Mengenal Tari Dari Sang Ibu

Riska Wulandhari, wanita kelahiran Jakarta, 22 Januari 1991 ini sudah menekuni tari sejak usia lima tahun. Kecintaannya terhadap dunia tari dikenalkan Sri Muniarti, sang ibu yang juga berprofesi sebagai penari tradisional.

”Saya sangat senang menyaksikan sendra tari, ada ketertarikan untuk mempelajari gerakan gemulai tersebut lebih dalam lagi,” ujarnya kepada Koran Muria (27/9).

Ketertarikan tersebut mendapat dukungan penuh dari sang ibu. Ia menyatakan, saat masih taman kanak-kanak (TK) sudah diajarkan menari oleh ibunya. Saat itu ia masih berdomisili di Semarang. Perkenalannya terhadap dunia tari semakin terasah, setelah ia pindah ke Kudus dan ikut bergabung di Sanggar Tari Puring Asri milik Endang. 

Prestasi pertama, diraihnya pada saat duduk di kelas empat SD. ”Prestasi pertama, saya meraih juara satu pada tahun 1999 untuk lomba tari tradisional tingkat kecamatan kota,” tuturya.

Sejak saat itu, berbagai prestasi banyak diraihnya. Lomba selanjutnya ia mendapat juara dua tari tradisional, tingkat kabupaten. Tak berhenti disitu, pada saat kuliah ia berhasil megantongi juara satu lomba tari tingkat Jateng dan DIY.

Riska mengutarakan, hingga sekarang masih rutin melakukan latihan tari sepekan sekali. Jika menjelang pentas atau lomba tari, ia bisa melakukan latihan setiap hari. 

”Meskipun sudah sering mengikuti pentas dan lomba, latihan lebih intens tetap diperlukan agar hasilnya lebih optimal,” ujarnya. (Lina Budiyanti/ Titis Ayu)