Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Kekeringan, Sungai Menjadi Lapangan Voli



Reporter:    /  @ 02:04:20  /  4 Oktober 2014

    Print       Email

Kondisi sungai yang melintas di perbatasan Desa Karanganyar dengan Desa Asemrudung, Kecamatan Geyer, kering kerontang sejak beberapa bulan terakhir. Warga memanfaatkan sungai tersebut menjadi lapangan bola voli. (KOMA/Sumarni)

GROBOGAN – Kekeringan yang melanda belasan kecamatan di Kabupaten Grobogan tidak hanya menyebabkan krisis air bersih dan lahan pertanian telantar. Sumber mata air seperti sungai, sumur, dan embung tak lagi berair sejak beberapa bulan terakhir. Bahkan, warga di perbatasan Desa Karanganyar dengan Desa Asemrudung, Kecamatan Geyer, memanfaatkan sungai menjadi lapangan bola voli.

”Sejak beberapa bulan terakhir, sungai ini kering kerontang. Sehingga warga tidak dapat lagi mengaliri lahan pertanian. Karena kondisinya seperti jalan, warga memanfaatkannya untuk lapangan bola voli,” ujar salah seorang warga Desa Asemrudung, Fatoni, kemarin.

Menurut dia,  saat musim hujan air sungai yang membelah dua desa tersebut menjadi andalan masyarakat sekitar untuk mengairi tanaman padi, sayuran, dan palawija. Akibat air sungai tidak lagi mengalir, petani terpaksa mengistirahatkan lahan pertaniannya. Karena jika ditanamai jenis tanaman apapun terancam mati kekeringan.

”Jangankan untuk menyiram tanaman, air untuk kebutuhan minum, mandi, dan mencuci, warga harus mencari ke sumber mata air di kawasan hutan Sungai yang telah kering dan menyerupai lapangan, sehingga oleh anak-anak dijadikan tempat untuk olahraga voli,” terangnya.

Kekeringan tidak hanya melanda puluhan desa di Kecamatan Gayer, namun sejumlah kecamatan juga mengalami kondisi yang sama. Ribuan warga krisis air bersih, bahkan mereka terpaksa berjalan ratusan meter untuk mengambil air di tengah hutan atau sumur yang dibuat di atas permukaan sungai kering yang biasa disebut belik.

Selain itu, para petani juga terpaksa menelantarkan lahan pertaniannya karena saluran irigasi dan sungai telah mengering. Sehingga pelaksanaan musim tanam pertama (MT 1), yang rencananya akan dilaksanakan Oktober ini terpaksa mundur akibat terkendala penyiraman.

Berdasarkan  data Badan Penanggulanggan Bencana Daerah (BPBD),  dari 280 desa yang ada di Grobogan, sebanyak 175 desa yang tersebar di 15 kecamatan mengalami kekeringa. Kondisi kekeringan paling parah di Kecamatan Gabus, Kradenan, Ngaringan, dan Pulokulon. Sedangkan empat  kecamatan yang aman dari ancaman kekeringan yakni, Kecamatan Tergowanu, Klambu, Gubug, dan Godong. 

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono mengatakan, pemkab mengalokasikan anggaran untuk mengatasi kekeringan sebesar Rp 200 juta. Dana tersebut digunakan untuk biaya dropping air bersih kepada warga yang mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang. (Sumarni)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →