Lontong Tuyuhan Diburu Karena Melegenda

Melintasi Kabupaten Rembang, belum lengkap rasanya jika tidak menikmati salah satu menu khas Kota Garam tersebut, yakni lontong tuyuhan. Kuliner yang berasal dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur ini dipercaya para pecinta kuliner memiliki cita rasa khas jika disantap langsung di tempat asalnya. 

Sehingga meskipun sudah banyak makanan serupa beredar di daerah lain, namun masyarakat Rembang meyakini bahwa jika tidak dimasak menggunakan air dari Desa Tuyuhan, rasa lezatnya kian terasa. 

Sebutan lontong tuyuhan ini muncul karena masakan itu berasal dari Desa Tuyuhan. Konon, resep lontong ini diwariskan secara turun-temurun dari para leluhur Desa Tuyuhan. Bahkan lontong tuyuhan ini diyakini sudah ada sejak ratusan tahun silam saat penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Bonang di kawasan Kecamatan Pancur.

Menu yang terdiri dari lontong dipadukan dengan opor ayam kampung, menjadikan makanan khas ini layak untuk dicoba. Sajian lontong dari Desa Tuyuhan ini memang mirip dengan lontong opor ayam seperti pada umumnya. Perbedaannya hanya pada kuah tak terlalu kental dan lebih pedas karena rasanya menonjolkan rempah-rempah dan cabe.

Tidak sulit mencari menu satu ini, karena hampir di seluruh daerah Rembang terdapat banyak warung yang menyediakan lontong tuyuhan. Namun, cita rasa dan suasananya khas hanya dapat dijumpai di Pusat Kuliner Lontong Tuyuhan yang berlokasi di pinggir Jalan Raya Lasem-Jape, atau tepatnya di Dukuh Karanglo, Desa Tuyuhan. 

Untuk menikmati cita rasa khas lontong Tuyuhan anda tidak perlu mahal-mahal membayarnya. Dengan uang sebesar Rp 15 ribu anda sudah bisa menikmati satu porsi lontong tuyuhan lengkap dengan ayam kampung dan segelas minuman. Jika anda tergoda dan penasaran datang langsung saja ke Rembang. Pusat kuliner ini memadukan wisata kuliner dan alam pedesaan. 

Selain dapat menyantap lontong tuyuhan, pengunjung juga akan dimanjakan dengan pemandangan desa dan pegunungan Lasem yang masih tidak tercemar oleh polusi udara. Lokasi wisata kuliner itu, terletak sekitar empat kilometer dari Lasem, saat sampai di perempatan kompleks Masjid Agung Lasem, belok ke kanan ke arah selatan menyusuri Jalan Raya Lasem-Pamotan.

Setelah sampai di pertigaan BRI Jolotundo, belok ke kanan ke arah barat menyusuri Jalan Lasem-Jape. Seusai menempuh jarak sekitar tiga kilometer, di sisi kanan jalan terlihat warung-warung permanen yang tertata rapi di sekeliling perkebunan tebu. Atau anda juga bisa mengakses jalan alternatif lain dari pertigaan Clangapan, jalan Desa Tireman-Jape. Saat sampai di perempatan Jape, belok ke kiri. Saat menempuh jarak sekitar dua kilometer anda pasti akan menemukan pusat kuliner tersebut.  (Ahmad Feri/Sumarni)