Menghidupkan Kembali Roh Kota Lama Melalui Karnaval Budaya

Untuk memperingati hari jadi Kota Kudus yang ke 465, di selenggarakan festival  karnaval Budaya (29/9). Pada awalnya acara tersebut akan dilaksanakan tepat pada tanggal 23 Desember lalu, namun diundur menjadi 29 September sesuai dengan instruksi Bupati Kudus.

Sancaka Dwi Supani, Kepala Bidang Pariwisata Kabupaten Kudus menyatakan berbeda dengan tahun 2011, tahun ini karnaval mengusung tema mengembalikan jati diri kota lama. 

”Karnaval budaya kemarin menceritakan kembali pemerintahan kota lama di Kudus, tepatnya di daerah Kudus Kulon. Pemerintah mempunyai inisiatif dengan mengusung tema budaya Kudus, agar masyarakat tak lupa asal muasal mereka tinggal,” ujarnya kepada Koran Muria (29/9). 

Ia menambahkan, banyak yang tak tahu bahwa pemerintahan di Kudus berbentuk Kasunanan selama lebih dari dua abad. Pemerintahan kasunanan dilaksanakan sejak tahun 1549 hingga 1819. Pada masa tersebut pemerintahan dipimpin oleh Sunan Kudus, Ja’far Shodiq. 

Hingga sekarang belum terdapat catatan sejarah maupun bukti lain yang menjelaskan kapan Sunan Kudus wafat. Ia menambahkan, terdapat kemungkinan kepemimpinan Sunan Kudus pernah tergantikan, seperti pemerintahan di kraton Surakarata. 

”Gelar Pakubuwono keraton Surakarta diberikan secara turun temurun. Meskipun orangnya berbeda namun gelarnya tetap sama. Ada kemungkinan, kepemimpinan pada masa Kasunanan juga mengalami hal serupa,” jelasnya.

Dari filosofi yang sistem pemerintahan Kota Lama tersebut, melalui karnaval budaya tak sebatas menyuguhkan hiburan kepada masyarakat tapi juga nilai-nilai edukasi. Masyarakat di ajak kembali belajar sejarah bahwa pada awal berbentuk regency Kudus dipimpin oleh adipati Kanjeng Raden Tumenggung Aryo Patmo Negoro.

Pani mengutarakan, start karnaval budaya  yang berlangsung mulai pukul 14.00 dimulai dari kawasan kota lama di daerah Kudus Kulon, dan berakhir di halaman pendopo kabupaten. Alun-alun kota Kudus sebagai pusat pemerintahan mempunyai nilai sejarah dan budaya.

Dalam acara tersebut sekda Kabupaten Kudus, Noor Yasin  bertugas membawa replika Pusara Sunan Kudus. Dengan konsep Jawa Islami, karnaval melibatkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan sekolah-sekolah di Kudus. (Lina Budiyanti/ Titis Ayu)