Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Kerugian Negara Diijon untuk Pilbup



Reporter:    /  @ 02:50:12  /  4 Oktober 2014

    Print       Email

KUDUS – Salah satu tudingan dalam kasus dugaan korupsi dana alokasi khusus (DAK) sarana prasarana pendidikan yang melibatkan mantan Bupati Kudus HM Tamzil adalah, soal praktik ”ijon” proyek untuk pembiayaan pemenangan dirinya menjadi bupati tahun 2003 lalu. 

Hal itu setidaknya disampaikan oleh pelapor kasus ini, Kunarto, melihat bagaimana rentetan kejadian yang ada setelah pemilihan tersebut. ”Jadi, saya menduga bahwa ada sejumlah penyandang dana yang terlibat dalam pencalonan Tamzil menjadi bupati kala itu. Mereka inilah yang kemudian menikmati proyek-proyek besar yang ada di Kabupaten Kudus setelah Tamzil menjadi bupati,” tuturnya.

Ada empat kontraktor yang disinyalir ada di belakang Tamzil saat mencalonkan diri sebagai bupati. Mereka inilah yang kemudian mendapatkan proyek kakap, tidak lama setelah Tamzil dinyatakan terpilih sebagai bupati Kudus periode 2003-2008. Proyek-proyek yang ditangani keempat kontraktor ini, yang kemudian disebut Kunarto sebagai proyek mercusuar.

”Bagaimana tidak mercusuar, kalau kemudian nilainya lebih dari Rp 211 miliar. Itu dikuasai oleh empat kontraktor tersebut. Mereka inilah yang sering disebut oleh eksekutif sebagai investor yang menanamkan modalnya di Kudus. Padahal, bukan. Mereka adalah murni kontraktor bukan investor,” paparnya.

Biaya politik dalam pencalonan bupati yang besar itulah, yang kemudian dibantu oleh pihak-pihak tersebut. Dengan tentu saja ada ”imbalan” jika kemudian Tamzil benar terpilih jadi bupati. ”Dan benar kan, begitu Tamzil jadi bupati, ada penandatangan empat memorandum of understanding (MoU) dengan empat kontraktor tersebut. Di mana salah satunya adalah CV Gani & Son yang memperoleh proyek dalam pengadaan sarpras pendidikan itu,” tuturnya.

Praktik ”ijon” dari perusahaan yang memenangkan proyek senilai Rp 21,9 miliar tersebut itulah yang kemudian ditengarai digunakan untuk membiayai Tamzil menjadi bupati. Bahkan, dikabarkan jika setiap anggota dewan yang mendukung mantan wakil bupati Semarang itu, menerima uang sebesar Rp 250 juta. Jika yang mendukung Tamzil kala pemilihan yang dilakukan melalui mekanisme DPRD itu adalah 26 orang, tinggal dikalikan saja berapa biaya yang dikeluarkannya.

”Tapi kita harus melihat nanti di persidangan, kepada siapa saja sebenarnya kerugian negara sebesar Rp 2,835 miliar itu mengalir. Terserah Pak Tamzil, Pak Ruslin, dan Pak Abdulgani selaku direktur CV Gani & Son, mau bicara atau tidak. Meski sebenarnya dalam BAP (berita acara pemeriksaan, red) ketiganya, juga sudah bisa diketahui kemana saja arahnya kerugian negara itu. Tapi dilihat saja nanti pas dibuka di persidangan,” paparnya.

Saat pemilihan bupati tahun 2003 lalu, yang mekanismenya dilakukan melalui pemilihan di DPRD Kudus, Tamzil sendiri berpasangan dengan Hj Noor Hani’ah. Sedangkan lawannya adalah H Musthofa (bupati sekarang, red) yang berpasangan dengan H Asyrofi Masyitho.

Pasangan Tamzil-Hani’ah sendiri di atas kertas, kalah dengan pasangan Musthofa-Asyrofi. Pasalnya, Tamzil hanya didukung Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang hanya memiliki 8 kursi di dewan. Sedangkan pasangan Musthofa-Asyrofi didukung Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) yang memiliki 15 kursi di dewan, ditambah 10 kursi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB). Sehingga total menjadi 25 kursi.

Hanya saja, pada saat menjelang pemungutan suara, jumlah dukungan terhadap Tamzil meningkat dari Fraksi Partai Amanat Nasional yang tergabung dengan Partai Keadilan (4 kursi), Fraksi TNI/Polri (5 kursi), dan Fraksi Golkar (3 kursi). Hanya saja, jumlah akhir 20 kursi ini, di atas kertas juga tidak bisa mengalahkan 25 kursi yang dimiliki pasangan Musthofa-Asyrofi.

Namun, di akhir pemilihan yang diadakan pada 11 Juni 2003 tersebut, Tamzil ”mendadak” mendapat limpahan 6 kursi dari kader PDIP yang ”membelot” dengan tidak memilih pasangan Musthofa-Asyrofi, sebagaimana amanat partai. Keenam orang ini, ternyata memilih Tamzil-Hani’ah. ”Enam pembelot ini, tidak mau mencoblos jago yang sudah direkomendasikan partainya, yakni pasangan Musthofa-Asyrofi. Mereka lebih memilih pasangan Tamzil-Hani’ah,” kata mantan wartawan senior Kudus, Edy Supratno, yang menggambarkan jelas bagaimana suasana pemilihan bupati kala itu, dalam bukunya berjudul ”Catatan dari Sebuah Pesta di Pilkda Era Wakil Rakyat”. (Merie)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →