Kades Tambakromo Bantah Kerja Sama dengan PT SMS

Ratusan warga yang didominasi ibu-ibu rumah tangga dari Dukuh Ngerang Desa Tambakromo melakukan orasi di balai desa setempat, Sabtu (27/9). Mereka menolak rencana pendirian pabrik semen di wilayahnya. (KOMA / Syamsul Falak)

PATI – Kepala Desa Tambakromo Suyatno membantah telah menjalin kerja sama dengan PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) selaku pemrakarsa pendirian pabrik semen di Pati. Terkait rencana pendirian pabrik semen, dia menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Termasuk para  pemilik lahan untuk mengambil sikap menolak ataupun menerima tawaran pembebasan lahan.

Terkait unjuk rasa yang dilakukan ratusan warga dengan sebagian besar ibu-ibu di depan Balai Desa Tambakromo, Sabtu (27/9) lalu, Suyanto menilai salah sasaran. Menurutnya, adanya isu sosialisasi sekaligus pembagian CSR dari PT SMS kepada sebagian warga Tambakromo tidak bisa dibuktikan kebenaran sumber informasinya.

”Saat melihat ratusan ibu-ibu mendatangi kantor balai desa. Kami memang sedang melaksanakan rapat koordinasi dengan perangkat desa lainnya terkait pembahasan alokasi dana desa. Sedangkan informasi dari para demonstran, mengira kami sedang membahas sosialisasi rencana pendirian pabrik semen,” kata Suyanto.

Dalam aksi tersebut, perwakilan dari warga juga mendesak  dia untuk menandatangani surat pernyataan penolakan terhadap rencana pendirian pabrik semen. Suyanto tidak menyalahkan warga yang melakukan aksi. 

”Tapi, seharusnya sebelum menuduh harus dibuktikan dulu kebenarannya jadi tidak asal ngomong,” imbuhnya.

Disinggung mengenai pembangunan pabrik semen, Suyanto menjelaskan, urusan menolak atau menerima, sepenuhnya diserahkan kembali kepada masyarakat. Sebab, hak menolak atau menerima sudah menjadi hak setiap warga negara untuk memilih yang menurutnya lebih baik.

”Sedangkan kami sebagai perangkat desa, tidak berhak melakukan intervensi. Hanya saja, wilayah Desa Tambakromo dan sekitarnya di Kecamatan Tambakromo beberapa wilayahnya memang akan terdampak langsung rencana pendirian pabrik semen,” pungkasnya.

Seperti diketahui, ratusan warga Dukuh Ngerang yang didominasi kaum ibu-ibu bercaping,  menggeruduk balai desa Tambakromo pada hari Sabtu (27/9) sekitar pukul 10.30. Selain berorasi, mereka membawa spanduk besar bertuliskan “Tolak Pabrik Semen Harga Mati”. 

Warga juga langsung mendatangi kepala desa Tambakromo untuk membuat surat pernyataan penolakan terkait rencana pendirian pabrik semen di wilayah desa Tambakromo. Bahkan, sebagian massa yang sempat emosi langsung mendesak kepala desa agar membacakan surat pernyataan penolakan pabrik semen yang ditandatangani serta diberi stempel resmi dari pihak pemerintah desa setempat.

Seorang peserta aksi Sudarmi (40) menyatakan, aksinya bersama ibu-ibu lainnya untuk melabrak Balai Desa Tambakromo merupakan sikap tegas menolak rencana pendirian pabrik semen. Selain akan berdampak kerusakan lingkungan, pendirian pabrik semen juga berimbas pada hilangnya mata pencaharian mereka dalam bercocok tanam.

”Jika PT SMS mengadakan sosialisasi dalam bentuk apapun, kami tidak akan menerima serta merespon kegiatan yang mendukung pendirian pabrik semen,” jelasnya. (Syamsul Falak / Sundoyo Hardi)