Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Menuju Kudus Kota ”Santri”



Reporter:    /  @ 01:38:51  /  2 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh : Muhamad Mustaqim

Tempat, Tanggal Lahir : Demak, 10 Desember 1983

Dosen Manajemen STAIN Kudus

 

Selain dikenal dengan sebutan Kudus Semarak dan Kota Kretek, Kudus juga dikenal dengan predikat kota santri. Semua kabupaten atau kota boleh saja menamai dirinya dengan sebutan kota santri ini. Namun, ada beberapa indikator yang menguatkan mengapa predikat kota Santri ini ’layak’ disandang oleh Kota Kudus. Dalam sebuah artikel di media ini beberapa waktu lalu, saya pernah menulis beberapa argument tentang prospek Kudus sebagai pusat pendidikan. 

Pertama, secara sosial, Kudus merupakan ”melting pot”, pertemuan manusia dan budaya. Sebagai kota industri khususnya kretek, Kudus menjadi zona berkumpul masyarakat sekitar yang itu bukan hanya dari pribumi Kudus. Beberapa masyarakat sekitar, seperti Demak, Jepara, Pati, Grobogan, dan Rembang banyak yang bekerja dan beraktifitas di Kudus. Hal ini secara sosiologis akan membangun iklim baru yang lebih multikultural. Percampuran budaya ini, pada titik tertentu akan melahirkan akulturasi budaya baru yang akan memperkaya hazanah kebudayaan. Dalam sektor pendidikan, Kudus juga merupakan daerah destinasi pendidikan, di mana banyak pelajar dari berbagai daerah yang belajar dan ”nyantri”di kota ini. 

 

Kedua, secara historis, Kudus memiliki akar geneologi pendidikan, khusunya pendidikan Islam yang luar biasa kuat. Keberadaan dua wali di antara Sembilan ”Walisongo” di Jawa menunjukkan betapa akar dakwah dan pendidikan sudah dimulai sejak lama. Tanpa bermaksud melakukan simplifikasi – menyederhanakan masalah – keberadaan Sunan Kudus dan Sunan Muria diakui atau tidak, memberi bukti ’artefak’ pendidikan yang sudah berlangsung lama. Dalam konteks kini, keberadaan pesantren dalam lembaga pendidikan yang banyak dan unggul menguatkan argumentasi ini. Sehingga menjadikan Kudus sebagai center of excelent pendidikan, mempunyai relevansi historis yang bisa dipertanggung jawabkan.

Ketiga, Kudus didukung oleh sumberdaya yang cukup strategis dan handal. Meskipun secara geografis dan administrasi, Kudus merupakan kabupaten kecil di Jawa Tengah, namun Kudus mempunyai sumber daya yang bisa diandalkan. Sebagai kota Industri, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kudus tidak bisa dianggap remeh. Satu contoh sederhana saja, pendapatan dari cukai rokok yang kemudian di-sharing  dengan Pemerintah pusat dan diturunkan kembali ke daerah dengan konsep Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) itu cukup besar, untuk men-cover beberapa sektor, khususnya pendidikan. 

Keempat, potensi pendidikan yang mewadahi. Keberadaan lembaga pendidikan di Kabupaten Kudus mulai dari tingkat paling dasar, play group sampai perguruan tinggi berbagai fakultas dan jurusan di Kudus ini cukup representatif. Keberadaan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta memberi daya dorong yang kuat, dalam mewujudkan kualitas pendidikan di Kudus. Sebagai laboratorium masyarakat, perguruan tinggi akan memberi produk akademik yang berbanding lurus dengan kebutuhan pendidikan dan masyarakat.

Jalan Hidup Santri

Keempat indikator ini menjadi peneguh eksistensi Kudus sebagai basis santri. Lima abad tampaknya merupakan waktu yang cukup untuk membangun ”kota peradaban” yang berbasis pada nilai-nilai agama islam. Sesuai dengan terminology ”kota” dalam bahasa arab ’madinah’, yang berarti tamaddun, berperadaban. Misi Sunan Kudus sebagai pendiri kota Kudus sangatlah relevan dalam rangka membangun komunitas atau kota yang multicultural. Kota yang terdiri dari berbagai jenis budaya dan keragaman, namun dapat hidup bersama dengan damai. Ajaran toleransi Sunan Kudus, sekali lagi menguatkan misi Islam yang toleran, ditengah gerusan ideologi islam trans-nasional yang berkarakter fundamental dan radikal.

Dan yang tidak kalah penting dari semua itu adalah, bagaimana masyarakat Kudus ini untuk melakukan jalan hidup santri. Jalan hidup santri meniscayakan bahwa masyarakat secara umum itu, mampu mengamalkan ajaran islam (santri) secara baik. Sederhananya kira-kira begini, jika masih ada pemimpin di Kudus ini yang melakukan korupsi, berarti belum menjadi kota Santri. Jika angka kejahatan dan pelanggaran hukum di Kota Kudus ini masih tinggi, maka Kudus belum bisa mendapatkan laqab kota santri. Jika pengangguran dan kemiskinan masih menjadi fenomena umum di Kudus, maka belum menjadi kota santri. Selanjutnya, jika masih saja terjadi konflik dan kekerasan dengan dalih dan atas nama apapun, maka Kudus kota santri masih sebagai impian. 

Untuk menuju kota santri dalam makna yang seperti ini, memanglah tidak mudah. Semua komponen harus terlibat langsung dalam upaya membangun Kudus sebagai kota Santri ini. Dan rasanya pendidikan menjadi media yang paling relevan, dalam rangka membekali masyarakat dengan  nilai-nilai santri. Hingga akhirnya, menjadi kota santri yang sejati, tidak hanya diukur dengan kuantitas jumlah santri-pelajar, sekolah-madrasah, akademi-universitas, namun perilaku masyarakatnya merupakan indikator utama bagaimana konsepsi kota santri ini. Semoga! (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →