauh ini, penelitian ataupun hasil penelitian mengenai keberadaan candi-candi itu juga belum ada. Hanya sebatas cerita-cerita saja yang kami dengar, belum sampai pada kesimpulan tertentu,” kata pria yang juga aktivis Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut bercerita.

Candi-candi tersebut, menurut Wartoyo, juga cukup sering dikunjungi warga. Hanya saja, bukan untuk menikmati pemandangan ataupun tertarik melakukan eksplorasi lebih mengenai asal usul candi. ”Kebanyakan yang datang itu adalah untuk bertapa. Mencari berkah katanya. Apalagi kalau malam-malam tertentu, banyak yang datang. Semedi di salah satu candi sambil bermalam di sana,” paparnya.

Menurut Wartoyo, apa yang dilakukan warga desa, terutama karang taruna di desanya, adalah bagaimana bisa semakin memperkenalkan Tempur ke masyarakat luas. Sehingga akan makin banyak yang kemudian tertarik datang ke Desa Tempur dan mengeksplorasi keindahan tersembunyi dari desa tersebut.

Dengan akses jalan yang sudah ada, sejauh ini memang sudah banyak yang datang ke Tempur. Hanya saja, memang masih sebatas menikmati pemandangan yang ada di sana. Ataupun berenang di sepanjang sungai yang memang berair jernih yang memang banyak ada di sana. 

Memang, yang ditawarkan Tempur sejauh ini barulah wisata pemandangan alamnya yang cukup luar biasa. Apalagi jika sore hari, terkadang ada sekumpulan kera yang turun gunung, dalam jumlah yang banyak. Dan itu memang bisa disaksikan dengan mata telanjang, bagaimana kera-kera tersebut bergelayutan di aneka tanaman merambat yang ada. 

”Kalau sore hari cukup banyak kera yang turun, kok. Setelah itu mereka akan kembali ke hutan untuk istirahat. Di belakang warung saya ini juga kerap ada,” kata Mbah Doso, yang memiliki warung dengan posisi yang cukup strategis, tepat di pinggir jembatan besar yang menghubungkan Tempur dengan wilayah lainnya.

Warung Mbah Doso memang sering dijadikan jujukan pengunjung. Setelah mereka puas menikmati pemandangan di Tempur, ketika turun gunung, mereka mampir di warung tersebut. Bahkan, Mbah Doso terbilang kreatif. Karena dia juga membuat satu kolam yang diisinya dengan ikan-ikan seperti gurame, nila, dan sejenisnya. Layaknya sebuah kolam pemancingan, pengunjung yang menginginkan ikan bakar, akan bisa mendapatkannya di sana. Sembari menunggu ikan dibakar, mereka bisa berenang di sungai yang ada.

”Saat Lebaran lalu, banyak sekali yang datang. Mereka katanya penasaran dengan Tempur, makanya datang. Setelah dari sana, mampir di warung saya kemudian membakar ikan. Sampai-sampai pasokan ikan saya sekolam besar itu habis,” paparnya.

Ya, menikmati Tempur memang harus dengan perasaan yang baik. Karena tidak akan banyak hal yang bisa ditemukan di sana, selain memang kekayaan alamnya yang melimpah.  Satu hal yang sudah cukup bisa menentramkan hati. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →