Kirab Tampilkan 3 Aspek

Sejumlah peserta berjalan menuju depan panggung utama di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, kemarin. Kirab tersebut merupakan puncak perayaan HUT ke-465 Kudus. (KOMA / Faisol Hadi)

KUDUS – Ribuan peserta kirab budaya memperingati HUT ke-465 Kudus tampil dengan kreasinya, Senin (29/9). Mereka merupakan perwakilan dari sekolah, instansi swasta dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, kirab tersebut melipiuti tiga aspek. Yakni pendidikan, kebudayaan dan juga perluasan lapangan kerja UMKM. Ketiga aspek tersebut masuk dalam satu tema di dalam kirab tersebut.

”Tujuannya mengingat budaya lokal asli Kudus. sebab budaya lokal sudah mulai dilupakan. Dan dengan adanya hal semacam ini, dapat menggugah kembali untuk mengaktifkan bahwa Kudus itu mempunyai banyak budaya,” ujarnya dalam konferensi pers di depan Pendapa Kabupaten Kudus, kemarin.

Menurutnya, kirab bukanlah akhir dari peringatan hari jadi Kudus. Sebab pada 17 Oktober mendatang, masih ada kegiatan pameran UMKM, yang menunjukkan banyaknya UMKM yang terdapat di Kudus. Pameran itu dilaksanakan di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus.

Kabag Human Pemkab Kudus Putut Winanro menjelaskan, jumlah peserta dalam kirab tersebut ada ribuan orang. Dan semuanya sangat antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut. ”Dari desa ada 132, kemudian SKPD terdapat 60. Selain itu ada juga 55 grup dengan 50-60 peserta untuk setiap grupnya,” jelasnya.

Kirab tersebut berlangsung meriah, namun pelaksanaannya molor dari jadwal yang sudah dirancang panitia. Akibatnya sejumlah peserta kirab kecewa karena lama menunggu. Bukan hanya itu saja, setelah tampil dalam kirab, mereka harus kembali kecewa karena dilarang tampil menyuguhkan atraksi di depan panggung utama.

Monica Puspita Sari, seorang peserta kirab dari SMA 2 Bae Kudus mengatakan, untuk mengikutin kirab tersebut dirinya sudah melakukan persiapan selama beberapa kali khusus untuk latihan. Namun saat pelaksanaan, justru atraksi yang seharusnya ditampilkan lebih lama terpotong.

”Saya bersama teman-teman dari SMA 2 Bae datang ke sini sekitar pukul 11 lalu. Soalnya panitianya bilang kalau dimulai pukul 12.00 WIB, namun lebih dari pukul 13.00 WIB, acara baru dimulai. Jadi kami harus menunggu dimulai acara dan juga menunggu nomor urut,” kata Monica.

Menurutnya, peserta lainnya juga merasakan hal yang sama. Sebab dengan banyaknya peserta yang ikut, semakin lama peserta harus menunggu sebelum akhirnya berjalan untuk mengikuti kirab. (Faisol Hadi / Suwoko)