Loading...
You are here:  Home  >  Politik & Pemerintahan  >  Artikel ini

Menuju Kudus Kota Industri Kreatif yang Peduli Lingkungan



Reporter:    /  @ 01:34:53  /  2 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Mochamad Widjanarko

Pengajar Psikologi Lingkungan di Universitas Muria Kudus. 

Penulis buku Psikologi Lingkungan: Teori dan Praktek.

Belum lama ini, Kudus merayakan hari jadinya yang ke 465. Wakil Bupati Kudus, H. Abdul Hamid, pada hari Selasa (23/9) mengatakan, ”Dalam semangat gotong royong, bersama berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang dapat membuka lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan, dan meningkatkan perekonomian secara nyata, luas, menyeluruh dan berkeadilan di seluruh Kudus. 

”Dalam hal ini saya sedang menyoroti dan memfokuskan pengembangan UMKM dan industri kreatif”, untuk menumbuhkan dan menguatkan UMKM-UMKM di Kudus yang sangat berpotensi. Sebuah hal yang nyata jika kita mampu mengolah kekayaan potensi alam, pertanian secara luas, termasuk pariwisata, yang berorientasi kepada added value, sehingga mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi melalui UMKM kita. Sehingga menghasilkan produk daerah yang berkualitas dan berdaya saing. ”Kemauan dan kemampuan mewujudkan ini pada gilirannya akan memberikan multiplier effect yang mampu menciptakan lapangan kerja, peningkatan ekonomi masyarakat, sekaligus menambah penghasilan pemerintah daerah dan meningkatkan kesejahteraan dengan lebih baik, demikian penggalan dari amanat Wakil Bupati Kudus.

 

Sejak tanggal 5 Januari Pemerintah Kabupaten Kudus menetapkan sebagai hari pedagang kaki lima (PKL), sejumlah PKL di Kudus terus mengembangkan kreasi untuk menjajakan dagangannya. Penulis mencoba untuk mencermati dan memberikan sumbang saran dalam tulisan ini.  

Hak bekerja, dalam hal ini berjualan merupakan salah satu hak asasi manusia yang perlu dilindungi, tata aturan yang mengikuti seperti barang-barang apa yang boleh diperjual belikan dan tempat lokasi berjualan merupakan salah satu alur dalam berjualan. Seringkali tidak terfikirkan bahwa desain tempat berjualan secara psikologis memberikan dampak yang sangat positif dan negatif dalam berjual beli. Sehingga tidak heran jika pedagang beromzet besar selalu memilih berjualan di lokasi yang strategis di pinggir jalan dan ada di daerah perkotaan. Akibatnya pedagang yang hanya memiliki modal sedikit akan menggunakan trotoar, sebagai salah satu median untuk berjualan. Sehingga menyebabkan pejalan kaki merasa ’dirampas hak’nya dan tersingkirkan.

Perlunya penataan tempat PKl berjualan di lokasi yang strategis, memiliki akses yang bisa diminati pembeli serta memperhatikan faktor lingkungan, seperti pembuangan limbahnya menjadikan salah satu aspek yang harus diperhatikan oleh pemerintah kabupaten Kudus. Selain itu, untuk merubah image negatif bahwa PKl sangat menganggu pemandangan dan berjualan dengan lokasi yang tidak strategis dan barang yang dijualnya ’tidak bersih’ dari kesehatan menjadikan pekerjaan buat PKL untuk merubah segera prasangka yang ada di pemikiran calon konsumen.

Misalnya tidak tersedianya saluran limbah, kemudian air untuk mencuci piring bekas makanan yang dimakan konsumen, serta tidak adanya tempat yang layak untuk duduk santai serta sekali lagi, harga yang pasti alias terdapat menu makanan dan sekaligus harganya. Ini semua untuk menghindari adanya kesan, calon pembeli dari luar kota, yang tidak tahu harga tidak ragu-ragu untuk membeli makanan di PKL dan memberikan kesan yang bertangungjawab akan barang yang dijualnya. Bukankah, jika lidah cocok, pembeli akan datang lagi, menjadi pelanggan?   

Kecuali soal penataan, penulis masih berharap adanya tempat strategis yang berbasis PKL, artinya penataan tempat berjualan itu dirembug bareng dengan PKL-PKL yang ada dan tidak lagi ditentukan ’harus’ oleh pemerintah kabupaten. Penulis meyakini rembug bareng menjadikan PKL-PKL akan merasa memiliki tempat berjualan dan selanjutnya secara psikologis akan mau membenahi dan menata dengan kreatif jualannya, kondisi ini akan berbeda jika pemerintah sudah memakai otoritasnya untuk mengharuskan PKL berjualan di titik A, PKL hanya akan merasa di atur dan tidak di ’uwongke’.

Mendorong industri kreatif yang peduli lingkungan tidak hanya PKL saja tetapi juga meliputi daya kreatif sosial masyarakat, seperti kerajinan khas Kudus seperti batik Kudus dan ornamen menara Kudus dan jajanan khas Kudus. Bisa lebih fokus dalam menggairahkan industri kreatif yang mengarah pada pemilihan bahan-bahan akrab lingkungan, misalnya pembuatan batik Kudus menggunakan warna pewarna alami, pembuatan ornament menara Kudus dengan memakai kertas daur ulang dan jajanan khas Kudus dengan pembungkus yang mudah terurai. Sepertinya akan membuat calon pembeli menjadi tertarik dan secara tidak langsung menumbuhkan perilaku yang peduli lingkungan (eco friendly).

Memang tidak mudah, tetapi perlu dicoba, apalagi dengan penyebaran sosial media sekarang ini, serta peran gerakan lingkungan yang populis akan menjadikan Kudus merupakan salah satu kota yang tercatat sebagai kota  Industri Kreatif yang Peduli Lingkungan.

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →