Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Membangun Mimpi, Kuliah Sambil Kerja



Reporter:    /  @ 01:51:09  /  4 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh : Maswan

Dosen UNISNU Jepara, Mahasiswa S3 Unnes Semarang

 

Menurut Suparman dalam buku Membina Sikap Mental Wiraswasta, disebutkan; ”Gambaran manusia ideal adalah manusia wiraswasta yang dalam keadaan bagaimanapun daruratnya, akan mempu berdiri di atas kemampuan sendiri, untuk menolong dirinya sendiri, keluar dari kesulitan yang dihadapinya, termasuk menghadapi kemiskinan tanpa bantuan pemerintah. Dan dalam keadaan biasa manusia wiraswasta akan mampu menjadikan dirinya maju dan kaya serta berhasil secara lahir dan batin.”

Untuk dapat melangkah ke tujuan hidup yang layak, maka etos kerja harus dikobarkan terus dalam setiap saat. Seorang pekerja keras akan mampu menghasilkan kemnfaatan pada dirinya, dan mampu mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. Jika etos kerja ini, dilakukan oleh seorang lulusan sekolah menengah yang ingin kuliah, maka akan menghasilkan uang yang dikumpulkan untuk mendaftar di perguruan tinggi. Kita boleh mimpi, untuk kuliah namun harus sambil kerja. Tentu saja ini, kalau kita sebagai orang dari keluarga miskin. Anak orang kaya, tidak dibahas dalam tulisan ini.

 

Untuk mencukupkan keuangan, cari jurusan atau program studi yang paling murah di salah satu perguruan tinggi yang diminati. Yang penting kuliah, mencari tambahan ilmu dan mengubah status kehidupan. 

Dengan ilmu,  dapat mengangkat derajat kehidupan manusia. Apapun disiplin  ilmu yang kita peroleh akan mempengaruhi pola berpikir kita. Jiwa wiraswasta yang sudah dibangun sejak mahasiswa, setelah menjadi sarjana tidak pernah akan tergiur untuk menjadi pegawai negeri sebagai tujuan hidupnya. 

Bagi seorang yang berjiwa wiraswasta enggan menjadi pegawai negeri, karena menganggap pegawai negeri terlampau banyak aturan birokrasi.  Kondisi ini sangat menghambat kreativitas berpikirnya. Bangunan struktur jiwa kewiraswastaan adalah orang yang merdeka dalam pencetusan ide dan gagasan, pekerja keras yang selalu berpikir inovatif untuk dirinya, dan juga untuk orang lain. Aplikasi keilmuan yang dimilikinya, selalu berupaya menciptakan lapangan kerja, tidak mencari pekerjaan.

  Kerja Sambil Kuliah 

Memulai untuk menjadi wiraswastawan, biasanya memang dari desakan kebutuhan ekonomi. Makanya saat ini waktu yang tepat, bagi lulusan SLTA dari keluarga yang ekonomi lemah memulai dari awal untuk memercikkan ide kreatif dalam mencari peluang kerja di kota. Perguruan tinggi mana yang akan dibidik untuk dijadikan tempat belajar. 

Bekerja dan kuliah, menjadi kemasan langkah berpikir dan berbuat. Jangan hanya bekerja untuk menjadi kuli panggul atau kuli angkat junjung terus, yang hanya berbekal ijazah SD, SLTP atau SLTA. Awalnya, jadilah kuli bangunan dan angkat junjung, tetapi berstatus mahasiswa, tidak masalah. Tetapi saat bekerja menjadi kuli, harus juga berpikir bagaimana cara agar dapat bekerja seperti orang yang membayar pekerjaan kita ini.   

Ini bedanya pekerja kasar yang tidak mempunyai ilmu dengan yang mempunyai ilmu. Orang yang cerdas berilmu akan terus selalu berpikir sistem, tidak pernah berhenti mencari pola baru dalam kehidupannya. 

Penulisan artikel ini, mengajak para pembaca untuk mengentaskan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan dengan cara memulai hidup lewat semangat kerja tinggi dan dibarengi dengan sekolah yang tinggi pula. Jika terpaksa setelah lulus, menjadi sarjana dan bekerja di perusahaan dan pemerintah, maka posisi pekerjaan tidak pada lapisan bawah yang hanya diperintah, tetapi berusaha untuk menjadi orang yang mengatur dan memimpin dengan landasan berbagi rasa. Kesempatan ini dapat diwujudkan, apabila memang sejak awal etos kerja yang baik dan profesional dapat dibangun sejak kecil atau sejak remaja waktu masih di sekolah.

Semangat Bekerja   

Sekali lagi, masalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan adalah masalah yang kita miliki saat ini. Jangan tersinggung jika tulisan ini, merendahkan martabat kita yang miskin, bodoh dan terbelakang. Prinsip dasar pola hidup orang miskin, tidaklah merupakan status quo yang terus dipertahankan sampai mati. Keinginan menjadi orang kaya, adalah suatu hal yang dicita-citakan oleh semua orang di belahan dunia ini. Kecuali orang-orang yang hidup dalam dunia tasawuf, kekayaan tidak menjadi tujuan. 

Kita sebagai orang awam yang miskin ini, jika berkeinginan mengentaskan kemiskinan haruslah bekerja keras, untuk mengentaskan kebodohan haruslah sekolah menuntut ilmu, untuk mengentaskan keterbelakangan harus bekerja dan sekolah. Kedua aktifitas ini dijalani secara simultan, dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →