Karena Tidak Ada yang Melindungi

KUDUS – Bendahara (non-APBD) pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Nor Kasihan akhirnya angkat bicara seputar kasus yang membelit dirinya. Dia mengaku jika selama ini sudah terdzalimi dan dibiarkan terjun bebas.
Nor Kasihan mengaku akhirnya mau berbicara, setelah mendengar jika dirinya diadukan ke Polres Kudus terkait dengan dugaan penyalahgunaan wewenang, dalam pencairan dana bantuan bencana yang diberikan Tohir Foundation untuk korban bencana longsor di Kabupaten Kudus, awal tahun 2014 kemarin.
”Uang itu masih ada sama saya. Tidak kemana-mana. Tidak saya makan, karena kalau saya melakukan itu, berarti saya makan barang haram. Masih ada sama saya. Dan saya berniat untuk mendatangi kepala BPBD pada Minggu (31/8) untuk melakukan mediasi akan hal ini. Tapi malah sudah diadukan ke polisi,” terangnya kepada Koran Muria, kemarin (29/8).
Sebagaimana diketahui, Nor Kasihan adalah bendahara (non-APBD) BPBD Kudus. Dia adalah satu dari tiga tersangka pada kasus dugaan korupsi pengadaan logistik bencana tahun anggaran 2012, yang sampai saat ini masih ditangani pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus.

Menurut keterangan dari Kepala BPBD Kudus Jumadi, Nor Kasihan sebenarnya tidak lagi menjabat sebagai bendahara sejak awal 2014 lalu. Jabatan bendahara dipegangnya sepanjang Januari-Desember 2013. Pada awal 2014, dia kemudian digantikan oleh pegawai lainnya. Namun oleh BPBD, dia masih diposkan sebagai bendahara non-APBD. Di mana salah satunya adalah mengurus penerimaan bantuan dari pihak-pihak yang bersimpati pada bencana alam yang melanda Kudus pada awal tahun ini.
Nor Kasihan mengatakan, pihaknya mempertanyakan kenapa kepala BPBD tidak menghubungi dirinya secara langsung untuk membicarakan hal tersebut. Saat disinggung bahwa dirinya sulit dihubungi, baik lewat telepon, pesan singkat, maupun didatangi ke rumahnya, dia dengan tegas membantah hal tersebut. ”Saya tidak pernah mendapat telepon dari siapapun soal itu. Kapan kemudian saya tidak bisa dihubungi. Saya ada di kediaman saya. Nomor telepon saya juga tidak pernah ganti. Masih sama. Rumah saya itu di Kudus. Saya asli putra Kudus. Tidak bakal lari saya. Namun saya akui memang saya tidak masuk kerja karena ada alasan tersendiri untuk itu,” katanya.
Dikatakannya, semenjak dirinya ditetapkan sebagai tersangka, dirinya merasa terdzalimi dan teraniaya. Terutama pada kenyataan bahwa tidak ada atasannya yang kemudian membela dirinya. Inilah yang membuatnya mencari tindakan sendiri. ”Terus terang, saya ingin mencari perhatian. Perhatian dari seluruh atasan saya. Kenapa saya seperti ini, dinyatakan sebagai tersangka, tapi apa pernah atasan saya kemudian membela saya. Tidak pernah sama sekali. Itu sebabnya saya merasa sudah dibunuh karakter saya. Tapi yang paling menyedihkan lagi, saya dibiarkan terjun bebas,” tuturnya.
Nor Kasihan juga menyampaikan jika sampai saat ini, dirinya belum menerima surat penetapan dirinya sebagai tersangka pada kasus yang ditangani Kejari Kudus. Karena itulah, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, Nor Kasihan menegaskan jika dirinya tidak akan tinggal diam lagi atas kasusnya. Termasuk juga akan membuka semua hal yang diketahuinya mengenai dana-dana yang dituduhkan telah digelapkan oleh dirinya.
”Saya sudah bekerja keras demi institusi bernama BPBD. Tapi, sekarang banyak yang kemudian telah mengkhianati saya. Karena itulah saya bertekad, apapun yang terjadi, saya siap untuk membeberkan semuanya. Apa yang saya ketahui, akan saya sampaikan semuanya. Apapun risikonya akan saya tanggung,” tandasnya kemudian.
Jika memang memerlukan audit ulang, Nor Kasihan menegaskan jika dirinya siap menjalaninya. Itu dilakukannya untuk membuktikan jika dirinya tidak melakukan perbuatan sebagaimana yang dituduhkan. ”Silakan saja. Semuanya akan saya hadapi. Sudah terlanjur jauh seperti ini, saya terjun saja sekalian,” imbuhnya. (MERIE)