Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Krisis Air, Petani di Wilayah Grobogan Telantarkan Lahan



Reporter:    /  @ 02:52:48  /  3 Oktober 2014

    Print       Email

GROBOGAN – Sejumlah petani di wilayah Grobogan terpakasa menelantarkan lahan pertaniannya sejak beberapa bulan terakhir. Hal itu akibat kekeringan yang melanda 14 kecamatan, sehingga petani kesulitan mendapat air untuk mengolah lahan dan menyiram tanaman. Bahkan, musim tanam pertama (MT 1) yang semestinya dimulai Oktober ini terancam mundur.

Salah seorang petani warga Kecamatan Gabus, Umi (40) mengatakan, pekan kedua Oktober seharusnya ia sudah mulai mengolah lahan  sawahnya seluas sekitar 0,25 hektare. Kemudian measuki pekan ketiga menyebar benih padi. Namun karena hingga pekan pertama Oktober belum juga turun hujan, maka musim tanam akan mundur.

”Mau mengolah sawah airnya dari mana. Sejak beberapa bulan terakhir air irigasi  mengering dan hujan belum turun, sehingga sawah sementara saya telantarkan,” ujarnya kemarin.

Petani lainnya Warno mengatakan, sejak  tiga bulan terakhir membiarkan sawahnya terbengkalai tanpa tanaman padi, palawija, atau sayuran. Kondisi itu karena hingga kini hujan tidak kunjung turun dan sumber-sumber air sudah mengering.

”Kalau nekat mengolah lahan petani malah merugi. Sebab saluran irigasi belum mengalir dan belum musim hujan. Karena apabila membuat sumur sawah, biaya membeli solar untuk mesin penyedot air bisa mencapai ratusan ribu,” terangnya.

Kondisi serupa juga dialami petani warga Kradenan, Rejo mengatakan, sejak sekitar dua bulan terakhir tanaman palawija dan sayuran di desanya kesulitan mendapat air untuk kebutuhan penyiraman. Bahkan tidak sedikit tanaman yang mulai layu akibat kekeringan.

”Kami mengandalkan air irigasi untuk kebutuhan penyiraman. Tetapi ketika kemarau panjang seperti sekarang dan air sungai sudah tidak mengalir, biasanya petani membuat sumur di sekitar sawah. Namun air sumur sawah kurang mencukupi, sehingga tanaman terancam gagal panen akibat kekeringan,” ujarnya.

Menurutnya, tidak sedikit petani yang khawatir dengan kondisi sekarang. Tanaman padi, palawija, sayuran, serta buah-buahan yang seharusnya mulai memasuki masa panen, terancam mati akibat tidak ada air.

Berdasarkan  data Badan Penanggulanggan Bencana Daerah (BPBD),  dari 280 desa yang ada di Grobogan, sebanyak 175 desa yang tersebar di 15 kecamatan mengalami kekeringa. Kondisi kekeringan paling parah di Kecamatan Gabus, Kradenan, Ngaringan, dan Pulokulon. Sedangkan empat  kecamatan yang aman dari ancaman kekeringan yakni, Kecamatan Tergowanu, Klambu, Gubug, dan Godong. 

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono mengatakan, pemkab mengalokasikan anggaran untuk mengatasi kekeringan sebesar Rp 200 juta. Dana tersebut digunakan untuk biaya dropping air bersih kepada warga yang mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang.  (Sumarni)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →