Membangun Jiwa Wiraswasta pada Anak

Oleh :  Maswan, Dosen UNISNU Jepara, Mahasiswa S-3 Unnes

 

Pendidikan yang kita jalani saat ini outputnya, belum dapat menjamin kelangsungan hidup untuk mengatasi persoalan kebutuhan, terutama kebutuhan ekonomi. Konsep pendidikan kita adalah konsep pendidikan semu, yang belum menjamin siap pakai untuk bekerja.  Secara umum lulusan SD, SLTP dan SLTA masih belum mampu menjadi orang yang mandiri di masyarakatnya. 

Untuk mengantisipasi keadaan ini, sebenarnya pendidikan wiraswasta merupakan alternatif penawaran untuk diprogramkan dalam pengembangan kurikulum di tingkat SD, SLTP, SLTA bahkan juga di Perguruan Tinggi (PT). Karena banyak lulusan sekolah seperti lulusan  SLTA dan sarjana yang belum siap pakai untuk bekerja dan bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan setelah terjun di masyarakat. Ironis !

 

Menurut Dr Suparman Sumahamijaya, dalam buku Membina Sikap Mental Wiraswasta, menyatakan bahwa, “pendidikan wiraswasta  adalah pendidikan yang bertujuan untuk menempa bangsa Indonesia sesuai dengan kepribadian  Indonesia yang berdasar Pancasila. Kewiraswastaan bukanlah hanya sekadar entrepreuneur dalam arti pengusaha, akan tetapi titik beratnya terletak pada pembentukan watak maju dan pembinaan mental maju yang dimulai dari usaha mengendalikan diri dan membersihkan diri dari sikap negatif (miskin) untuk membentuk dan mengembangkan sikap mental maju dan berhasil”.

Dalam pembentukan sikap mental maju, maka seseorang harus terus dilatih berpikir, bersikap, bertindak yang dilandasi dorongan kemauan keras. Hal harus disiapkan dalam rangka untuk merubah kehidupannya yang lebih layak sesuai dengan tuntutan zaman. 

Proses pembentukan sikap positif (maju) dan sikap mental mandiri bagi setiap manusia harus dilatih sejak kecil di dalam keluarga. Kebebasan berkreasi dan latihan berpikir cerdas haruslah ditanamkan sejak kecil, sehingga aktifitas tersebut menjadi miliknya dalam kehidupan sehari-harinya. Jiwa wiraswasta harus dipola mulai masa kanak-kanak sampai menjelang dewasa, bisa dilakukan dalam keluarga, sekolah dan di masyarakat.

Untuk mengantarkan anak-anak ke arah itu (jiwa wiraswasta), maka orang tua di rumah, guru di sekolah dan para tokoh masyarakat, dapat melakukan pembimbingan dan pembinaan terhadap mereka. Pembiasaan diri untuk melakukan etos kerja, berdikari dan melakukan pekerjaan yang bersifat produktif, terus harus dipacu. Sebagai orang dewasa, kita berkewajiban untuk mendorong dan memotivasi lewat kata-kata bijak, yang dapat memberi sugesti ke arah kehidupan positif. 

Kata-kata bijak ibarat sebagai sebuah busur yang dilepas yang mengarah pada satu tujuan yang ingin ditembus. Pernyataan-pernyataan dalam bentuk kalimat pendorong  di bawah ini, tampaknya  dapat dijadikan prinsip orang tua atau guru untuk menembus dan membangun jiwa wiraswasta bagi anak-anak. Katakan kepada anak-anak kita; bahwa:  

Pertama; Setiap manusia mempunyai perangkat potensi yang dapat dibina dan dibangun ke arah wiraswasta.

Kedua; Kekuatan wiraswastawan terletak pada ketahanan dan keberanian mentalnya untuk melangkah maju.

Ketiga; Jiwa kewiraswastaan adalah sikap mental berani menanggung resiko apa yang diperbuatnya sendiri.

Keempat; Prinsip hidup wiraswasta adalah: a) Di mana ada kemauan di situ ada jalan, b) Allah (Tuhan) bersama kita, dan kasih sayangNya memberi kekuatan semangat bekerja atau berbuat, c) Hasil dapat diperoleh kalau sudah pernah melakukan pekerjaan dengan penuh kesungguhan, d) Manusia dapat sukses, karena didorong oleh daya kreatif, daya pikir cerdas dan kemauan keras untuk melakukan cipta-karya, e)  Kemiskinan selain kehendak Allah, karena diakibatkan oleh kebodohan dan kemalasannya.

Kelima; Jiwa wiraswasta dapat dibentuk lewat proses pendidikan dengan metode latihan dn latihan terus menerus. Latihan dalam arti yang luas, adalah latihan menemukan ide, latihan berpikir, latihan membaca keadaan, latihan berkarya, latihan memahami orang lain, latihan menghadapi tantangan kehidupan dan latihan-latihan lainnya.

Keenam; Jiwa wiraswasta selalu belajar memahami apa maunya orang hidup dan untuk apa hidup ini.

Ketujuh; Jiwa wiraswasra adalah sikap mental yang  senang belajar dari keberhasilan orang lain, dan ikut mencari celah dan pola lainnya untuk dapat berhasil seperti yang dilakukan orang yang berhasil tersebut.

Kalimat-kalimat di atas, merupakan ajaran bagi kita yang punya kepedulian terhadap jiwa wiraswasta. Sebenarnya yang perlu kita kaji, bukan kalimatnya, tetapi muatan nilai-nilai yang terkandung dalam menggerakkan jiwa dan sikap mental kita untuk berjuang hidup demi kehidupan kita secara mandiri, tanpa bergantung orang lain.

 Jiwa wiraswasta bagi anak, adalah sikap keprihatinan, memiliki pemahaman hidup, menerima ketentuan Tuhan, tetapi tetap mempunyai  etos kerja tinggi dan ingin maju. Sebagai kompensasinya, untuk menutupi ketidakmampuan dan kekurangan orang tuanya, maka anak harus diarahkan agar mampu bangkit ikut berdiri menjadi pilar penyangga keluarga. Jika anak tertanam jiwa wiraswasta sejak dini, tentu pada masanya anak dapat mikul dhuwul, mendhem jero (mengangkat tinggi-tinggi dan menggali dalam-dalam) tentang harkat dan martabat orang tuanya. Tidak hanya sekedar menadah tangan, tanpa memahami apa status pekerjaan dan berapa peghasilan orang tuanya.  (*)