Percetakan Stop Produksi Buku Kurikulum

KUDUS – Buku Kurikulum 2013 untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga kini belum juga sampai di kantor Pos Kudus. Padahal, buku kurikulum untuk SMP, SMA dan SMK, beberapa buku sudah terdistribusikan.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kudus Hadi Sucipto mengatakan, pihaknya hanya menjadi penyambung sekolah  dan pemerinta provinsi saja. Tugas dinas kabupaten hanya mengkomunikasikan kepada pemerintah provinsi terkait keterlambatan tersebut.
”Ada kabar dari PT Pos, rekanan yang memenangkan tender mencetak buku Kurikulum SD tidak bisa melanjutkan produksi. Pencetakan buku akan dilimpahkan Ke PT Pura Kudus. Namun untuk kebenarannya kami belum tahu,” kata Hadi, kepada Koran Muria, kemarin.
Menurutnya, keterlambatan buku kurikulum diakui berimbas kepada proses belajar mengajar di Sekolah. Hanya saja, proses belajar mengajar tidak dapat ditinggalkan. Sehingga pihak dinas kembali menghimbau kepada sekolah supaya dapat menggunakan buku ajar yang lama dan menggunakan materi dalam CD Kurikulum 2013.

Sebelumnya diberitakan, Hadi menyatakan, sekolah tingkat SD di Kudus yang belum mendapatkan buku kurikulum 2013 dipersilakan menggunakan buku pelajaran lama. Namun buku yang digunakan tersebut harus relevan dengan kurikulum baru tersebut.
”Masing-masing guru tentunya sudah mengetahui isi kurikulum 2013. Sehingga bisa menilai buku pelajaran lama yang dinilai masih relevan dengan isi buku kurikulum terbaru,” ujarnya.
Dia mengatakan, semua kepala sekolah serta guru sudah mengikuti bimbingan teknis soal kurikulum terbaru. Untuk itu, masing-masing kepala sekolah atau guru dipersilakan mencari buku pegangan sesuai kebutuhan sebagai alternatif sementara.
Selain itu, kata Hadi, upaya lainnya yang bisa dilakukan yakni dengan mencetak buku kurikulum terbaru tersebut dari soft copy yang sudah dimiliki masing-masing sekolah. ”Biaya cetaknya, silakan menggunakan dana operasional sekolah (BOS),” tuturnya.
Menurut Hadi, agar tidak terlalu mengeluarkan biaya yang terlalu besar halaman buku kurikulum terbaru tersebut, cukup dicetak sesuai kebutuhan, bukan seluruhnya. Terkait hal itu, pihaknya segera membuat surat edaran agar kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berjalan seperti biasa. (FAISOL HADI / SUWOKO)