Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Nabi Ibrahim dan Pelajaran Berkurban



Reporter:    /  @ 04:28:21  /  3 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Moh Rosyid, Dosen STAIN Kudus

 

Pada bulan Dzulhijjah/Bulan Besar, muslim yang mampu secara ekonomi diberi kesempatan oleh Allah untuk ibadah kurban (Idul Adha). Disyariatkannya kurban tak hanya sekali seumur hidup, tapi tatkala mampu (bisa jadi tiap tahun). Pengurbanan pengurban sebagai bentuk apresiasi atas anugerah Ilahi yang diwujudkan dalam bentuk peduli lingkungannya. Diharapkan saling menghormati antara si kaya dengan si miskin. Pelaksanan kurban, lazimnya di tempat ibadah atau di rumah masing-masing pengurban. Yang paling utama adalah terjadinya interaksi antar-sesama dengan menyantuni melalui daging kurban. Bila pemberian daging di luar bulan dan tanggal yang ditentukan disebut sodakoh. 

 

Secara etimologi, kata adha bentuk jamak dari kata dhohiyah bermakna hewan kurban, yakni berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Ismail (as-Shoffat:100-111). Idul Adha bermakna kebahagiaan umat Islam dimanifestasikan dengan menyembelih hewan kurban yang didistribusikan dagingnya untuk lingkungannya sebagai tanda patuh perintah Tuhan (al-Kautsar: 1 dan 2) atau kebahagiaan umat Islam yang mampu menunaikan ibadah haji. Al-Kautsar 1-2 “Sungguh kami (Allah) telah memberimu (manusia) nikmat yang meruah, dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Hukum berkurban menurut mayoritas (jumhur) ulama adalah sunah muakkadah (sunah yang dikokohkan, maksudnya pahalanya hampir sama dengan wajib). Menurut Imam Abu Hanifah, berkurban tak sunah tapi wajib bagi yang mampu ekonominya. Jenis hewan kurban, pesan surat al-Haj: 34 “Tiap umat kami (Allah) diberi tuntunan berkurban agar mengingat Allah atas rizki yang dilimpahkan-Nya berupa hewan ternak (unta, sapi, kerbau, kambing, domba/bahiimatul an’am). 

Bila berkurban seekor sapi minimal umur 2 tahun, unta atau kerbau maksimal untuk 7 pengurban, bila seekor kambing untuk 1 pengurban. Bila kambing jawa berumur minimal 1 tahun. Hewan yang dikurbankan dalam kondisi tidak buta, pincang, kurus, dan sakit, tapi gemuk dan lincah, bernafsu makan, lubang mulut, mata, hidung, telinga dan anus normal. Penyembelihan hewan kurban selama 4 hari, tanggal 10 hingga hari tasyrik (11-13 Dzulhijah). Takbir pada bulan haji selama 4 hari 5 malam (sejak bakdal subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga Ashar (hari tasyrik, 13 Dzulhijjah). Ibadah kurban berkaitan dengan sejarah nabi terdahulu, Q.s al-Haj:34 “tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya menyebut nama Allah dengan menyembelih ternak”. Kurban dilaksanakan masa Nabi Adam tatkala kedua putranya Qabil dan Habil diperintahkan berkurban sebagai syarat menikah. Perkawinannya silang (Habil dengan Iklima dan Qabil dengan Labuda). Qabil menolak dinikahkan dengan Labuda tapi ingin nikah dengan Iklima karena kurang cantik. Penolakan berbuah pembunuhan perdana di dunia. 

Kurban era Nabi Ibrahim diawali ujian Allah pada Ibrahim yang lama berumah tangga belum dikaruniai anak. Ketika Ibrahim berusia 100 tahun, isterinya (Siti Hajar) melahirkan Ismail. Kecintaan Ibrahim terhadap sang anak yang lama ditunggu kelahirannya diuji Allah untuk disembelih. Apakah Ibrahim mencintai anak sehingga tak taat (tak mau menyembelih)? Ibrahim tetap taat perintah-Nya. Ketaatan Ibrahim oleh Allah mengganti Ismail dengan seekor domba untuk disembelih Ibrahim (Q.s Shaffat: 102-105). Bagi umat Nabi SAW, kurban diperintahkan pada orang yang mampu, Q.s al-Kautsar: 1-2 “Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak maka salatlah karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. Dengan demikian, kurban masa Nabi Adam karena persyaratan menikah putranya. Kurban masa Ibrahim sebagai ujian sejauhmana kecintaan Ibrahim terhadap anak yang lama ditunggu kelahirannya atau tetap taat perintah Tuhannya. Kurban pada umat Nabi SAW sebagai ungkapan syukur atas karunia Ilahi.  

Salah Tafsir Praktik Kurban

Pelaksanaan kurban perlu dievaluasi, pertama anggapan bahwa kurban hanya sekali selama hidup, yang benar kurban setiap kali bagi orang yang mampu di bulan yang ditentukan. Kedua, yang didistribusikan sebaiknya berupa hidangan siap saji (daging dimasak) karena bila pemberian daging hanya hitungan ons (sedikit) si penerima lebih praktis tanpa memasaknya. Ketiga, penyembelihan dan pendistribusian dapat dilakukan si pemilik, tak ada keharusan diserahkan pada panitia kurban atau pada ulama setempat. Keempat, bagi yang berkurban dihalalkan menikmati daging kurban kecuali yang bernadzar. Kelima, hewan yang disembelih tak harus pejantan, boleh betina, terutama yang sudah tak produktif asal tak sedang bunting atau tak menyusui. 

Kelima perbedaan pendapat tersebut karena berada pada wilayah pemahaman/pemaknaan. Kata kuncinya lebih mengutamakan aspek manfaat (maslahat) daripada memberatkan pelaku atau penerima kurban. Keenam, menurut Imam Abu Hanifah, kulit hewan kurban boleh dijual, hasil penjualannya disedekahkan pada fakir-miskin. Pengurbanpun boleh mengonsumsinya. Ketujuh, panitia kurban yang menerima hewan kurban dalam jumlah banyak, seyogyanya profesional dalam pengelolaan. Jangan sampai terulang lagi sebagaimana tewasnya Sukiyo 74 tahun warga Rt 003/008 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar Jakarta Pusat saat berdesakan menerima daging kurban di Masjid Istiqlal pada 2013.    

Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim

Peristiwa Idul Adha bernilai pendidikan karakter pada diri Nabi Ibrahim AS untuk umat manusia. Imbas melaksanakan perintah Tuhan dengan kokoh dalam proses mencari kebenaran (agama) sehingga generasinya menjadi nabi. Perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS menjadi tonggak sejarah bagi umat Nabi SAW. Hal ini dibuktikan beberapa syariat Islam ber-i’tibar (merujuk) dari aktivitasnya karena perilaku taat pada Tuhan. Sebagaimana prosesi ibadah haji (sya’i, jumrah,dsb.), kurban, dan khitan. Karakter Ibrahim yang sabar, perawat kakbah, dan proses mencari kebenaran sebuah agama untuk ditauladani (pesan al-An’am:74-83). Konsistensinya berpegang pada ajaran Allah, Ibrahim bergelar kholilullah (kekasih Allah SWT) dan beberapa generasinya menjadi nabi (Q.s: al-Baqarah:136 dan al-An’am:84-87) untuk dikenang abadi sepanjang peradaban oleh tiap generasi, tertuang dalam al-An’am:74 keberanian meluruskan akidah orangtuanya, Aazar: “Layakkah berhala dijadikan sesembahan (Tuhan) padahal itu sesat (wahai ayahku)”. 

Meski si ayah sesat, tetap ia doakan agar Allah mengampuninya (asy-Syuara:86). Al-An’am: 76-79 Tatkala malam menjadi gelap, Ibrahim melihat bintang, dia berkata: inilah (bintang) tuhanku. Tatkala bintang tenggelam, Ibrahim bergumam: Aku tak suka kepada yang tenggelam. Tatkala muncul bulan, Ibrahim berkata: Inilah Tuhanku, tapi tatkala bulan terbenam, Ibrahim makin gusar karena Tuhan hilang. Tatkala matahari terbit, ia berkata: Inilah tuhanku, tapi tatkala matahari terbenam, Ibrahim bimbang karena Tuhan sirna. Atas hidayah-Nya, Ibrahim memercayai agama Hanif yakni mengesakan Tuhan, tidak menyekutukannya (maksud menyekutukan adalah memercayai adanya Tuhan juga meyakini adanya kekuatan lain yang serupa dengan Tuhan). Berkat ketaatannya pada-Nya, Ibrahim dianugerahi generasi yang potensial yakni menjadi nabi, sebagaimana Ismail (al-An’am:84) dan Ishak (surat Ibrahim:39). Lingkungan di mana Ibrahim hidup, menjadi sejahtera hingga kini karena terkabul doanya “Ya Allah, sungguh aku berdomisi dengan keluargaku di lembah yang tandus di dekat rumah-Mu (Baitullah) maka anugerahkanlah sumber kehidupan.

Hikmah bagi yang Taat 

Memahami karakter Nabi Ibrahim bila melaksanakannya akan terpenuhi ciri kebahagiaan, yakni orang yang makin tua dan makin berkurang keserakahannya; orang yang makin kaya meningkat kedermawanannya; orang yang makin tinggi kedudukannya makin rendah hatinya. Al-Ma’arij:19-23 “sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh-kesah dan kikir. Bila ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah dan bila ia mendapat anugerah ia kikir, kecuali orang yang salat dan tetap mengerjakan salat dengan sesungguhnya. (*) 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →