Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Bediang Sapi Kembali Menyengsarakan



Reporter:    /  @ 02:23:03  /  4 Oktober 2014

    Print       Email

PATI – Kecerobohan akibat membakar bediang (jerami) untuk mengusir nyamuk di kandang ternak, kembali memicu musibah. Tiga rumah di RT 5 RW 1 Desa Jakenan, Kecamatan Jakenan, Jumat (3/10) hangus dilalap api. 

Tumpukan jerami itu, terbang ditiup angin hingga menyebabkan rumah yang berderatan itu terbakar. Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi di Desa Sriwedari Kecamatan Jakenan. Bediang sapi membakar rumah dan kandang milik Sarwani (75). Tak hanya menghanguskan rumahnya, Sarwani juga tewas terbakar karena tak berhasil keluar dari rumah.

Sementara dalam peristiwa kebakaran yang terjadi pukul 03.30 WIB, Jumat kemarin itu, tak sampai menimbulkan korban jiwa. Hanya saja pemilik tiga rumah harus menanggung sengsara karena kehilangan rumah, dan menderita kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran DPU Pati Heru Suyanta menjelaskan, berdasarkan keterangan warga, titik api berasal dari rumah Sukawi (47). Api yang semakin membesar akibat tiupan angin itu, kemudian merambat ke dua rumah lainnya yang berada di sebelahnya, yakni rumah milik Samadi (45) dan Yanto (32).

”Rumah milik Sukawi dan Samadi ludes terbakar. Sementara rumah Yanto hanya separuh saja yang terbakar,” katanya, kemarin.

Dari keterangan warga, api dengan cepat membesar, karena pada saat itu angin bertiup cukup kencang. Tim pemadam yang mendapat informasi itu, dalam waktu 15 menit merapat ke lokasi kejadian, dan menerahkan tiga mobil pemadam.

”Saat kami sampai api sudah membesar, dan membakar tiga rumah. Pada pukul 05.15 WIB, api baru bisa kami padamkan,” ujarnya.

Ia menyatakan, kerugian materi yang diderita dalam kebakaran itu diprediksi mencapai Rp 200 juta. Jumlah itu belum termasuk uang sebesar Rp 35 juta milik Sukawi yang juga ikut terbakar.

”Dari kejadian tersebut, kami mengimbau kepada masyarakat agar lebih waspada saat menyalakan api di musim kemarau seperti sekarang ini. Apalagi saat malam hingga pagi hari, tiupan anggin biasanya justru lebih kencang,” imbuhnya. (Syamsul Falak / Ali Muntoha)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →