Lenthog Tanjung, Tak Kalah Enak Dibanding Soto

Jika pernah berkunjung ke Kudus, pasti pernah melihat warung-warung kecil di tepi jalan dengan penutup kain bertulis Lenthog Tanjung. Makanan khas Kudus ini sangat terkenal bagi pecinta masakan berkuah. Disebut Lenthog Tanjung, karena makanan ini berasal dari sebuah desa di Kudus, yakni Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati.

Lenthog, merupakan sebutan khas untuk makanan berbahan beras yang dibungkus daun pisang. Masakan ini, dilengkapi sayur gori dan kuah santan, lengkap dengan tahu iris. Makanan ini lazim disebut lontong, di sejumlah daerah lain, selain di Kudus. Ciri khas Lenthog Tanjung, yakni sajiannya yang simpel di atas piring dengan ukuran cukup kecil. 

Bagi sebagian penjual, piring yang digunakan untuk menyajikan masakan dengan ukuran kecil, bukan tanpa alasan. Kuah santan bagi sebagian orang akan membuat eneg, jika terlalu banyak dikonsumsi. Oleh karenanya, makanan yang disajikannya pun sedikit, di atas piring berukuran kecil.

”Bagi saya yang belum pernah makan lenthog sebelumnya, cukup kaget. Kenapa makanan berat justru disajikan di atas piring yang kecil, yang tentu tidak mengenyangkan. Tapi justru ini yang membuat khas,” ujar Akrom, warga Pekalongan yang baru beberapa bulan tinggal di Kudus. 

Menurutnya, kuah santan yang disajikan lengkap dengan cabai utuh, membuat sensai tersendiri saat dimakan. Rasa pedas yang muncul tiba-tiba, membuat penikmatnya merasakan rasa yang khas. Rasa pedas tersebut, akan terlebur dengan sayur gori dan irisan tahu, yang tentu membuat penikmat makanan ini merasakan kekhasan Lenthog Tanjung.

”Apalagi disantap dengan telur puyuh atau ati ampela yang disajikan. Membuat masakan ini sangat enak,” ujarnya.

Untuk liburan Lebaran kali ini, menurutnya, tak ada salahnya menikmati makanan khas Kudus ini, selain soto yang sudah sangat dikenal. Masakan ini menjadi alternatif yang sebanding, tidak hanya soto, bahkan dengan masakan khas Kudus lain, garang asem. 

Berdasarkan sejarah yang berkembang di masyarakat, dulu ketika Sunan Kudus akan mendirikan masjid untuk berdakwah, beliau mencari sebuah tempat. Sunan Kudus akhirnya menemukan tempat itu di Desa Tanjung. Dan dimulailah pembangunan masjid itu pada malam hari. 

Ketika pembangunan sudah dimulai dan sedang membangun sebuah bak untuk wudlu, Sunan Kudus mendengar ada suara orang melakukan tapen beras untuk dimasak. Karena merasa terganggu, beliau menegur orang tersebut. Sunan Kudus kemudian menghentikan pembuatan bangunan itu dan memberi sabda masyarakat di sekitar bangunan akan bekerja sebagai penjual lenthog. Di mana makanan lenthog tersebut membuatnya mulai dari malam hari. (Suwoko)