Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Mengurai Masalah Air di Muria, Kajian Psikologi Lingkungan



Reporter:    /  @ 01:35:58  /  6 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Said Abdul Muthalib, Mahasiswa Fakultas Psikologi di Universitas Muria Kudus, Aktif di MRC (Muria Research Center) Indonesia

 

Memasuki bulan kemarau di beberapa wilayah Indonesia sudah mengalami kekeringan. Tidak perlu jauh-jauh, beberapa waktu yang lalu 14 desa di Kendal sudah mengalami kekeringan.Sehingga pemerintah daerah Kendal mendatangkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan air warga. Dampak kemarau panjang yang langsung dirasakan oleh warga adalah ketersediaan air bersih. Selain ketersediaan air bersih, kemarau panjang juga berakibat pada persawahan yang mengakibatkan gagal panen (www.sindonews.com 26 September 2014).

 

Permasalahan air bersih bukan soal yang sepele, namun menyangkut kebutuhan manusia yang cukup vital. Sebut saja aktivitas MCK (mandi, cuci, kakus) membutuhkan air. Selain itu kebutuhan dasar manusia, makan dan minum yang menggunakan air tidak tergantikan. Bisa dibayangkan jika ketersediaan air terancam, mungkin keberlangsungan manusia di bumi juga terancam. Belum lagi kebutuhan air disektor lain, misalnya pertanian, perkebunan, peternakan, ataupun industri. Bisa disimpulkan seluruh aktivitas manusia tidak bisa dilepaskan oleh air. Air bukan lagi menyangkut soal kebutuhan dasar yang bersifat primer, namun ketergantungan manusia terhadap air meluas kepada kebutuhan-kebutuhan lain yang sudah disebutkan tadi. Kesemuanya bersinergi menjadi bagian penting dalam membangun peradaban manusia.

Namun yang menjadi soal adalah di saat musim kemarau, kelangkaan air menjadi masalah yang terus berulang. Kemudian pemerintah mendatangkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.Pertanyaannya, apakah ini sudah menyentuh akar permasalahan? Bagaimana dengan kerusakan lingkungan? Misalnya eksploitasi air di pegunungan Muria? Bukankah ini juga memperparah keberadaan air di musim kemarau? Kondisi ini perlu diperhatikan untuk menemukan akar permasalahannya.

 

Kondisi  Air di Muria

Seperti yang dilansir Kompas, 23 September 2014 yang lalu. Dalam beritanya, Kudus terancam krisis air. Hal ini disebakan eksploitasi secara massif yang berlangsung di Pegunungan Muria. Robert J. Kodatie, ahli hidrologi Universitas Diponegoro yang melakukan riset di Pegunungan Muria mengatakan CAT (Cekungan Air Tanah) yang meliputi kecamatan Gebog, Bae, Dawe dan Kaliwungu terancam kering. Eksploitasi kawasan Pegunungan Muria memang berlangsung sejak lama. Kompas 7 April 2011 mencatat rata-rata 20 truk tangki air berkapasitas 5.000 liter beroperasi di Kecamatan Dawe. Setiap truknya tercatat 5 kali dalam setiap hari mengambil air di PegununganMuria, jika dihitung dalam sehari 5 truk x 5 kali x 5.000 liter = 500.000 liter. Angka yang cukup fantastis dan ‘mengerikan’.  Sebenarnya kawasan Pegunungan Muria telah ditetapkan sebagai CAT melalui Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011.

Psikologi  sebagai  salah  satu  ilmu  yang  mempelajari  tingkah  laku  manusia.  Dalam  konteks  tulisan ini  lebih  fokus  pada  psikologi  lingkungan.  Secara  teoritis,  menurut  para  ahli  psikologi  lingkungan menyatakan  psikologi  lingkungan  adalah  melihat  hubungan  antara  lingkungan  dengan  tingkah  laku  manusia  secara  dua  arah  atau  biasa  disebut dengan ketergantungan ekologis (ecologis independency) dimana  selain  lingkungan  dapat  mempengaruhi  perilaku  manusia,  perilaku  manusia juga dapat mempengaruhi lingkungan (Fisher, dkk. 1996 dalam Khasan, 2013). 

Salah satu yang menarik dalam kajian psikologi lingkungan adalah  tentang  perilaku  territorial. Berkaitan  dengan  teritorial,  Altman  (dalam  Sarwono,  1995)  menggolongkan teritorial sebagai berikut : pertama, teritorial  primer,  yaitu  tempat-tempat  yang  sangat  pribadi  sifatnya  hanya  boleh  dimasuki  oleh  orang-orang  yang  sudah  sangat  akrab  hubungannya atau yang sudah mendapat ijin khusus. Misalnya, rumah  dan ruangan kantor. Kedua, teritorial  sekunder,  yaitu  tempat-tempat  yang  dimiliki  bersama  oleh  sejumlah  orang  yang  sudah  cukup  saling  mengenal.  Misal,  ruang kelas, kantin khusus dikantor.  Tiga, teritorial  publik,  yaitu  tempat-tempat  terbuka  untuk  umum,  dimana  pada  prinsipnya  setiap  orang  diperkenankan  untuk  berada  ditempat itu.  Misalnya,  pusat  perbelanjaan,  tempat  rekreasi,  dan  ruang pengadilan yang dinyatakan terbuka umtuk umum serta penggunaan air di sumber air.

Salah satu pendapat Bell,  dkk  (1996)  bahwa  teritorial  dapat  dipandang  sebagai sebuah rangkaian perilaku dan kognisi individu atau kelompok  yang  menempati  sesuai  jarak  fisik  kepemilikan.  Kepemilikan  disini mengacu  pada  arti  kepemilikan  yang  sebenarnya,  misal,  jika  kamu mempunyai rumah, kamu dapat mengontrol atau membangun sesuai keinginanmu. Teritorial  adalah  suatu  polah  tingkah  laku  yang  ada  hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau kelompok orang  atas  sebuah  tempat  atau  suatu  lokasi  geografis.  Pola  ini mencakup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan  dari luar (Holohan,  1982). Selanjutnya  Fisher  (dalam  Sarwono,1995)  menyatakan  bahwa  kepemilikan  atau  hak  dalam  teritorialitas ditentukan oleh persepsi dari orang-orang yang bersangkutan sendiri. Persepsi itu bisa aktual (memang nyatanya ia benar), tetapi juga bisa  hanya merupakan kehendak untuk menguasai atau mengontrol suatu tempat.

Air sebagai  simbol sumber daya alam dan salah satu sumber kehidupan manusia, air adalah hak asasi manusia, air  merupakan  hajat  hidup  orang  banyak.  Problem  kekurangan  air dapat  menimbulkan  bencana  masyarakat  dan  kelalaian  mengelola air  juga  berakibat  bencana.  Air  juga  merupakan  simbol  masalah lingkungan. Berbeda dengan sumber daya lainnya, air harus tetap menjadi  milik publik dan dikelola oleh masyarakat setempat. Teks-teks kuno  seperti institute of justinian menunjukkan bahwa air dan sumber daya  alam  lainya  merupakan  barang-barang  publik.  Berdasarkan  hukum  alam,  benda-benda ini adalah milik bersama umat manusia. Udara, air yang mengalir, laut, termasuk pantainya. Bahkan Amerika Serikat telah melahirkan banyak orang yang memperjuangkan air sebagai  milik  umum.  Air  merupakan  benda  yang  bergerak,  benda  yang  berpindah-pindah,  harus  tetap  menjadi  milik  umum  berdasarkan hukum alam  (Shiva,2002).

Sebagai hak asasi, hak atas air merupakan hak guna. Artinya  air  boleh  dimanfaatkan  tapi  tidak  bisa  dimiliki.  Orang  berhak  untuk  hidup  dan  berhak  atas  sumber  daya  untuk  kelangsungan hidupnya berdasarkan  hukum  adat atau kebiasaan,  hak  atas  air  telah  diterima sebagai fakta sosial.

Melihat fenomena yang sangat menggelitik di atas membuat penulis berfikir apa para eksploitator tidak memperhitungkan kemaslahatan masyarakat yang semestinya air tersebut adalah kebutuhan orang banyak, namun  mereka mengambil kesempatan dalam hal ini untuk meraup keuntungan secara ekonomi. Dari malpraktek lingkungan ini banyak sekali akibat yang ditimbulkan, contohnya debit air di pegunungan Muria menurun drastis sehingga terlihat pada musim kemarau seperti ini wisata air terjun Montel tidak menarik lagi untuk dikunjungi.

Berdasarkan teori teritorialitas, perdagangan air   merupakan  perwujudan “ego”  seseorang  karena  orang  tidak  ingin diganggu,  atau  dapat  dikatakan  sebagai  perwujudan dari privasi seseorang. Beberapa  indikator terhadap teritorialitas yang mudah  dikenali dalam lingkungan kehidupan sehari‐hari  seperti  pagar  pembatas,  papan  nama,  dan pertandaan lainnya yang mencantumkan  kepemilikan suatu lahan. (Julian Edney dalam  Ramadanta,  2004)  

Solusi yang bisa diambil untuk menjaga sumber dan tata kelola air di kawasan Muria agar bisa menjadi warisan anak cucu di kemudian hari, salah satunya adalah ‘rembug desa’ yang mana dari semua elemen-elemen yang ada di desa berkumpul menyatukan persepsi dan memberikan ‘urun rembug’ untuk menjaga sumber air sebagaimana mestinya. Dari pihak pemerintah pun sebaiknya bersikap lebih tegas terhadap kasus eksploitasi air ini dan memberikan efek jera pada para eksploitator agar tidak mengulanginya lagi. (*) 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →