Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

As’ad Said Ali Luncurkan Buku Al-Qaeda



Reporter:    /  @ 02:13:58  /  2 Oktober 2014

    Print       Email

KUDUS – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) As’ad Ali Said meluncurkan buku “Al-Qaeda, Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya”. Buku tersebut merupakan yang keempat yang mengupas tentang terorisme. 

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) asal Kudus itu mengatakan, Al-Qaeda tidak bisa dipandang sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. 

”Mungkin saja demikian bagi negara-negara non-muslim. Namun tidak bagi negara Islam, atau negara yang berpenduduk mayoritas muslim, seperti Indonesia,” katanya.

Dia menjelaskan, Al-Qaeda merupakan sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana, yakni menegakkan Islam dan melindungi kaum Muslim. 

”Kalimat demikian, di telinga masyarakat kita terdengar biasa. Namun karena dilandasi ideologi yang agresif, berubah menjadi perang melawan peradaban, termasuk perang melawan kaum muslimin di luar Al-Qaeda. Oleh karenanya, langkah Al-Qaeda ini lebih banyak mudharat-nya daripada maslahat-nya bagi umat Islam,” tutur As’ad.

Esensi ideologi Al-Qaeda, katanya, adalah jihad dan pembentukan khilafah Islamiyyah adalah sesuatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) sebagai salah satu jenis saja dari jihad. 

”Sedangkan jihad yang lebih besar lagi adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al-Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At-Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati,  khususnya masalah jihad, Al-Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah,” katanya.

Pekan lalu di Jakarta, buku setebal 438 halaman terbitan LP3ES Jakarta tersebut telah dibedah. Buku itu merupakan buku karya keempat As’ad. Yakni setelah Pergolakan di Jantung Tradisi, NU yang Saya Amati (2008), Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Berbangsa (2009), dan Ideologi-ideologi Politik Pasca-Reformasi (2012). (Suwoko)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →