Loading...
You are here:  Home  >  Sosial  >  Artikel ini

Menyoal Simbolisasi “Haji”



Reporter:    /  @ 01:33:01  /  2 Oktober 2014

    Print       Email

Oleh: Saiful Anwar

Peneliti Muda di Pesantren Darun Iman Taqwa Tahfidz al-Qur’an & Mahasiswa Jurusan Hukum Perdata IAIN Walisongo Semarang

Sebagai rukun islam yang kelima, ibadah haji merupakan salah satu kewajiban bagi setiap orang Islam yang memilki kemampuan untuk menjalankannya, baik dalam hal fisik, mental, maupun biaya. Mampu dari sisi kesehatan, jasmani dan rohani. Artinya seorang muslim memang harus benar-benar dalam keadaan kondisi prima lantaran panjangnya ritual ibadah yang dijalankannya.  

Runtut seperti ketentuan syariat kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (bediam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dengan cukup banyaknya ritual yang harus dilakukan, diharapkan agar memilki ketahanan dan kekuataa fisik yang mumpuni. Selain kesehatan, seorang muslim dituntut mampu dalam hal finansial. Karena memang begitu besar biaya yang harus dikeluarkan dalam rangka menunaikan ibadah haji. 

Apa jadinya apabila ibadah haji diwajibkan pada seluruh lini umat Islam. Maka, sudah pasti akan memberatkan bagi orang yang tidak mampu melaksanakannya. Untuk itu, bagi seseorang yang dapat melaksanakan ibadah haji adalah mereka yang memiliki prestasi tersendiri, karena tidak semua orang dapat melaksanakan ibadah tahunan tersebut.

 

Biasanya, orang-orang yang mampu melaksanakan ibadah haji dianggap sebagai kalangan kaum atas yang memilki kemampuan ekonomi lebih dari cukup. Namun, melihat mahalnya biaya naik haji yang mencapai puluhan juta rupiah sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengalami kesulitan ekonomi tidak mampu menjalankannya. Sisi penghambatnya bagi mereka yang tidak kuat imannya, uang sebanyak itu mungkin lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Meskipun biaya haji kerap naik setiap tahunnya, tetapi tidak menyurutkan niat semangat umat Islam untuk berziarah ke tanah suci. Terbukti, berdasarkan jumlah yang direkrut dari Kementrian Agama tahun 2013 mencapai 168.000 orang, sedangkan pada tahun ini diperkirakan akan meningkat. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa antusias masyarakat Indonesia dalam menunaikan ibadah haji tetap tinggi dan terus meningkat. Namun, sebagian besar merupakan jamaah yang pada tahun-tahun sebelumnya telah melaksanakan ibadah haji. Dengan kata lain, banyak di antara mereka menjadi pelanggan setia dalam menunaikan ibadah haji dengan berangkat lebih dari sekali dalam kurun waktu lima tahunan.

Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa status ekonomi mereka di atas rata-rata dan lebih dari cukup. Dari kelebihannya tersebut, tidak sedikit juga di antara mereka yang terkesan membanggakan status “haji” di depan nama mereka. Bahkan, banyak pula diantara mereka yang telah pulang dari tanah suci ingin disebut dengan panggilan “pak haji” ataupun “bu haji” di lingkungan mereka tinggal. Merupakan hal yang kurang lengkap apabila sebutan nama mereka tidak dibarengi dengan kata “haji”.

Tidak Berguna

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin (baca;riya’) karangan Imam Ghozali telah dijelaskan bahwa perbuatan pamer terhadap sesama itu tidak ada gunanya. Bahkan, bisa mengurangi pahala mereka yang membanggakannya. Prilaku tersebut memang tidak bisa disalahkan apa adanya, karena memang sudah sifat manusia yang selalu ingin mendapatkan pujian dan perhatian dari yang lain, Namun, yang lebih salah adalah mereka yang membangga-banggakan gelar hajinya tanpa mengetahui esensi haji. Seolah-olah mereka dapat melaksanakannya dengan harta dan kemampuannya sendiri. Padahal itu tidak. Telah begitu jelas dalam kaliat talbiyah yang diucapkannya “innal hamda wanni’ mata laka” (segala puji dan nikmat bagimu). Tapi pada kenyataanya, banyak mereka yang masih membanggakan gelarnya dan terkesan sombong setelah melaksanakan ibadah haji.

Tentunya sifat demikian benar-benar akan menuai kesia-siaan dalam hidupnya bagi mereka yang merasa mampu tanpa memiliki rasa syukur terhadap Allah SWT. Memang, pada dasarnya menunaikan ibadah haji bukanlah perkara mudah, diperlukan niat suci dan ketulusan hati yang bersih sebelum melaksanakannya. Haruslah diniatkan bahwa ibadah haji semata-mata karena ingin mendpatkan ridho-Nya.  Walaupun faktanya, banyak diantara mereka yang sebelum berangkat telah berniat untuk membawa bekal harta yang banyak banyak untuk belanja nantinya. Bahkan mereka merasa tidak percaya diri jika tidak membawa apa-apa ketika pulang. Sungguh mereka dalam kesesatan yang nyata. 

Harus diketahui bahwa ibadah haji merupakn ritual ibadah yang sakral dan tidak boleh dibuat main-main, karena jiwa dan raga seseorang yang melaksanakan ibadah haji sepenuhnya akan pasrah berserah diri kepada Allah untuk beribadah kepada-Nya. Tidak boleh sedikitpun ada niatan yang lain kecuali hanya kepada-Nya. Sebab, melihat pengalaman dari mereka yang telah melaksanakan ibadah haji, bahwa setiap niat ataupun kelakuan buruk yang kita lakukan di tanah air akan ditampakkan di tanah haram. Sehingga menjadi bahan introspeksi supaya hati menjadi lebih bersih, dan menjadi pribadi yang lebih baik untuk ke depannya.

Kejadian demikian memang benar adanya. Dan inilah yang disebut dengan haji mabrur, yang dapat memetik hikmah dari perjalanan ke tanah haram. Kemudian menjadi lebih baik (soleh) dan insan yang senantiasa berbuat kebaikan (muslih).

Begitu banyak keutaman dan juga pahala yang dapat diperoleh dari ibadah haji. Dalam kitab Bulughul al-Marom telah dijelaskan. Bahwa Rasulullah bersabda “Dari umrah yang satu ke umrah berikutnya adalah sebagai penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tidaklah ada balasan baginya kecuali al-Jannah (surga)”. 

Selain itu, ketika sesorang meminta ampunan kepada Allah di padang Arafah, maka Allah akan membebaskannya dari segala dosa dan api neraka. Sangat banyak pahala ketika melaksanak ibadah haji. Oleh karena itu, jangan sampai niat suci kita ternodai oleh keinginan dan pebuatan kotor, hedonistis dan juga riya’. Sebab, perbuatan demikan akan menyebabkan ibadah haji yang dilaksanakan menjadi sia-sia dan tiada gunannya di hadapan Allah SWT. dengan kata lain,  akan menjadikan sesorang akan menjadi haji mardud atau ditolak amal ibadahnya. Wallahu a’lam bil al-Showab.(*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Nenek Gantung Diri di Ngembak Grobogan Tewas, Ini Penyebabnya

Selengkapnya →